Home Finance Tabungan Warga Miskin Makin Tipis, Anjlok ke Level Terendah
Finance

Tabungan Warga Miskin Makin Tipis, Anjlok ke Level Terendah

Share
Tabungan Warga Miskin Makin Tipis, Anjlok ke Level Terendah
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Kondisi tabungan masyarakat menunjukkan perkembangan yang berbeda. Ketika tabungan kelompok atas mulai membaik, kelompok bawah justru terus menurun hingga mencapai posisi terendah dalam catatan Mandiri Saving Index (MSI) yang tersedia.

Berdasarkan laporan Mandiri Spending Index yang diterbitkan Bank Mandiri per 13 September 2026, indeks tabungan kelompok bawah tercatat sebesar 69,5. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam rangkaian data Mandiri Saving Index yang ditampilkan sejak Januari 2024.

Penurunan ini bukan hanya terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, kondisi tabungan kelompok bawah memang terus melemah.

Pada September 2024, indeks tabungan kelompok bawah masih berada di level 83,2. Setahun kemudian, angkanya turun menjadi 73,3 pada September 2025, sebelum kembali merosot ke 69,5 pada September 2026.

Sementara itu, kondisi kelompok menengah relatif lebih stabil, meski juga mengalami penurunan. Indeks tabungan kelompok ini tercatat sebesar 100,1 pada September 2026, lebih rendah dibandingkan September 2025 sebesar 100,8.

Berbeda dengan dua kelompok tersebut, tabungan kelompok atas justru mulai menunjukkan perbaikan. Indeksnya naik menjadi 94,4 dari 94,0 pada September tahun lalu.

Berikut perkembangan Mandiri Saving Index berdasarkan kelompok tabungan dalam tiga tahun terakhir.




Mandiri Saving Index Berdasarkan Kelompok TabunganMandiri Saving Index Berdasarkan Kelompok Tabungan Foto: Mandiri Spending Index

Dalam perhitungan Mandiri Saving Index, kelompok bawah mencakup rekening perorangan dengan rata-rata saldo tabungan kurang dari Rp1 juta. Kelompok menengah memiliki rata-rata saldo Rp1 juta hingga Rp10 juta, sedangkan kelompok atas memiliki rata-rata saldo lebih dari Rp10 juta.

Dengan demikian, pembagian kelompok tersebut didasarkan pada saldo tabungan, bukan besarnya pendapatan pemilik rekening. Angka indeks juga menunjukkan perubahan terhadap posisi dasar Januari 2022, bukan jumlah uang yang ditabung.

Perbedaan arah tabungan antarkelompok ini menunjukkan bahwa perbaikan belum terjadi secara merata. Kelompok dengan saldo paling kecil masih mengalami penurunan, sementara kelompok dengan saldo lebih besar mulai mencatat kenaikan.

Porsi Pendapatan untuk Tabungan Terendah Sepanjang 2026

Kondisi tabungan yang semakin terbatas juga terlihat dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) periode September 2026.

Jika Mandiri Saving Index menggambarkan perkembangan tabungan berdasarkan kelompok saldo rekening, survei BI menunjukkan seberapa besar bagian pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi, membayar cicilan, dan disimpan sebagai tabungan.

Hasilnya, porsi pendapatan masyarakat yang disisihkan untuk tabungan pada September 2026 hanya sebesar 15,4%. Angka tersebut turun dari 15,8% pada Agustus dan menjadi yang terendah sepanjang Januari-September 2026.

Padahal, pada April 2026, porsi pendapatan yang ditabung masih mencapai 18,2%. Sejak saat itu, angkanya terus menurun selama lima bulan berturut-turut hingga September.

Di saat yang sama, bagian pendapatan yang digunakan untuk konsumsi justru meningkat. Pada September 2026, porsi konsumsi mencapai 74,9%, naik dari 74,2% pada Agustus.


Sementara itu, porsi pendapatan untuk membayar cicilan atau utang turun tipis dari 10,0% menjadi 9,7%.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa semakin besar bagian pendapatan responden digunakan untuk konsumsi, sementara bagian yang tersisa untuk ditabung semakin kecil.

Penurunan porsi tabungan juga terlihat ketika responden dibagi berdasarkan besarnya pengeluaran setiap bulan.

Untuk kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan, porsi pendapatan yang ditabung tercatat sebesar 15,1% pada September 2026.

Angka tersebut tidak berubah dari Agustus sekaligus menjadi posisi terendah sepanjang 2026, yang terjadi pada dua bulan berturut-turut.

Kondisi serupa terlihat pada kelompok pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp3 juta per bulan. Porsi tabungan mereka turun dari 14,7% pada Agustus menjadi 14,4% pada September.

Pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta hingga Rp4 juta, porsi tabungan juga menyusut dari 15,4% menjadi 15,1%.

Penurunan paling besar terjadi pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta per bulan. Porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,2% pada Agustus menjadi 15,1% pada September, atau berkurang 1,1 poin persentase.

Bahkan, kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta per bulan juga mengalami penurunan. Porsi tabungan mereka berkurang dari 17,4% menjadi 16,9%. Meski demikian, kelompok ini masih memiliki porsi tabungan paling besar dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.


Dari lima kelompok pengeluaran tersebut, empat di antaranya mengalami penurunan porsi tabungan pada September, sementara satu kelompok tidak berubah.

Data tersebut memperlihatkan bahwa berkurangnya bagian pendapatan yang disisihkan untuk tabungan tidak hanya terjadi pada kelompok pengeluaran kecil, tetapi juga pada kelompok dengan pengeluaran lebih besar.

Tabungan Makin Menipis, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?

Penurunan Mandiri Saving Index kelompok bawah ke level 69,5 dan menyusutnya porsi pendapatan untuk tabungan menjadi 15,4% menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat menyisihkan uang semakin terbatas.

Kondisi ini perlu diperhatikan karena tabungan menjadi cadangan keuangan rumah tangga, terutama ketika menghadapi kebutuhan mendadak atau kenaikan harga barang.

Jika tren penurunan tabungan terus berlanjut, ada sejumlah dampak yang berpotensi dirasakan masyarakat maupun perekonomian Indonesia.

  1. Cadangan keuangan masyarakat semakin terbatas

    Rumah tangga dengan tabungan kecil akan lebih rentan ketika menghadapi pengeluaran mendadak, seperti biaya kesehatan, pendidikan, atau kebutuhan lainnya.

  2. Ruang belanja masyarakat bisa menyempit

    Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat berpotensi mengurangi pembelian barang yang tidak mendesak.

  3. Konsumsi rumah tangga berisiko melambat

    Jika masyarakat semakin sulit menyisihkan uang dan pendapatan tidak ikut meningkat, daya beli berpotensi tertekan. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi mengingat konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar terhadap PDB Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *