Home Finance Radja Nainggolan Menyesal Tak Bela Timnas, Singgung Rolex dan Bonus
Finance

Radja Nainggolan Menyesal Tak Bela Timnas, Singgung Rolex dan Bonus

Share
Radja Nainggolan Menyesal Tak Bela Timnas, Singgung Rolex dan Bonus
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan gelandang Timnas Belgia, Radja Nainggolan, mengungkapkan penyesalannya karena dahulu memilih membela Belgia ketimbang Indonesia. Pada usia 38 tahun, ia menilai keputusan tersebut mungkin membuatnya kehilangan peluang besar, mulai dari popularitas, dukungan suporter, hingga keuntungan komersial yang bisa dimanfaatkan setelah pensiun dari sepak bola.

Dalam wawancara eksklusif dengan media Belgia, Het Nieuwsblad, pada 8 Oktober 2026, Nainggolan mengaku kini memandang pilihannya di masa lalu dengan perspektif berbeda. Ia menilai besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi pemain yang memperkuat Timnas Indonesia.

Mantan pemain AS Roma dan Inter Milan itu secara khusus menyoroti fanatisme suporter Indonesia. Menurut dia, pertandingan Timnas Indonesia melawan negara seperti Vietnam atau Irak mampu menarik puluhan ribu penonton ke stadion.

“Di sana ada 70.000 penonton untuk pertandingan melawan Vietnam atau Irak. Mereka begitu fanatik,” ujar Nainggolan, seperti dikutip VnExpress.

Bagi Nainggolan, dukungan besar tersebut bukan sekadar menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap sepak bola. Antusiasme suporter juga berpotensi meningkatkan popularitas pemain dan membuka kesempatan di luar lapangan.

Singgung Uang dan Sponsor Merek Mewah




Football - Soccer - Lazio v AS Roma - Italian Serie A - Olympic Stadium, Rome, Italy - 4/12/2016. AS Roma's Radja Nainggolan celebrates after scoring. REUTERS/Alessandro BianchiFootball – Soccer – Lazio v AS Roma – Italian Serie A – Olympic Stadium, Rome, Italy – 4/12/2016. AS Roma’s Radja Nainggolan celebrates after scoring. REUTERS/Alessandro Bianchi Foto: Reuters

Selain fanatisme suporter, Nainggolan menyoroti potensi keuntungan finansial yang bisa diperoleh pemain yang membela Timnas Indonesia. Ia menyinggung keberadaan sponsor dari merek-merek mewah, seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex.

Menurut dia, popularitas Timnas Indonesia dapat menjadi modal komersial bagi para pemain, termasuk untuk membangun citra dan mempersiapkan kehidupan setelah karier profesional berakhir.

“Uang ada di mana-mana. Para pemain bahkan disponsori Louis Vuitton, Hublot, atau Rolex,” kata Nainggolan.

Ia juga membandingkan peluang tersebut dengan situasi pemain Indonesia yang berkarier di Eropa. Nainggolan menilai bahwa perhatian publik dan peluang komersial di Indonesia bisa memberikan nilai tambah bagi pesepak bola yang memiliki ikatan dengan Tanah Air.

Meski demikian, pernyataannya tersebut merupakan pandangan pribadi mengenai potensi popularitas dan keuntungan komersial. Hal itu tidak berarti setiap pemain Timnas Indonesia otomatis memperoleh sponsor dari merek-merek tersebut.

Karier Internasionalnya Bersama Belgia Tak Berlangsung Lama

Radja Nainggolan lahir di Antwerpen, Belgia, pada 4 Mei 1988. Ia memiliki ayah asal Indonesia, tetapi tumbuh besar di Belgia dan membangun karier sepak bolanya di Eropa.

Ketika masih muda, Nainggolan memilih memperkuat Timnas Belgia. Ia kemudian menjalani debut bersama tim senior pada 2009 dan mencatatkan 30 penampilan dengan torehan enam gol.

Salah satu periode penting dalam karier internasionalnya terjadi di Piala Eropa 2016. Nainggolan turut membantu Belgia mencapai perempat final dan mencetak gol dalam perjalanan tim tersebut di turnamen itu.

Namun, kariernya bersama tim nasional berakhir pada 2018 setelah ia tidak masuk dalam skuad Belgia untuk Piala Dunia di Rusia. Keputusan pelatih Roberto Martinez tersebut menjadi salah satu titik yang membuat perjalanan internasional Nainggolan tidak berlangsung lama.

Pengalaman itu turut memengaruhi cara pandangnya ketika kini menilai kembali keputusan membela Belgia.

Nainggolan membayangkan bahwa jika dahulu memilih Indonesia, ia mungkin dapat menjalani karier internasional yang lebih panjang bersama Timnas Garuda.

“Saya bisa saja menghabiskan waktu 15 tahun bermain untuk Indonesia,” ujarnya.

Sempat Bermain untuk Bhayangkara FC

Meski tidak pernah memperkuat Timnas Indonesia, Nainggolan akhirnya merasakan langsung atmosfer sepak bola Tanah Air ketika bergabung dengan Bhayangkara FC pada musim 2023/2024.

Kehadirannya saat itu menarik perhatian publik karena ia pernah bermain untuk klub-klub besar Eropa, termasuk AS Roma dan Inter Milan. Bersama Roma, ia dikenal sebagai gelandang dengan karakter permainan agresif, kemampuan bertahan, serta kontribusi dalam membangun serangan.

Pada 2018, Nainggolan pindah dari AS Roma ke Inter Milan dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai 38 juta euro.

Setelah melanjutkan karier di sejumlah klub Eropa, ia menerima kesempatan bermain di Indonesia. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat negara asal ayahnya sekaligus menyaksikan besarnya perhatian masyarakat terhadap sepak bola.

Namun, ketika bermain untuk Bhayangkara FC, peluang Nainggolan untuk beralih membela Timnas Indonesia sudah tertutup. Ia telah lebih dahulu memperkuat Belgia dalam pertandingan kompetitif tingkat senior, sehingga tidak memenuhi ketentuan perpindahan asosiasi sepak bola berdasarkan regulasi FIFA.

Saat ini, Nainggolan bermain untuk Patro Eisden, klub yang berkompetisi di divisi kedua Liga Belgia.

Penyesalan yang Datang Seiring Bertambahnya Usia

Pengakuan Nainggolan memperlihatkan bagaimana perspektif seorang pemain terhadap kariernya dapat berubah seiring bertambahnya usia. Ketika masih muda, ia memilih Belgia karena tumbuh dan mengembangkan karier sepak bolanya di negara tersebut.

Kini, setelah merasakan perjalanan panjang di Eropa dan sempat bermain di Indonesia, ia melihat kemungkinan lain yang dahulu tidak terlalu dipertimbangkan.

Baginya, membela Indonesia mungkin bukan hanya tentang pertandingan dan prestasi di lapangan. Dukungan suporter, popularitas, serta kesempatan membangun karier setelah pensiun juga menjadi hal yang patut diperhitungkan.

Meski penyesalan itu tidak dapat mengubah keputusan masa lalu, pernyataan Nainggolan kembali menyoroti besarnya daya tarik sepak bola Indonesia bagi pemain keturunan yang memiliki kesempatan memperkuat Timnas Garuda.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *