Home Finance Daftar Negara Paling Inovatif di Dunia, AS Terancam di Era Trump?
Finance

Daftar Negara Paling Inovatif di Dunia, AS Terancam di Era Trump?

Share
Daftar Negara Paling Inovatif di Dunia, AS Terancam di Era Trump?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Inovasi menjadi kunci daya saing negara. Bukan sekadar soal teknologi, inovasi juga ditentukan oleh kualitas pendidikan, riset, dan dukungan kebijakan pemerintah terhadap dunia usaha.

Setiap tahunnya, World Intellectual Property Organization (WIPO) merilis Global Innovation Index (GII) untuk mengukur tingkat inovasi berbagai negara. Pada 2026, sebanyak 139 perekonomian dinilai berdasarkan 79 indikator, mulai dari belanja penelitian dan pengembangan hingga kondisi lingkungan bisnis.

Hasil pemeringkatan tahun ini menunjukkan bahwa negara-negara yang selama ini mendominasi masih bertahan di posisi teratas.

Namun, persaingan di antara sejumlah negara semakin ketat, sementara beberapa negara berkembang terus memperbaiki peringkatnya.
Swiss Masih Jadi Negara Paling Inovatif




Global Innovation Index (GII) RankingsGlobal Innovation Index (GII) Rankings Foto: Economist

Swiss kembali menempati posisi pertama dalam Global Innovation Index 2026, sekaligus mempertahankan gelar negara paling inovatif di dunia yang telah dipegangnya sejak 2011.

Swedia menyusul di peringkat kedua, diikuti Amerika Serikat (AS) pada posisi ketiga dan Korea Selatan di posisi keempat. Sementara itu, Singapura, Inggris, Belanda, Finlandia, Denmark, dan China berada di daftar 10 besar.

Meski susunan negara-negara teratas relatif tidak banyak berubah, persaingan AS dan Korea Selatan semakin ketat. Selisih skor inovasi kedua negara terus menyempit, meskipun AS masih mempertahankan posisi ketiga sejak 2023.

Di sisi lain, AS mencatat peningkatan pangsa investasi modal ventura (venture capital) tahap lanjut secara global. Artinya, porsi pendanaan yang diterima perusahaan rintisan di AS dari total investasi global semakin besar.




Global Innovation Index score, 2026Global Innovation Index score, 2026 Foto: Economist

Namun, tidak semua indikator AS mengalami perbaikan. Dalam penilaian risiko politik, hukum, dan operasional bagi dunia usaha, peringkat AS turun dari posisi ke-23 pada 2025 menjadi ke-36 pada 2026.

Perkembangan inovasi AS juga menjadi perhatian di tengah kebijakan Presiden Donald Trump.

Pemerintahannya mendorong pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, sementara pembangunan pusat data terus meningkat.

Selain itu, pengesahan GENIUS Act pada 2025 memberikan kerangka aturan yang lebih jelas bagi industri stablecoin, yakni aset kripto yang nilainya dipatok pada aset tertentu, seperti dolar AS.

Namun, sejumlah kebijakan lainnya berpotensi menghambat inovasi. Trump memperketat masuknya tenaga kerja asing berketerampilan tinggi, meningkatkan tekanan terhadap sejumlah universitas ternama, serta memangkas pendanaan lembaga penelitian pemerintah.

Meski demikian, dampak kebijakan Trump terhadap posisi AS dalam indeks inovasi belum dapat dipastikan. Sebagian data yang digunakan dalam pemeringkatan masih berasal dari periode sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Negara Kaya Belum Tentu Paling Inovatif

Tingkat pendapatan suatu negara umumnya berkaitan dengan kemampuan inovasinya. Negara dengan pendapatan per kapita tinggi cenderung memiliki lebih banyak sumber daya untuk membiayai penelitian, pendidikan, dan pengembangan teknologi.

Namun, hubungan tersebut tidak selalu berlaku. Sejumlah negara mampu mencatat skor inovasi yang lebih tinggi dibandingkan negara lain dengan tingkat pendapatan serupa.




Growth in deep-science startups, 2020-25, %Growth in deep-science startups, 2020-25, % Foto: Economist

China menjadi salah satu contohnya. Meski pendapatan per kapitanya masih lebih rendah dibandingkan AS dan Swiss, skor inovasi China tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara pada tingkat pendapatan yang sama.

India dan Vietnam juga mencatat hasil serupa, dengan skor inovasi yang melampaui perkiraan berdasarkan pendapatan per kapita masing-masing.

Persaingan Teknologi AS dan China Kian Ketat

China sendiri terus memperluas pengembangan teknologi, termasuk melalui startup yang bergerak di bidang deep science. Perusahaan dalam kategori ini mengembangkan teknologi dari hasil penelitian ilmiah, yang umumnya membutuhkan waktu dan biaya besar sebelum dapat digunakan secara komersial.

Dalam bidang tersebut, AS masih memiliki jumlah startup jauh lebih banyak dibandingkan China. Namun, pertumbuhan startup deep science di China meningkat pesat dalam lima tahun terakhir.




Growth in deep-science startups, 2020-25, %Growth in deep-science startups, 2020-25, % Foto: Economist

Pada 2025, AS tercatat memiliki 12.752 startup deep science. Dari jumlah tersebut, sekitar 54% masih berada pada tahap awal pengembangan.

Sementara itu, China memiliki 3.466 startup deep science, lebih dari dua kali lipat dibandingkan lima tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut terjadi ketika pemerintah China semakin mengarahkan dukungannya pada perusahaan yang mengembangkan teknologi berbasis penelitian ilmiah, setelah sebelumnya lebih banyak berfokus pada perusahaan teknologi yang menyediakan produk dan layanan konsumen.

Peringkat Indonesia Meningkat

Selain negara-negara yang berada di posisi teratas, sejumlah negara berkembang juga mengalami perubahan peringkat dalam Global Innovation Index selama beberapa tahun terakhir.
Indonesia termasuk negara yang mencatat perbaikan posisi dibandingkan satu dekade lalu. Pada 2026, Indonesia menempati peringkat ke-55 dari 139 perekonomian yang dinilai, lebih tinggi dibandingkan posisinya pada 2013.

Meski demikian, peringkat Indonesia relatif tidak banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia juga masih berada di bawah sejumlah negara Asia, seperti China di posisi ke-10, India ke-38, Vietnam ke-43, dan Filipina ke-52.

Sementara itu, Arab Saudi menjadi salah satu negara dengan kenaikan peringkat cukup besar. Negara tersebut naik dari posisi ke-68 pada 2019 menjadi ke-42 pada 2026.




Menyoroti Perubahan PeringkatNegara-negara Terpilih, Perubahan Posisi dalam Peringkat Global Innovation Index (GII)Menyoroti Perubahan PeringkatNegara-negara Terpilih, Perubahan Posisi dalam Peringkat Global Innovation Index (GII) Foto: Economist

Perbaikan tersebut tidak terlepas dari reformasi birokrasi yang dilakukan pemerintah Arab Saudi. Perubahan aturan dan penyederhanaan prosedur administrasi turut mempermudah kegiatan usaha di negara tersebut.

Hasilnya terlihat pada indikator kelembagaan dalam Global Innovation Index. Peringkat Arab Saudi pada indikator tersebut meningkat dari posisi ke-104 pada 2019 menjadi ke-25 pada 2026.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *