Home Finance Fakta-Fakta Wabah Menyebar di Laboratorium Rusia, 189 Orang Dipantau
Finance

Fakta-Fakta Wabah Menyebar di Laboratorium Rusia, 189 Orang Dipantau

Share
Fakta-Fakta Wabah Menyebar di Laboratorium Rusia, 189 Orang Dipantau
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Rusia tengah menjadi pusat perhatian kesehatan publik dunia. Ini setelah seorang pekerja di lembaga penelitian penyakit pes di Siberia dilaporkan meninggal dunia.

Hal ini membuat ratusan orang menjalani pemantauan medis, meski otoritas belum mengonfirmasi secara resmi penyebab kematiannya. Berikut fakta-fakta terkait wabah pes di Rusia, seperti dikutip CNBC Interntional, Selasa (6/10/2026):

Kronologi Kasus di Irkutsk

Seorang pekerja di institut penelitian anti-pes Rusia dilaporkan meninggal setelah mengalami penyakit yang disebut sebagai pes, akhir pekan kemarin. Ini memicu pengawasan terhadap 189 orang di wilayah Irkutsk, Siberia timur.

Namun, penyebab kematian tersebut hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi. Bahkan pengujian laboratorium masih berlangsung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan mengetahui laporan mengenai seorang pekerja laboratorium di Oblast Irkutsk yang meninggal. Namun disebutkan bahwa ini akibat pneumonia parah pada Jumat.

WHO menyebut seluruh kontak pasien telah diidentifikasi dan dipantau. Sementara itu, tambah WHO, tidak ada satu pun yang menunjukkan gejala penyakit.

Di sisi lain, dalam updatenya, badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan pekerja tersebut sebelumnya didiagnosis mengalami “pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui”. Kondisi di Irkutsk dan Shelekhov disebut stabil, dengan sejumlah langkah penanganan telah diberlakukan.

Apa Itu Penyakit Pes?

Pes merupakan infeksi bakteri langka tetapi berpotensi mematikan yang disebabkan Yersinia Pestis. Bakteri ini umumnya hidup pada hewan pengerat dan kutu yang menginfeksi hewan tersebut sementara penyakitnya dapat ditangani dengan antibiotik jika dideteksi dan diobati sejak dini.

Dugaan kasus di Rusia disebut mengarah pada “pes pneumonik”, yakni bentuk penyakit yang menyerang paru-paru. Menurut WHO, kondisi ini dapat muncul setelah bakteri menyebar dari bentuk pes lainnya atau akibat menghirup partikel yang mengandung bakteri.

Profesor London School of Hygiene & Tropical Medicine Brendan Wren mengatakan pes pneumonik menjadi perhatian karena berpotensi menular melalui saluran pernapasan. “Yersinia pestis cukup mudah menular, namun tidak semudah penularan SARS-CoV-2/COVID,” ujarnya.

Risiko Penularan?

Berbeda dengan pes bubonik yang biasanya menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening dan umumnya tidak menular antarmanusia, pes pneumonik dapat menyebar. Terutama melalui droplet atau partikel pernapasan dari penderita.

Wren mengatakan sekitar 2.000 kasus pes masih terjadi setiap tahun dan umumnya dapat ditangani dengan antibiotik standar. Namun, ia memperingatkan munculnya galur bakteri yang resistan terhadap sejumlah antibiotik dapat membatasi pilihan pengobatan jika strain tersebut terlibat dalam kasus di laboratorium.

Rospotrebnadzor menyatakan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan pasien. WHO juga menilai, berdasarkan informasi tidak resmi yang tersedia, risiko kesehatan masyarakat bagi populasi umum saat ini tampaknya rendah, tetapi penilaian tersebut akan diperbarui setelah informasi lebih lanjut tersedia.

(tfa/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *