
Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengaku rupiah masih sangat rentan karena adanya pelarian modal investor asing kembali ke negara asalnya alias capital flight.
Adapun capital flight sendiri merupakan fenomena keluarnya dana atau arus modal secara besar-besaran dari suatu negara menuju negara lain.
Fenomena ini terjadi ketika investor memutuskan untuk menarik investasinya, lalu mentransfernya ke negara lain yang dianggap lebih aman dan stabil.
“Ada potensi capital flight global, di mana mereka (investor asing) mencari aset-aset yang sekiranya buat mereka itu relatif aman. Dalam hal ini, orang yang megang dolar mungkin dianggap mereka masih relatif aman, jadi kita mulai melihat banyak capital outflow dari negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia,” kata Destry dalam program Central Banking CNBC Indonesia, dikutip Jumat (9/10/2026).
Hal inilah yang membuat rupiah tertekan karena adanya fenomena capital flight tersebut. Selain rupiah, fenomena ini juga membuat asing melepas kepemilikannya di surat berharga negara (SBN), sehingga instrumen tersebut sempat mencatatkan outflow asing cukup besar.
“Jadi ini juga menyebabkan kenapa juga akhirnya kita sempat mengalami outflow di SBN, termasuk juga di SRBI,” terang Destry.
Selain itu, lepasnya asing dari SBN membuat imbal hasilnya (yield) mengalami kenaikan. Akibatnya, selisih (spread) antara yield SBN dengan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury makin mengecil.
“Hal ini membuat yield SBN mengalami kenaikan, bond yield di AS (US Treasury) naik sampai 5,3%, sementara bond kita yang 10 tahun itu kan di sekitar 7,2%. Akibatnya kan spread itu juga makin mengecil. Nah ini juga menyebabkan adanya outflow di negara-negara berkembang,” ujar Destry.
(arj/arj)
Leave a comment