
Jakarta, CNBC Indonesia – Tingkat pengangguran menjadi salah satu indikator untuk melihat kondisi pasar tenaga kerja suatu negara, termasuk di negara-negara maju Eropa.
Angka pengangguran menggambarkan seberapa besar bagian dari angkatan kerja yang belum memiliki pekerjaan tetapi masih aktif mencari kerja.
Semakin tinggi angkanya, semakin banyak tenaga kerja yang belum terserap ke dalam lapangan pekerjaan. Namun, tingkat pengangguran setiap negara bisa berbeda cukup jauh.
Hal ini terlihat di Eropa. Sejumlah negara masih mencatat tingkat pengangguran dua digit, sementara di negara lainnya angkanya hanya berada di kisaran 2% hingga 4%.
Finlandia Catat Pengangguran Tertinggi di Eropa
Finlandia mencatat tingkat pengangguran tertinggi di Eropa pada Agustus 2026, mencapai 10,3%.
Spanyol berada sedikit di bawahnya dengan tingkat pengangguran 10%, disusul Swedia 8,7%, Prancis 8,2%, dan Estonia 8%.
Di sisi lain, sejumlah negara mencatat tingkat pengangguran yang jauh lebih rendah. Rusia berada di posisi terbawah dengan 2,2%, sementara Ceko sebesar 3,2% serta Malta, Polandia, dan Slovenia masing-masing 3,4%.
Posisi Finlandia menjadi perhatian karena negara tersebut sebelumnya tidak berada di urutan teratas. Sementara itu, Spanyol justru telah lama dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di kawasan.
Sebelum digeser Finlandia pada 2026, Spanyol konsisten mencatat tingkat pengangguran tertinggi di Uni Eropa selama lima tahun berturut-turut.
Pada 2021, tingkat pengangguran Spanyol mencapai 14,8%. Angkanya kemudian turun menjadi 12,9% pada 2022 dan 12,2% pada 2023.
Penurunan berlanjut menjadi 11,4% pada 2024 dan 10,5% pada 2025.
Meski terus menurun, Spanyol tetap berada di posisi teratas tingkat pengangguran Uni Eropa sepanjang periode tersebut.
Pengangguran Finlandia Naik di Tengah Pemulihan Ekonomi
Tingginya tingkat pengangguran Finlandia terjadi ketika sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan perbaikan.
Ekspor dan investasi mulai menguat, tetapi peningkatan tersebut belum sepenuhnya diikuti penciptaan lapangan kerja baru.
Permintaan terhadap tenaga kerja masih relatif lemah, sehingga pemulihan ekonomi belum banyak terasa di pasar tenaga kerja.
Kondisi berbeda terlihat di Rusia yang mencatat tingkat pengangguran hanya 2,2%.
Namun, rendahnya tingkat pengangguran Rusia juga dipengaruhi kondisi khusus, mulai dari berkurangnya jumlah generasi muda yang masuk ke pasar kerja, emigrasi sejak perang, hingga meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di sektor produksi militer.
Pariwisata Bantu Tekan Pengangguran Spanyol
Meski masih berada di level tinggi, kondisi pasar tenaga kerja Spanyol telah membaik cukup jauh dibandingkan satu dekade lalu.
Pada 2013, lebih dari seperempat angkatan kerja Spanyol tercatat menganggur.
Sektor pariwisata menjadi salah satu penopang perbaikan tersebut. Pada kuartal II-2026, sektor ini menyerap sekitar 3,18 juta pekerja, naik 5,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tenaga kerja terjadi di berbagai sektor yang berkaitan dengan pariwisata, mulai dari akomodasi dan layanan makanan hingga transportasi penumpang.
Namun, persoalan struktural masih tersisa. Perbedaan keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan perusahaan serta ketimpangan kondisi ekonomi antarwilayah masih menjadi tantangan bagi pasar kerja Spanyol.
Pengangguran Jerman Rendah, Industri Otomotif Justru Tertekan
Jerman mencatat tingkat pengangguran sekitar 4%, termasuk yang terendah di antara ekonomi besar Eropa.
Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan situasi di industri otomotifnya.
Sektor otomotif Jerman kehilangan sekitar 42.300 pekerjaan dalam setahun hingga Juni 2026. Jumlah tenaga kerja di sektor tersebut turun ke level terendah sejak 2005.
Tekanan datang dari tarif Amerika Serikat serta persaingan yang semakin ketat dengan produsen mobil China.
Jumlah pekerja di perusahaan pemasok suku cadang dan aksesori kendaraan turun 7,6% dalam setahun. Penurunannya lebih dalam dibandingkan produsen kendaraan dan mesin yang menyusut 6,1%.
(mae/mae)
Leave a comment