Home Finance Muak Lihat Rezim Bak Tirani, Mantan Presiden Ikut Milisi Pemberontak
Finance

Muak Lihat Rezim Bak Tirani, Mantan Presiden Ikut Milisi Pemberontak

Share
Muak Lihat Rezim Bak Tirani, Mantan Presiden Ikut Milisi Pemberontak
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan Presiden Republik Demokratik (RD) Kongo, Joseph Kabila, secara mengejutkan bersekutu dengan kelompok bersenjata M23 yang disokong penuh oleh negara tetangganya, Rwanda. Langkah radikal ini membuatnya mengambil peran langsung dalam memimpin pemberontakan berdarah yang terus menghancurkan wilayah timur negara yang kaya akan mineral tersebut.

Mengutip Anadolu Agency, Kamis (15/10/2026), ikatan mematikan ini secara resmi diumumkan dalam sebuah konferensi pers gabungan di kediaman Kabila di Goma, kota utama di wilayah timur Kongo yang telah jatuh dan dikuasai oleh milisi M23 sejak Januari 2025 lalu. Kelompok pemberontak baru yang diberi nama Front pour la Refondation de la Nation (FRN) ini diperkenalkan ke publik sebagai sebuah organisasi politik dan militer yang terstruktur.

“Menyatukan kekuatan, sumber daya, dan sarana,” tegasnya. “Mengakhiri tirani dengan segala cara, termasuk kekerasan.”

Organisasi bersenjata baru ini akan dikepalai langsung oleh Kabila, sementara para komandan pemberontak milisi akan bertindak sebagai wakilnya. Sebelumnya, Kabila yang kini berusia 55 tahun dan pernah memerintah Kongo dengan tangan besi dari 2001 hingga 2019 itu, telah dijatuhi hukuman mati in absentia pada tahun lalu atas tuduhan keterlibatan dengan M23. Otoritas Kongo menuduhnya sebagai salah satu otak pelopor Aliansi Sungai Kongo (AFC), sayap politik M23 yang kini telah dibubarkan, meskipun ia sempat membantah keras tuduhan tersebut.

Pengumuman deklarasi aliansi baru ini muncul tepat di tengah iklim politik yang sangat tidak menentu di RD Kongo. Presiden petahana Felix Tshisekedi (63), yang merupakan penerus Kabila, akan mengakhiri masa jabatan lima tahun keduanya pada 2028 mendatang. Meskipun konstitusi Kongo secara tegas membatasi masa jabatan presiden hanya untuk dua periode, kelompok mayoritas pendukung presiden diam-diam telah mempersiapkan opini publik untuk mengamendemen aturan tersebut selama beberapa bulan terakhir demi melanggengkan kekuasaan.

Sejak mengundurkan diri pasca pemilu 2018, Kabila nyaris tak pernah lagi terlihat di depan publik. Ia sebelumnya mengambil alih kepemimpinan negara terluas di Afrika Sub-Sahara itu pada 16 Januari 2001 silam setelah ayahnya, Laurent Kabila, yang merupakan mantan pemimpin pemberontak sekaligus kepala negara, dibunuh oleh pengawalnya sendiri.

Di bawah masa pemerintahannya yang diwarnai kecurangan pemilu pada 2011, kelompok pemberontak M23 yang mayoritas etnis Tutsi mulai melancarkan pemberontakan besar-besaran di wilayah timur Kivu pada tahun 2012. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara Barat secara konsisten menuduh Rwanda berada di balik sokongan terhadap M23, meski Kigali membantahnya.

Sebagai catatan kelam, wilayah timur RD Kongo telah dicengkeram oleh konflik dan kekerasan bersenjata selama lebih dari 30 tahun. Berbagai upaya mediasi internasional sejauh ini terbukti gagal total menghentikan pertumpahan darah. Kesepakatan damai yang ditandatangani oleh Kinshasa dan Kigali pada bulan Desember di bawah naungan Washington nyatanya gagal memberikan dampak nyata di lapangan.

Bahkan, komitmen gencatan senjata antara Kinshasa dan M23 pada Juli 2025 yang dimediasi oleh Qatar juga berakhir menjadi sekadar angan-angan karena sama sekali tidak dihormati oleh pihak-pihak yang bertikai.

(tps/tps)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *