
Jakarta, CNBC Indonesia – Tekanan kembali menyelimuti pasar valuta Asia pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Seluruh mata uang kawasan yang dipantau bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski indeks dolar terpantau relatif stagnan pada pagi ini.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, seluruh sembilan mata uang Asia yang dipantau berada di zona merah.
Peso Filipina mencatat pelemahan paling dalam dengan depresiasi 0,30% ke posisi PHP62,746/US$. Won Korea Selatan menyusul dengan koreksi 0,16% ke KRW1.343,75/US$.
Rupiah turut melemah 0,06% ke level Rp17.905/US$, sementara dolar Singapura terdepresiasi 0,05% ke SGD1,2796/US$. Dong Vietnam turun 0,04% ke VND26.001/US$.
Dolar Taiwan dan baht Thailand masing-masing melemah 0,03% ke TWD31,72/US$ dan THB33,65/US$. Yen Jepang terkoreksi 0,02% ke JPY157,94/US$, sedangkan ringgit Malaysia mencatat pelemahan paling tipis sebesar 0,01% ke MYR4,085/US$.
Di tengah pelemahan serempak mata uang Asia, indeks dolar AS (DXY) terpantau stagnan di level 102,159 pada pukul 09.15 WIB.
Meski bergerak terbatas pada pagi ini, dolar masih bertahan di level tinggi setelah reli kuat dalam beberapa sesi terakhir. Mengutip Reuters, DXY sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan.
Kekuatan greenback masih ditopang oleh tingginya imbal hasil Treasury AS yang pada perdagangan sebelumnya kembali menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade.
Kondisi tersebut menjaga daya tarik aset berbasis dolar, meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Oktober mulai mereda setelah data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Tekanan terhadap euro turut menopang dolar. Mata uang tunggal Eropa bergerak di sekitar US$1,1220, dekat level terendah dalam 17 bulan, setelah tertekan oleh kekhawatiran terhadap tingginya tingkat utang dan kebuntuan politik di Prancis. Pengumuman pemilu lebih awal di Spanyol turut menambah ketidakpastian di kawasan euro.
“Untuk euro bisa menguat, dibutuhkan penurunan besar harga minyak, peningkatan tajam ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Eropa, atau perbaikan dalam pengendalian defisit anggaran,” ujar Joseph Capurso, strategist Commonwealth Bank of Australia, dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, kekuatan dolar tetap bertahan meski pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini. Investor masih menilai bank sentral AS berpotensi perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama karena tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
Data pada Senin menunjukkan aktivitas sektor jasa AS melambat pada September. Namun, permintaan domestik yang tetap kuat masih menekan rantai pasok dan mendorong kenaikan harga input bisnis, sehingga menambah kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan tinggi hingga tahun depan.
(mae/mae)
Leave a comment