
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan bisa mencatat pertumbuhan penjualan, tetapi labanya justru turun. Sebaliknya, perusahaan bisa mencatat laba tetapi mengalami tekanan kas. Untuk memahami kondisi seperti ini, melihat angka penjualan saja tidak cukup. Pembaca perlu melihat laporan keuangan.
Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan. Dari laporan ini, pemilik usaha dapat mengetahui perkembangan bisnis, manajemen dapat mengevaluasi kinerja, sedangkan investor dan kreditur dapat memperoleh informasi untuk menilai perusahaan.
Karena itu, laporan keuangan bukan hanya dokumen yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi. Laporan ini merupakan salah satu sumber informasi utama untuk memahami bagaimana sebuah bisnis menghasilkan pendapatan, menggunakan aset, membiayai kegiatan usaha, dan mengelola kewajibannya.
Lantas, apa yang dimaksud dengan laporan keuangan, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara membuat serta membacanya?
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah penyajian informasi mengenai posisi keuangan suatu entitas pada tanggal tertentu serta kinerja keuangan dan arus kas selama periode tertentu.
Perbedaan waktu ini penting. Laporan posisi keuangan menunjukkan kondisi perusahaan pada suatu tanggal, sedangkan laporan laba rugi dan laporan arus kas menunjukkan informasi selama suatu periode.
Dalam kerangka laporan keuangan lengkap berdasarkan SAK umum, antara lain terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, disertai informasi komparatif serta laporan posisi keuangan awal periode jika dipersyaratkan.
Secara sederhana, laporan keuangan dapat dipahami sebagai ringkasan kondisi bisnis dalam bentuk angka.
Melalui laporan tersebut, pembaca dapat melihat apakah perusahaan menghasilkan laba, berapa besar aset yang dimiliki, berapa kewajibannya, bagaimana struktur modalnya, dan bagaimana kas diperoleh serta digunakan.
Laporan keuangan juga dapat disusun secara berkala, misalnya bulanan, kuartalan, atau tahunan, sesuai kebutuhan pengelolaan bisnis serta ketentuan pelaporan yang berlaku.
Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kinerja entitas yang bermanfaat bagi pengguna, termasuk penyedia sumber daya seperti investor dan kreditur. Laporan keuangan juga berkaitan dengan pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Mengetahui Posisi Keuangan Perusahaan
Laporan posisi keuangan menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
Dengan informasi tersebut, perusahaan dapat mengetahui sumber daya yang dimiliki dan kewajiban yang harus dipenuhi.
Menilai Kinerja Perusahaan
Laporan laba rugi menunjukkan pendapatan dan beban selama suatu periode.
Dari laporan tersebut, perusahaan dapat mengetahui apakah aktivitas usaha menghasilkan laba atau mengalami rugi.
Membantu Pengambilan Keputusan
Informasi keuangan dapat menjadi salah satu dasar ketika perusahaan memutuskan untuk menambah modal, membeli aset, melakukan ekspansi, mengurangi biaya, atau mencari pendanaan.
Informasi mengenai aset, utang, dan arus kas dapat membantu menilai kemampuan perusahaan membayar kewajibannya.
Menjadi Dasar Evaluasi dan Perencanaan
Dengan membandingkan laporan keuangan antarperiode, perusahaan dapat melihat perubahan pendapatan, biaya, laba, aset, utang, dan kas.
Fungsi dan Manfaat Laporan Keuangan
Laporan keuangan memiliki fungsi yang berbeda bagi setiap pengguna.
Bagi pemilik usaha, laporan keuangan membantu menjawab pertanyaan mendasar: apakah bisnis menghasilkan laba dan bagaimana kondisi aset serta kewajibannya?
Bagi manajemen, laporan tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi kegiatan operasional, mengendalikan biaya, dan menyusun perencanaan bisnis.
Bagi investor, laporan keuangan menjadi salah satu sumber informasi untuk memahami kinerja serta posisi keuangan perusahaan.
Bagi kreditur, informasi keuangan dapat digunakan untuk memahami kondisi perusahaan dan kemampuan memenuhi kewajiban.
Dengan demikian, laporan keuangan tidak hanya menunjukkan angka, tetapi membantu pengguna memahami bagaimana bisnis berjalan.
Standar Akuntansi yang Mengatur Laporan Keuangan di Indonesia
Penyusunan laporan keuangan tidak selalu menggunakan satu format yang sama untuk semua entitas. Standar akuntansi yang digunakan dapat berbeda bergantung pada karakteristik dan kebutuhan pelaporan suatu entitas.
Salah satu standar yang dirancang untuk entitas mikro, kecil, dan menengah adalah SAK EMKM. Berdasarkan SAK EMKM, laporan keuangan minimum terdiri dari laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan laba rugi selama periode, dan catatan atas laporan keuangan.
Sementara itu, entitas yang menggunakan SAK umum memiliki penyajian dan pengungkapan yang lebih luas.
Karena itu, contoh laporan keuangan sederhana dalam artikel ini ditujukan untuk membantu memahami konsep dan hubungan antarangka, bukan sebagai pengganti standar akuntansi yang berlaku bagi setiap entitas.
Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan
Sebelum membahas jenis laporan keuangan, pembaca perlu memahami beberapa unsur yang sering muncul di dalamnya.
Aset
Aset merupakan sumber daya yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan dan memiliki manfaat ekonomi.
Contohnya adalah kas, piutang, persediaan, kendaraan, mesin, bangunan, dan aset tetap lainnya.
Dalam laporan posisi keuangan, aset dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik dan tingkat likuiditasnya sesuai standar yang digunakan.
Liabilitas
Liabilitas merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain.
Contohnya antara lain utang usaha, pinjaman bank, utang gaji, dan kewajiban lainnya.
Ekuitas
Ekuitas merupakan hak residual atas aset setelah dikurangi seluruh liabilitas.
Secara sederhana:
Ekuitas = Aset – Liabilitas
Pendapatan
Pendapatan merupakan penghasilan yang timbul dari aktivitas usaha atau transaksi lain yang diakui sesuai standar akuntansi yang berlaku.
Beban
Beban merupakan pengorbanan ekonomi yang timbul dalam menjalankan kegiatan usaha atau menghasilkan pendapatan.
Jenis-Jenis Laporan Keuangan Perusahaan
Setiap jenis laporan keuangan memiliki fungsi yang berbeda. Namun, semuanya saling berhubungan.
1. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi menunjukkan pendapatan dan beban selama periode tertentu.
Laporan ini digunakan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan dan apakah perusahaan menghasilkan laba atau rugi.
Untuk perusahaan yang menjual barang, perhitungan biasanya dimulai dari pendapatan dan harga pokok penjualan untuk memperoleh laba kotor.
Secara sederhana: Laba Kotor = Pendapatan – Harga Pokok Penjualan
Kemudian laba kotor dikurangi beban operasional dan komponen lain yang relevan untuk memperoleh laba sebelum pajak.
Dalam contoh tersebut, Rp150 juta merupakan hasil setelah laba kotor Rp400 juta dikurangi beban operasional Rp250 juta.
Namun, laba yang tercatat tidak otomatis berarti perusahaan memiliki kas sebesar jumlah tersebut. Salah satu alasannya adalah penjualan dapat dilakukan secara kredit sehingga pendapatan telah diakui, sementara pembayaran dari pelanggan belum diterima.
2. Laporan Posisi Keuangan atau Neraca
Laporan posisi keuangan, yang juga dikenal sebagai neraca, menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
Hubungan dasarnya adalah Aset = Liabilitas + Ekuitas
Jika total liabilitas perusahaan sebesar Rp400 juta, maka secara sederhana ekuitasnya sebesar Rp600 juta.
Laporan posisi keuangan membantu pembaca melihat bagaimana aset perusahaan dibiayai, baik melalui kewajiban maupun modal.
SAK EMKM juga menetapkan bahwa laporan posisi keuangan menyajikan informasi mengenai aset, liabilitas, dan ekuitas pada akhir periode pelaporan.
3. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu. Arus kas secara umum dibagi menjadi aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Contohnya:
Laporan ini penting karena laba dan kas bukan hal yang sama.
Perusahaan bisa menghasilkan laba tetapi belum menerima seluruh pembayaran dari pelanggan. Sebaliknya, perusahaan dapat menerima kas dari pinjaman atau penjualan aset tanpa transaksi tersebut menjadi pendapatan usaha.
4. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menunjukkan perubahan ekuitas selama suatu periode.
Perubahan dapat berasal dari laba atau rugi, tambahan modal, pembagian dividen, dan transaksi lain yang memengaruhi ekuitas.
Laporan tersebut membantu menjelaskan mengapa nilai ekuitas pada awal dan akhir periode berbeda.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan atau CALK memberikan penjelasan tambahan untuk membantu pengguna memahami laporan keuangan.
Isinya dapat mencakup kebijakan akuntansi serta informasi tambahan dan rincian atas pos tertentu yang material.
Untuk SAK EMKM, IAI mengatur bahwa catatan atas laporan keuangan mencakup pernyataan kepatuhan terhadap SAK EMKM, ikhtisar kebijakan akuntansi, serta informasi tambahan dan rincian pos tertentu yang membantu pengguna memahami laporan keuangan.
Karakteristik Laporan Keuangan yang Baik
Laporan keuangan yang berguna bukan sekadar laporan yang berisi banyak angka. Informasi di dalamnya juga perlu memiliki kualitas yang memungkinkan pengguna menggunakannya untuk mengambil keputusan.
Beberapa karakteristik yang penting antara lain:
Relevan
Informasi harus memiliki nilai bagi pengguna dalam menilai kondisi atau mengambil keputusan.
Merepresentasikan Informasi secara Tepat
Informasi yang disajikan harus menggambarkan transaksi dan kondisi yang sebenarnya secara tepat.
Dapat Dibandingkan
Laporan antarperiode sebaiknya disajikan secara konsisten agar pengguna dapat melihat perubahan kinerja dari waktu ke waktu.
Dapat Diverifikasi
Informasi yang disajikan sebaiknya dapat ditelusuri dan diperiksa berdasarkan data atau bukti yang mendukung.
Tepat Waktu
Informasi yang terlambat disajikan dapat kehilangan sebagian manfaatnya bagi pengguna.
Dapat Dipahami
Informasi perlu disajikan secara jelas sehingga pengguna yang memiliki pengetahuan memadai dapat memahami isi laporan tersebut.
Contoh Laporan Keuangan
Untuk memahami hubungan antar laporan, gunakan ilustrasi sebuah perusahaan fiktif, PT Maju Jaya.
Selama satu tahun, perusahaan memperoleh pendapatan Rp1,2 miliar dan harga pokok penjualan Rp700 juta. Beban operasional mencapai Rp300 juta. Maka contoh sederhananya:
Contoh Laporan Laba Rugi
Untuk ilustrasi posisi keuangan, perusahaan memiliki aset Rp1,5 miliar, liabilitas Rp600 juta, dan ekuitas Rp900 juta.
Contoh Laporan Posisi Keuangan
Ketiganya seimbang karena Rp600 juta + Rp900 juta = Rp1,5 miliar.
Contoh Laporan Arus Kas
Misalnya selama tahun tersebut perusahaan menghasilkan:
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun perusahaan memperoleh laba Rp200 juta, perubahan kas bersih hanya Rp130 juta. Perbedaan ini menunjukkan mengapa laporan laba rugi dan laporan arus kas harus dibaca bersama.
Contoh Laporan Perubahan Ekuitas
Misalnya ekuitas awal perusahaan Rp750 juta, kemudian perusahaan memperoleh laba Rp200 juta dan membagikan dividen Rp50 juta.
Secara sederhana:
Ekuitas akhir = Rp750 juta + Rp200 juta – Rp50 juta = Rp900 juta
Angka tersebut konsisten dengan contoh laporan posisi keuangan sebelumnya.
Contoh-contoh di atas hanya ilustrasi untuk menjelaskan hubungan antar laporan dan bukan format pelaporan resmi untuk tujuan regulator atau audit.
Contoh Laporan Keuangan Berdasarkan Jenis Usaha
Format dan isi laporan keuangan dapat berbeda bergantung pada karakteristik bisnis.
Perusahaan Dagang
Perusahaan dagang membeli dan menjual barang sehingga persediaan dan harga pokok penjualan menjadi bagian penting dalam pencatatan.
Dalam laporan laba rugi, pembaca biasanya perlu memperhatikan hubungan antara penjualan, persediaan, harga pokok penjualan, dan laba kotor.
Perusahaan Jasa
Perusahaan jasa tidak menjual persediaan barang seperti perusahaan dagang. Karena itu, komponen pendapatan dan beban operasional biasanya menjadi perhatian utama.
Contohnya adalah perusahaan konsultan, agensi, firma jasa profesional, dan bisnis jasa lainnya.
Usaha Kecil
Usaha kecil mungkin memiliki transaksi yang lebih sederhana, tetapi tetap perlu mencatat pendapatan, pengeluaran, aset, kewajiban, dan transaksi pemilik secara terpisah.
Untuk entitas yang memenuhi kriteria SAK EMKM, IAI menyediakan standar dengan laporan minimum yang lebih sederhana dibandingkan laporan keuangan lengkap dalam SAK umum.
Cara Membuat Laporan Keuangan Sederhana
Penyusunan laporan keuangan dimulai dari pencatatan transaksi yang rapi.
1. Kumpulkan Bukti Transaksi
Simpan nota, faktur, kuitansi, bukti transfer, rekening koran, dan dokumen transaksi lainnya.
Bukti tersebut menjadi dasar untuk memastikan transaksi yang dicatat dapat ditelusuri.
2. Catat Semua Pemasukan dan Pengeluaran
Catat setiap transaksi yang terjadi, termasuk transaksi kecil yang dilakukan berulang kali.
Pemasukan dapat berasal dari penjualan barang atau jasa, sedangkan pengeluaran dapat berupa pembelian, gaji, sewa, listrik, pemasaran, transportasi, dan biaya lain.
3. Pisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis
Jangan mencampurkan uang pribadi dengan uang usaha.
Untuk usaha yang dikelola perorangan sekalipun, pemisahan rekening dan pencatatan akan memudahkan pemilik mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya.
4. Kelompokkan Transaksi
Kelompokkan transaksi berdasarkan jenisnya, misalnya:
-
pendapatan
-
pembelian
-
gaji
-
sewa
-
listrik dan internet
-
pemasaran
-
transportasi
-
aset
-
utang
Pengelompokan tersebut menjadi dasar untuk menyusun laporan.
5. Catat Persediaan dan Aset
Jika bisnis memiliki persediaan, catat barang masuk dan keluar.
Catat pula aset seperti kendaraan, mesin, komputer, dan peralatan.
6. Hitung Pendapatan dan Beban
Jumlahkan pendapatan dan kelompokkan seluruh beban pada periode yang sesuai.
Tahap ini menjadi dasar penyusunan laporan laba rugi.
7. Susun Laporan Laba Rugi
Masukkan pendapatan, harga pokok penjualan jika ada, beban operasional, serta komponen lain yang relevan.
Hasilnya menunjukkan laba atau rugi pada periode tersebut.
8. Susun Laporan Posisi Keuangan
Kelompokkan aset, liabilitas, dan ekuitas.
Periksa apakah:
Aset = Liabilitas + Ekuitas
Jika tidak seimbang, lakukan penelusuran terhadap transaksi dan saldo yang dicatat.
9. Rekonsiliasi dan Periksa Kembali
Sebelum laporan digunakan, cocokkan saldo kas dengan rekening bank, periksa piutang dan utang, tinjau persediaan, dan pastikan transaksi material telah tercatat.
Tahap pemeriksaan ini penting untuk menemukan kesalahan pencatatan sebelum laporan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Cara Membuat Laporan Keuangan untuk Usaha Kecil
Usaha kecil tidak selalu membutuhkan sistem akuntansi yang kompleks sejak awal. Yang lebih penting adalah memiliki pencatatan yang konsisten dan dapat ditelusuri.
Pemilik usaha dapat memulai menggunakan buku kas atau spreadsheet untuk mencatat transaksi harian. Seiring bertambahnya jumlah transaksi, sistem tersebut dapat dikembangkan menjadi pembukuan yang lebih terstruktur.
Untuk usaha dagang, persediaan dan harga pokok penjualan perlu mendapatkan perhatian khusus.
Untuk usaha jasa, pemilik perlu memastikan pendapatan dan biaya dicatat pada periode yang sesuai.
Sementara itu, transaksi pribadi pemilik sebaiknya tidak dicampur dengan transaksi bisnis.
SAK EMKM sendiri menetapkan laporan minimum berupa laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan untuk entitas yang menerapkan standar tersebut.
Cara Membaca Laporan Keuangan
Membaca laporan keuangan tidak berarti hanya mencari angka laba terbesar.
Pembaca perlu melihat hubungan antarangka dan membandingkannya dengan periode sebelumnya.
Cara Membaca Laporan Laba Rugi
Perhatikan pendapatan, harga pokok penjualan, laba kotor, beban operasional, dan laba.
Misalnya, pendapatan meningkat 20%, tetapi beban operasional meningkat 30%. Kondisi tersebut dapat menyebabkan laba tumbuh lebih lambat atau bahkan menurun.
Cara Membaca Neraca
Perhatikan aset, utang, dan ekuitas.
Peningkatan aset belum tentu berarti kondisi perusahaan semakin baik apabila peningkatan tersebut terutama dibiayai oleh utang yang besar.
Cara Membaca Laporan Arus Kas
Perhatikan terutama arus kas dari aktivitas operasi.
Perusahaan yang mencatat laba tetapi secara konsisten mengalami arus kas operasi negatif perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami penyebabnya.
Bandingkan Antarperiode
Satu periode sering kali tidak cukup.
Bandingkan pendapatan, laba, aset, liabilitas, ekuitas, dan arus kas dengan periode sebelumnya untuk mengetahui arah perubahannya.
Cara Menganalisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan membandingkan angka antarperiode dan menggunakan rasio tertentu.
Pertumbuhan Pendapatan
Rumus sederhananya:
Pertumbuhan Pendapatan = (Pendapatan Periode Berjalan – Pendapatan Periode Sebelumnya) ÷ Pendapatan Periode Sebelumnya × 100%
Rasio ini menunjukkan perubahan pendapatan dari satu periode ke periode berikutnya.
Margin Laba Bersih
Secara sederhana:
Margin Laba Bersih = Laba Bersih ÷ Pendapatan × 100%
Semakin besar persentase tersebut, semakin besar bagian pendapatan yang tersisa sebagai laba bersih, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik industrinya.
Current Ratio
Rasio ini secara sederhana:
Current Ratio = Aset Lancar ÷ Liabilitas Lancar
Rasio tersebut digunakan untuk melihat kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Debt to Equity Ratio
Rumus sederhananya:
Debt to Equity Ratio = Total Liabilitas ÷ Total Ekuitas
Rasio ini memberikan gambaran mengenai struktur pendanaan perusahaan.
Rasio keuangan sebaiknya tidak dibaca secara terpisah. Hasilnya perlu dibandingkan dengan periode sebelumnya, perusahaan sejenis, dan karakteristik industrinya.
Perbedaan Laporan Keuangan dan Pembukuan
Pembukuan dan laporan keuangan saling berhubungan, tetapi bukan hal yang sama.
Pembukuan berfokus pada pencatatan transaksi keuangan. Sementara itu, laporan keuangan merupakan penyajian informasi keuangan yang telah diklasifikasikan dan dirangkum.
Sederhananya, pembukuan merupakan bagian dari proses pencatatan, sedangkan laporan keuangan menyajikan hasil pengolahan informasi tersebut dalam bentuk yang dapat digunakan oleh pengguna.
Karena itu, laporan keuangan yang baik membutuhkan pembukuan yang rapi.
Perbedaan Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan
Laporan keuangan berfokus pada informasi keuangan seperti posisi keuangan, kinerja, arus kas, perubahan ekuitas, dan pengungkapan terkait.
Laporan tahunan memiliki cakupan yang lebih luas. Selain laporan keuangan dan informasi terkait, laporan tahunan dapat memuat profil perusahaan, laporan manajemen, tata kelola, analisis manajemen, serta informasi lain sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, laporan keuangan merupakan bagian penting dari informasi yang dapat disajikan dalam laporan tahunan, tetapi keduanya bukan dokumen yang sama.
Siapa Saja yang Membutuhkan Laporan Keuangan?
Laporan keuangan dapat digunakan oleh berbagai pihak.
Pemilik usaha menggunakannya untuk mengetahui hasil dan kondisi bisnis.
Manajemen menggunakannya untuk mengevaluasi kinerja, mengendalikan biaya, dan menyusun perencanaan.
Investor menggunakannya sebagai salah satu sumber informasi dalam mengevaluasi perusahaan.
Kreditur memanfaatkannya untuk memahami kondisi keuangan dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban.
Pemerintah dan regulator dapat menggunakan informasi keuangan untuk kepentingan yang sesuai dengan ketentuan dan kewenangan masing-masing.
(dag/dag)
Leave a comment