
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tajam pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Kejatuhan IHSG salah satunya disebabkan oleh pergerakan saham konglomerat.
Tekanan muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk memindahkan Indonesia dari kelompok Emerging Market ke Standalone Market.
Pengumuman yang keluar pada Jumat dini hari WIB itu langsung diikuti aksi jual di pasar saham. Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun lebih dari 8% hingga Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan. Tekanan terus berlanjut hingga akhir perdagangan, dengan IHSG ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185
Masalah yang disampaikan MSCI masih berkaitan dengan keterbukaan kepemilikan saham dan dugaan transaksi yang terkoordinasi. Sejumlah perbaikan sudah diumumkan otoritas Indonesia, tetapi investor belum melihat hasilnya secara konsisten di seluruh pasar.
MSCI juga menyinggung belum adanya bukti penegakan aturan yang berarti terhadap persoalan tersebut. Indonesia kini memiliki waktu untuk menunjukkan perbaikan sebelum keputusan akhirnya diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
Di tengah tekanan pasar tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di hari yang sama langsung mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saham dengan kepemilikan terkonsentrasi atau high shareholding concentration (HSC).
Dari 61 saham dalam daftar tersebut, sebanyak 31 telah diperiksa dan ditemukan indikasi dugaan pelanggaran pidana pasar modal.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut pemeriksaan itu antara lain mencakup DSSA, BREN, dan CUAN.
OJK menemukan indikasi manipulasi perdagangan saham DSSA serta pelanggaran dalam proses penawaran umum saham BREN dan CUAN. OJK juga mengumumkan denda administratif terkait ketiga emiten tersebut dengan total Rp2,1 triliun.
Rinciannya sebesar Rp1,5 triliun kepada DSSA, Rp500 miliar kepada BREN, dan Rp100 miliar kepada CUAN.
Ketiga saham itu sebelumnya termasuk yang ramai dibicarakan karena kenaikan harganya. Sebelum menghadapi pemeriksaan dan penurunan harga seperti sekarang, saham-saham tersebut sempat membawa nilai perusahaan melonjak dalam waktu singkat.
Salah satu saham yang paling ramai dibicarakan saat itu adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), perusahaan milik Prajogo Pangestu.
BREN masuk bursa pada 9 Oktober 2023 dengan harga penawaran perdana Rp780 per saham. Setelah tercatat, harganya terus naik hingga mencapai Rp8.050 pada 8 Desember 2023.
Dalam waktu sekitar dua bulan, harga BREN sudah naik sekitar 932% dari harga IPO. Kenaikan tersebut membawa kapitalisasi pasarnya menjadi sekitar Rp1.077 triliun.
Nilai itu melampaui kapitalisasi pasar PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang saat itu sekitar Rp1.068 triliun. BREN yang baru beberapa bulan masuk bursa berhasil menggeser BCA dari posisi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia.
Perjalanan BREN berlanjut hingga berhasil masuk dalam MSCI Global Standard melalui evaluasi November 2025.
Perubahan tersebut berlaku setelah penutupan perdagangan 24 November 2025.
Dari 24 saham yang CNBC Indonesia dihimpun, sebanyak 20 masih berada di atas harga awal pengamatan, dipimpin CUAN yang naik 1.900% dan SINI sebesar 1.226,1%.
BUVA, PGUN, dan PTRO juga masih mencatat kenaikan lebih dari 600%.
Banyak yang Sudah Jatuh Lebih dari Separuh
Kenaikan tersebut belum menggambarkan seluruh perjalanan harganya. Sejumlah saham memang masih jauh di atas harga awal pengamatan, tetapi sudah turun dalam dari posisi tertinggi.
CUAN, misalnya, masih naik 1.900% dari harga awal dalam tabel. Namun, saham ini pernah mencapai Rp2.770 sebelum turun menjadi Rp540 pada penutupan Jumat. Jika dihitung dari puncaknya, harga CUAN sudah jatuh 80,5%.
Kondisi serupa terjadi pada BREN. Harga penutupan Rp1.855 masih lebih tinggi dibandingkan harga awal pengamatan Rp975, tetapi sudah turun 84,4% dari puncaknya di Rp11.900.
Karena itu, hasil investasi bisa berbeda jauh tergantung kapan saham dibeli. Investor yang masuk sejak awal masih bisa mencatat keuntungan, sementara mereka yang membeli mendekati puncak menghadapi penurunan besar.
Berikut posisi saham-saham konglomerasi dibandingkan dengan harga tertingginya dalam empat tahun terakhir.
Sebanyak 21 dari 24 saham sudah kehilangan lebih dari separuh harga puncaknya, bahkan 15 saham turun lebih dari 70%. Penurunan terdalam terjadi pada TPIA sebesar 88,7%, disusul DSSA 84,6% dan BREN 84,4%.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar saham konglomerasi sudah meninggalkan masa ketika harganya terus mencetak rekor.
Meski banyak yang masih naik dibandingkan awal pengamatan, keuntungan yang sempat terbentuk saat harga mencapai puncak sudah banyak tergerus habis.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment