Home Finance Harga Batu Bara Turun Usai Terbang Tinggi, Salahkan China!
Finance

Harga Batu Bara Turun Usai Terbang Tinggi, Salahkan China!

Share
Harga Batu Bara Turun Usai Terbang Tinggi, Salahkan China!
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara akhirnya turun setelah terbang tiga hari beruntun.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (14/10/2026) ditutup di posisi U$ 151,75 per ton atau melemah 0,9%.

Pelemahan ini memutus reli batu bara dalam tiga hari beruntun sebelumnya.

Harga batu bara melemah, salah satunya karena kabar buruk dari China.



Impor batu bara China, pembeli batu bara terbesar di dunia, turun 6% secara tahunan pada September 2026. Penurunan ini terjadi di tengah tingginya persediaan domestik China dan kendala pasokan dari Indonesia sebagai salah satu pemasok utama.

Data bea cukai China menunjukkan impor batu bara pada September mencapai 43,37 juta ton, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, angka tersebut masih meningkat dari 42,09 juta ton pada Agustus.

Direktur Senior Fitch Ratings Penny Chen mengatakan, persediaan batu bara di perusahaan pembangkit listrik pesisir China lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh musim panas yang relatif sejuk sehingga kebutuhan pendingin ruangan menurun.

 

Produksi listrik China dari bahan bakar fosil juga turun 4,3% pada Agustus secara tahunan. Peningkatan produksi listrik dari tenaga air, nuklir, dan energi terbarukan mengurangi porsi batu bara dalam bauran pembangkitan listrik.

Dari sisi pasokan, ekspor Indonesia turut terdampak penyesuaian rencana produksi dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Selain itu, rendahnya permukaan air sungai di Kalimantan mengganggu logistik pengangkutan batu bara.

Meski impor September melemah, secara kumulatif impor batu bara China selama Januari-September 2026 masih tumbuh 2,2% menjadi 353,54 juta ton.

Impor sempat melonjak pada Juni dan Juli setelah kecelakaan mematikan di tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi, pada Mei memicu inspeksi keselamatan besar-besaran. Ketika sejumlah tambang menghentikan produksi, pembeli China beralih ke impor untuk menutup kekurangan pasokan.

Harga Batu Bara Dunia Melonjak

Di tengah penurunan impor China, harga batu bara untuk pembangkit listrik justru meningkat sekitar 44% sejak awal tahun. Kenaikan ini didorong tingginya harga gas alam serta gangguan pasokan energi akibat perang Iran.

 

Data LSEG menunjukkan kontrak berjangka batu bara termal Australia berkalori tinggi, yang menjadi acuan pasar Asia, diperdagangkan di sekitar US$150 per ton. Harga tersebut sempat menyentuh sekitar US$152 per ton pada 6 Oktober, mendekati level tertinggi sejak Desember 2023.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global pada 2026 mencapai rekor 8,94 miliar ton, naik 1,2% dibandingkan 2025. Gangguan pasokan gas alam cair (LNG) akibat blokade Selat Hormuz turut meningkatkan daya tarik batu bara sebagai alternatif yang lebih murah, terutama bagi India dan Pakistan.

Namun, kenaikan harga bukan semata-mata disebabkan permintaan. Direktur Commodity Insights, Mark Gresswell, menilai faktor pasokan menjadi penentu utama.

 

Ekspor Indonesia menghadapi tekanan seiring pengetatan persetujuan rencana tambang dan kewajiban pemenuhan kebutuhan domestik. Commodity Insights memperkirakan ekspor batu bara Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 450 juta ton, atau berpotensi turun sekitar 10% secara tahunan.

Kondisi ini menjadi perubahan penting bagi pasar global. Secara historis, Indonesia berperan sebagai pemasok penyangga yang meningkatkan ekspor ketika permintaan dan harga batu bara naik. Penurunan ekspor kini membatasi kemampuan pasokan tersebut.

Australia, eksportir batu bara utama lainnya, juga menghadapi ketidakpastian. Pengadilan Tinggi Australia menguatkan putusan yang membatalkan perpanjangan masa penambangan Mount Pleasant Coal Mine di New South Wales melewati Desember. Namun, perpanjangan operasi tambang lain di negara bagian yang sama telah disetujui bulan sebelumnya.

Ketidakpastian pasokan dari Indonesia dan Australia membuat pasar batu bara semakin sensitif terhadap perubahan permintaan dan gangguan rantai pasok.

Di Jepang, penggunaan pembangkit listrik termal yang sudah ada juga kembali mendapat perhatian, termasuk melalui pelonggaran sementara pembatasan pengoperasian pembangkit batu bara yang kurang efisien. Langkah ini mencerminkan pentingnya batu bara sebagai penopang keamanan pasokan listrik ketika sistem energi menghadapi tekanan.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *