Home Finance Banting Setir! Kazakhstan Mulai Obral Emas, Ada Apa?
Finance

Banting Setir! Kazakhstan Mulai Obral Emas, Ada Apa?

Share
Banting Setir! Kazakhstan Mulai Obral Emas, Ada Apa?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Bank sentral Kazakhstan mulai mengubah strategi pengelolaan cadangan devisanya dengan menjual sebagian emas, setelah sebelumnya menjadi salah satu pembeli emas terbesar dunia.

Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya daya tarik dolar Amerika Serikat (AS) dan obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang menawarkan imbal hasil tinggi. Di sisi lain, harga emas mengalami tekanan setelah mencetak rekor pada awal tahun.

Mengutip Bloomberg, Wakil Gubernur Bank Sentral Kazakhstan Aliya Moldabekova mengatakan bahwa lonjakan imbal hasil obligasi AS membuat dolar semakin menarik dibandingkan emas, yang tidak memberikan pendapatan bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan lalu, sehingga meningkatkan biaya peluang investor untuk mempertahankan kepemilikan emas.

Kazakhstan Pangkas Porsi Cadangan Emas

Bank Sentral Kazakhstan berencana menurunkan porsi emas dalam total cadangan devisa dari sekitar 78% menjadi 75% pada akhir 2026.

Saat ini, cadangan emas Kazakhstan mencapai 386 ton, sedangkan total cadangan internasional negara tersebut tercatat US$66,4 miliar pada akhir September 2026.

Menurut Moldabekova, tingginya porsi emas membuat cadangan Kazakhstan terlalu terkonsentrasi pada satu jenis aset. Padahal, bank sentral perlu memastikan cadangannya tetap likuid untuk menghadapi kebutuhan valuta asing.

Penyesuaian tersebut direncanakan melalui penjualan emas fisik dan transaksi opsi, masing-masing menyumbang sekitar separuh dari langkah pengurangan eksposur emas.

Menariknya, Kazakhstan sebelumnya justru aktif menambah cadangan emas. Berdasarkan data World Gold Council (WGC), bank sentral negara tersebut masih mencatat pembelian bersih sekitar 36 ton sepanjang Januari-Agustus 2026.


Data tersebut menunjukkan perubahan arah kebijakan Kazakhstan, dari akumulasi emas menjadi penyesuaian portofolio untuk mengurangi konsentrasi cadangan.

Meski demikian, penurunan porsi emas dari 78% menjadi 75% tidak seluruhnya harus dilakukan melalui penjualan fisik. Moldabekova menyebut pelemahan harga emas hingga di bawah US$4.000 per troy ons juga dapat membantu menurunkan proporsinya dalam cadangan.

Dolar dan Obligasi AS Kembali Menarik

Perubahan strategi Kazakhstan terjadi ketika lonjakan harga energi akibat perang AS-Iran mendorong kebutuhan dolar di pasar global.

Gangguan pasokan minyak dan gas Timur Tengah meningkatkan biaya impor energi, sehingga sejumlah negara membutuhkan lebih banyak dolar untuk membiayai pembelian energi.

Pada saat bersamaan, tekanan inflasi akibat mahalnya energi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi. Kondisi ini mengurangi daya tarik relatif emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan bunga.

Kazakhstan bukan satu-satunya negara yang melepas emas. Turki dan Rusia juga tercatat melakukan penjualan pada tahun ini, meskipun dengan kebutuhan dan pertimbangan pengelolaan cadangan yang berbeda.

Harga emas sendiri telah terkoreksi sekitar 20% sejak perang AS-Iran dimulai pada akhir Februari. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat mencetak rekor sekitar US$5.600 per troy ons pada Januari 2026.


Pada perdagangan Senin (12/10/2026), harga emas berada di kisaran US$4.171 per troy ons. Sejak Juni, pergerakannya relatif terbatas dalam rentang US$4.000-4.300 per troy ons.

Bank Sentral Dunia Masih Borong Emas

Meski Kazakhstan mulai mengurangi eksposurnya, tren pembelian emas oleh bank sentral dunia belum sepenuhnya berbalik.

Menurut laporan WGC pada 6 Oktober 2026, bank sentral dunia mencatat pembelian bersih yang dilaporkan sebesar 39 ton sepanjang Agustus, sehingga total pembelian bersih yang dilaporkan mencapai 170 ton sejak awal tahun.

Polandia menjadi pembeli terbesar sepanjang Januari-Agustus dengan tambahan 98 ton, disusul China sebanyak 80 ton dan Uzbekistan sekitar 50 ton.

Sementara itu, Rusia mencatat penjualan bersih 56 ton sepanjang delapan bulan pertama 2026, sedangkan Turki melepas sekitar 82 ton.

Indonesia juga termasuk negara yang menambah cadangan emas pada tahun ini. Berdasarkan laporan WGC, Bank Indonesia tercatat membeli sekitar 2 ton emas pada kuartal I-2026.

Sebagai perbandingan, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, sedikit menurun dibandingkan US$146,5 miliar pada akhir Agustus, berdasarkan data Bank Indonesia.

Perkembangan tersebut mencerminkan pentingnya pengelolaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan eksternal, meskipun komposisi cadangan setiap negara berbeda.

Kazakhstan sendiri belum sepenuhnya pesimistis terhadap prospek emas. Moldabekova masih memperkirakan harga emas berpotensi menguat, tetapi bank sentral akan terlebih dahulu mencapai target porsi cadangan sebesar 75% sebelum mengevaluasi langkah selanjutnya.

(slm/slm)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *