Home Finance Sekali Ketuk Palu, Dunia Gemetar! Ini 10 Penguasa Rating Kredit Global
Finance

Sekali Ketuk Palu, Dunia Gemetar! Ini 10 Penguasa Rating Kredit Global

Share
Sekali Ketuk Palu, Dunia Gemetar! Ini 10 Penguasa Rating Kredit Global
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga pemeringkat kredit berperan menilai risiko gagal bayar perusahaan dan pemerintah.

Peringkat yang mereka berikan memengaruhi kepercayaan investor serta menentukan seberapa mahal biaya pinjaman melalui penerbitan obligasi. Semakin rendah peringkat, umumnya semakin tinggi bunga yang harus dibayar penerbit utang.

Data dari Securities and Exchange Commission (SEC) memeringkat penilaian yang dapat memengaruhi cara investor melihat risiko sebuah obligasi.

Tiga Lembaga Rating Menguasai 93,4% Pasar

Data SEC menunjukkan besarnya konsentrasi industri pemeringkatan kredit di AS. Pada akhir 2024, S&P Global Ratings memiliki pangsa sebesar 49,6%, disusul Moody’s Ratings sebesar 31,4% dan Fitch Ratings sebesar 12,4%.


Secara gabungan, ketiganya menguasai 93,4% dari seluruh peringkat kredit yang dilaporkan. Tujuh lembaga lain dalam daftar tersebut hanya memiliki pangsa gabungan 6,6%.

Morningstar DBRS menjadi pesaing terbesar di luar tiga perusahaan utama dengan pangsa 3,1%, diikuti Kroll Bond Rating Agency (KBRA) sebesar 2,1%. Sementara itu, Egan-Jones Ratings Company, AM Best, Japan Credit Rating Agency, HR Ratings, dan Demotech masing-masing memiliki pangsa di bawah 1%.

Dominasi tersebut juga bukan fenomena baru. Pangsa gabungan Big Three mencapai 98,8% pada 2007. Pesaing yang lebih kecil kemudian memperoleh sebagian ruang pasar, tetapi posisi tiga perusahaan utama masih sangat kuat.

Mengapa Big Three Sulit Disaingi?

Besarnya pangsa pasar Big Three berkaitan dengan reputasi, jangkauan analisis, dan penerimaan mereka di kalangan investor.

Ketiga perusahaan tersebut memiliki metodologi yang dipublikasikan secara kompleks, juga mencakup berbagai jenis penerbit serta instrumen utang.

 

Selain metodologi, hambatan masuk juga muncul dari kebiasaan pasar. Sebagian investor institusional memiliki kebijakan investasi yang merujuk pada lembaga pemeringkat tertentu.

Kondisi tersebut menciptakan efek jaringan. Investor cenderung menggunakan penilaian yang sudah mereka kenal, sementara penerbit ingin memperoleh peringkat yang diakui oleh sebanyak mungkin investor. Pendatang baru harus membangun kepercayaan di kedua sisi pasar.

Skala bisnis juga berpotensi menjadi tantangan bagi pesaing yang lebih kecil. Menyediakan analisis lintas sektor dan negara membutuhkan tenaga analis, data, serta pemantauan berkelanjutan.

Namun, besarnya pangsa pasar saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa lembaga yang lebih kecil merugi atau memiliki kualitas analisis yang lebih rendah.

Model bisnis industri ini turut menjadi perhatian. Lembaga pemeringkat besar umumnya menggunakan skema issuer-pays, yakni menerima bayaran dari penerbit utang yang dinilai.

Model tersebut membuka potensi konflik kepentingan sehingga independensi analisis, pemisahan fungsi komersial dan analitis, serta pengawasan menjadi penting.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *