
Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan Kepala Intelijen Israel, Ronen Bar, secara resmi telah menggugat Benjamin Netanyahu atas pencemaran nama baik. Ia menuduh sang perdana menteri sengaja mengabaikan berbagai peringatan intelijen menjelang serangan kelompok Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu dan berusaha mengalihkan kesalahan atas kegagalan sistem keamanan negara.
Mengutip Russia Today, Kamis (15/10/2026), Bar yang menjabat sebagai kepala badan keamanan dalam negeri Israel (Shin Bet) selama serangan mematikan tersebut, resmi mengajukan gugatan senilai 3 juta shekel atau hampir US$1.000.000 (Rp17,9 miliar) pada hari Rabu. Sebelumnya, Netanyahu menuduh Bar dengan sengaja menahan informasi intelijen dan gagal menyiagakan pasukan militer atau mengevakuasi para peserta festival musik Nova.
Bar menolak mentah-mentah tuduhan itu dengan berargumen bahwa Netanyahu sedang berusaha membuang tanggung jawab atas serangan yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang tersebut. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan Gaza, kampanye militer balasan Israel di wilayah kantong itu sendiri telah merenggut lebih dari 74.300 nyawa warga Palestina.
Menurut rincian dokumen gugatan, para perwira Shin Bet sebenarnya telah mulai membagikan intelijen tentang aktivitas Hamas yang tidak wajar kepada pihak militer pada tanggal 6 Oktober malam. Ia kemudian mengeluarkan peringatan resmi pada pukul 3:03 pagi.
Sekretariat militer Netanyahu juga telah diperbarui informasinya pada pukul 3:55 pagi, sementara kepala staf Bar turut memberi pengarahan kepada sekretaris militernya sesaat setelah pukul 6:00 pagi. Bar dengan tegas membantah telah berbicara langsung dengan kepala militer Israel atau kepala intelijen militer pada malam itu, sangat bertentangan dengan versi cerita Netanyahu.
Bar memang mengakui bahwa Shin Bet telah gagal mengantisipasi skala serta ketepatan waktu serangan dan tidak memberikan peringatan yang memadai. Ia menerima tanggung jawab atas kegagalan tersebut, yang turut berkontribusi pada keputusan pengunduran dirinya.
Namun, ia bersikeras bahwa Netanyahu telah berulang kali diperingatkan akan adanya risiko tersebut. Bar mengutip sebuah surat pada Februari 2023 yang memperingatkan bahwa perpecahan internal Israel dan ketidakstabilan di wilayah Palestina dapat memberanikan pihak musuh untuk menyerang.
Pada bulan Juli, ia juga mengeklaim telah secara pribadi mengangkat prospek adanya serangan. Ia mengingatkan bahwa badan intelijen mungkin tidak akan mampu memprediksinya secara presisi.
Gugatan tersebut juga membeberkan rentetan peringatan lebih lanjut pada bulan September dan awal Oktober mengenai peningkatan kapabilitas pasukan Hamas. Bar menuduh Netanyahu telah berulang kali menolak atau menunda berbagai proposal untuk menargetkan para tokoh senior Hamas karena ia lebih mengutamakan kebijakan agar situasi tetap tenang dengan cara apa pun di Gaza.
Menurut dokumen gugatan, perdana menteri juga dituding terus mengizinkan masuknya uang dari Qatar ke daerah kantong tersebut meskipun ada peringatan keras bahwa dana kemanusiaan itu mengalir langsung ke sayap militer Hamas. Netanyahu pun langsung menepis berbagai klaim tersebut dan berdalih bahwa sang mantan kepala intelijen seharusnya bisa segera mengambil inisiatif.
“Bar bisa menghubungi saya melalui saluran darurat yang aman,” ucap Netanyahu.
“Saya telah menyerahkan hampir 1.000 dokumen untuk menentang seluruh kesaksian Bar,” ujarnya lagi mengungkapkan bahwa ia memiliki banyak bukti kuat untuk melawan gugatan hukum tersebut secara komprehensif.
Sebagai kilas balik, pemerintah secara kontroversial telah memberikan suara untuk memberhentikan Bar pada bulan Maret 2025 dengan alasan hilangnya kepercayaan. Pada saat pemecatan itu terjadi, Shin Bet diketahui tengah menyelidiki tuduhan bahwa para ajudan Netanyahu telah mempromosikan kepentingan Qatar, sebuah tuduhan yang dibantah mati-matian oleh kantor perdana menteri.
Mahkamah Agung (MA) Israel kemudian memutuskan bahwa pemecatan itu tidak sah secara hukum. Bar akhirnya mengundurkan diri secara sukarela pada bulan Juni.
Gugatan ini muncul menyusul ramainya pemberitaan bahwa Netanyahu juga telah menerima peringatan awal dari pemerintah asing. Media Haaretz melaporkan pada bulan September bahwa Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohamed bin Zayed telah mengingatkannya akan potensi operasi besar Hamas sepuluh hari sebelum serangan itu terjadi, meskipun kantor Netanyahu langsung menepis tuduhan itu sebagai sebuah kebohongan mutlak.
Publikasi The Atlantic dan The Wall Street Journal juga secara terpisah telah melaporkan peringatan serupa dari para pejabat Mesir. Sementara The New York Times membongkar bahwa intelijen Israel sebenarnya telah memperoleh rencana pertempuran Hamas yang dikenal sebagai Jericho Wall lebih dari setahun sebelumnya.
Kendati semua laporan tersebut bermunculan, Netanyahu tetap bersikeras membantah telah menerima peringatan dari Mesir atau diperlihatkan rencana rahasia Hamas tersebut.
Dampak politik dari serangkaian skandal ini dipastikan akan semakin memanas menjelang pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober mendatang. Di tengah badai kritik tersebut, Netanyahu terus menuduh para pengkritiknya telah sengaja memanfaatkan tragedi serangan 7 Oktober murni demi kepentingan politik semata.
(tps/sef/luc)
Leave a comment