
Jakarta, CNBC Indonesia – Peraih Nobel Ekonomi 2024 James A. Robinson mengatakan negara yang hanya mengandalkan sumber daya alam (SDA) sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi seringkali berakhir sia-sia.
Bagi Robinson, yang paling penting adalah inklusivitas institusi dalam membuat kebijakan untuk membuat sebuah negara mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Dalam bukunya “Why Nations Fail”, Robinson juga telah menuangkan pemikirannya bahwa pertumbuhan ekonomi diciptakan oleh institusi ekonomi inklusif yang menghadirkan insentif dan peluang yang luas bagi banyak pihak.
“Intinya, faktor utama di balik pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, atau pertumbuhan ekonomi yang pesat, adalah institusi yang menciptakan insentif dan peluang bagi masyarakat serta kewirausahaan, sekaligus menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi dan transformasi yang cepat,” kata Robinson di acara Indonesia Policy Forum 2026 yang digelar oleh Prasasti, Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Keuntungan dari sumber daya alam menurut Robinson hanya didapatkan karena pergerakan harga komoditas, sehingga tidak bersifat permanen.
Robinson mengatakan jika suatu negara tidak mampu mengolah keuntungan dari bonus sumber daya alam tersebut, seringkali menjadi sia-sia, dan pertumbuhan ekonomi tinggi tidak akan bertahan lama.
“Perekonomian berbasis sumber daya alam yang menyia-nyiakan kekayaan mereka seperti Guinea Ekuatorial, Azerbaijan, Turkmenistan,” ujar Robinson.
Jika pertumbuhan ekonomi di atas 8% ingin bertahan lama, Robinson mengatakan pemanfaatan sumber daya alam perlu ditindaklanjuti dengan investasi di sektor lain yang dapat menjadi sumber pendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini seperti yang dilakukan oleh Oman, Arab Saudi, dan Botswana, di mana perekonomian berbasis sumber daya alam yang memanfaatkan pendapatan dari sumber daya untuk mendiversifikasi perekonomian
“Jadi, pertumbuhan sempat bertahan selama satu dekade karena tingginya harga komoditas dan aktivitas ekstraksi sumber daya dalam kurun waktu tersebut, namun hasilnya tidak diinvestasikan untuk hal lain dan kekayaan itu pun lenyap begitu ekstraksi sumber daya menurun atau harga komoditas berubah,” kata Robinson.
Robinson mengatakan ada faktor-faktor dibalik jalan yang telah terbagi dalam menuju pertumbuhan ekonomi 8%, yakni akumulasi faktor produksi, adopsi teknologi, dan pertumbuhan ekonomi bergantung pada struktur institusi yang menyediakan insentif dan peluang bagi individu maupun perusahaan.
(arj/arj)
Leave a comment