
Jakarta, CNBC Indonesia – Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengungkapkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memberikan banyak manfaat dalam mekanisme pengawasan pajak.
Hal ini Bimo ungkapkan saat membuka acara Belt and Road Initiative Tax Administration Cooperation Forum (BRITACOF) ke-7 yang digelar di Jakarta, 13-15 Oktober 2026.
“Karena smart taxation juga berarti memanfaatkan teknologi terdepan, seperti kecerdasan buatan yang bukan lagi sesuatu untuk masa depan, kita membutuhkannya hari ini,” kata Bimo.
Dengan AI, Bimo menegaskan, mekanisme pengawasan pajak dapat beralih dari sekadar bereaksi terhadap masalah menjadi mampu memprediksi risiko.
“Kita dapat memproses data dalam jumlah besar dengan sangat cepat, memeriksa kepatuhan secara lebih akurat, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan rutin secara otomatis,” ucapnya.
Kehadiran AI ia tegaskan mampu membuat sumber daya manusia di otoritas pajak bisa lebih fokus pada masalah-masalah yang kompleks, sekaligus memberikan pelayanan yang lebih cepat dan mudah bagi wajib pajak.
“Teknologi memang penting, tetapi begitu pula cara kita berinteraksi dan bekerja sama dengan wajib pajak,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, BRITCOF merupakan event tahunan Belt and Road Initiative Tax Administration Cooperation Mechanism (BRITACOM), yang menjadi forum kerja sama administrasi pajak antar anggota negara-negara Belt and Road Initiative yang dulu dikenal dengan inisiatif One Belt One Road (OBOR).
Negara anggotanya sebanyak 35, dengan 25 observer yang terdiri dari yurisdiksi atau negara-negara berdaulat dan organisasi internasional.
(arj/arj)
Leave a comment