
Jakarta, CNBC Indonesia – Seorang insinyur perangkat lunak menuai kecaman luas setelah mengaku melatih kecerdasan buatan atau AI untuk meniru suaranya. Tujuannya agar AI yang membacakan dongeng pengantar tidur kepada anaknya, bukan dirinya sendiri, dikutip Jumat (9/10/2026).
Alvin Sng, pekerja di perusahaan rintisan Factory AI, menceritakan kejadian itu di unggahan yang kini telah dihapus. Ketika istrinya memintanya membacakan buku kepada bayi yang baru lahir, ia menolak dan mengusulkan solusi yang ia anggap lebih baik.
“Saya bisa memutar rekaman suara lewat HP,” katanya. Ketika istrinya menginginkan suara aslinya, ia menjawab: “Saya bisa melatih model suara AI.” Ia pun menulis: “Mengasuh anak terasa berbeda saat Anda bekerja di bidang AI.”
Unggahan itu memicu gelombang kemarahan. Banyak yang menyebutnya tindakan yang menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan.
Para kritikus menegaskan bahwa bayi belum memahami isi bacaan, tetapi ia mengenali dan membutuhkan suara orang tuanya. Suara itu mengandung kehangatan, perhatian, serta ikatan emosional yang tidak dapat ditiru oleh algoritma, sehalus apa pun hasilnya.
Sosiolog Jess Calarco menyebut kasus ini menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar.
“Para pria lebih suka menciptakan teknologi pengganti peran pengasuhan daripada ikut berperan secara setara di dalamnya,” seperti dikutip dari Furuism, Jumat (9/10/2026).
Fenomena ini ternyata mulai menjamur. Seorang ibu membuat tiruan dirinya sendiri agar anaknya tetap bisa berbicara dengannya saat ia bepergian. Perusahaan besar seperti Meta juga mengembangkan aplikasi bernama “StoryKit” yang menceritakan dongeng buatan AI kepada anak-anak. Sementara itu pendiri OpenAI, Sam Altman, pernah mendorong agar AI digunakan untuk menggantikan momen percakapan orang tua dengan anak.
Kekhawatiran para ahli bukan sekadar soal satu atau dua kali penggantian. Pola ini jika dibiarkan dapat mengikis ikatan orang tua dan anak secara perlahan. Waktu kebersamaan yang berharga digantikan oleh tiruan yang efisien namun kosong makna.
(dem/dem)
Leave a comment