Kebangkitan pasar saham domestik terjadi di tengah berbagai langkah yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI), pemerintah, dan Danantara dalam merespons kekhawatiran investor setelah pengumuman MSCI pekan lalu.
Memasuki perdagangan hari ini, Rabu (21/10/2026), perhatian pelaku pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), perkembangan langkah reformasi pasar modal, serta arah pasar keuangan global.
Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bangkit pada perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah mengalami penurunan tajam selama dua hari perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melesat 282,28 poin atau 5,65% ke level 5.278,89.
Penguatan tersebut membawa IHSG kembali menembus level psikologis 5.000, setelah sehari sebelumnya ditutup di posisi 4.996,61.
Menariknya, IHSG sempat dibuka melemah di level 4.980,16, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Indeks langsung bergerak naik pada awal perdagangan, sebelum mengalami pergerakan naik turun di kisaran 5.100 hingga 5.200 sepanjang sesi pertama.
Memasuki sesi kedua, aksi beli semakin kuat. IHSG terus bergerak naik, menembus level 5.200, hingga akhirnya ditutup tepat di posisi tertinggi hariannya, yakni 5.278,89.
Aktivitas perdagangan juga terpantau ramai. Total volume transaksi mencapai 568 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp26,5 triliun.
Sayangnya, investor asing masih terpantau melakukan aksi jual yang signifikan. Tercatat net outflow asing sebesar Rp2,21 triliun di seluruh pasar.
Namun demikian, kenaikan IHSG kali ini terjadi setelah pasar saham domestik mengalami tekanan jual besar-besaran akibat pengumuman MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Sebagai pengingat, IHSG anjlok 11,57% pada Jumat (16/10/2026), kemudian kembali turun 3,64% pada Senin (19/10/2026).
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah langkah mulai dilakukan untuk memperbaiki kepercayaan investor.
BEI, misalnya, telah mengumumkan rencana mengeluarkan saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
Selain itu, sejumlah emiten milik konglomerat juga mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai mencapai triliunan rupiah.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan langkah tersebut serta respons investor asing terhadap upaya reformasi pasar modal domestik.
Beralih ke pasar valuta asing, rupiah juga berhasil menguat terhadap dolar AS pada perdagangan kemarin.
Penguatan tersebut membuat mata uang Garuda kembali keluar dari level psikologis Rp18.000/US$, setelah bertahan di atas level tersebut selama dua perdagangan sebelumnya.
Kenaikan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Mata uang Garuda dibuka menguat 0,11% ke level Rp18.010/US$, kemudian terus melanjutkan penguatannya hingga penutupan.
Pergerakan rupiah juga sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,22% ke posisi 101,758.
Pelemahan dolar AS tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat, di tengah kondisi pasar domestik yang mulai menunjukkan pemulihan.
Meski demikian, pasar masih akan mencermati perkembangan isu MSCI dan langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Terlebih, BI dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya pada hari ini, setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari.
Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih belum menunjukkan perubahan pada perdagangan Selasa kemarin.
Yield SBN tenor 10 tahun ditutup stabil di level 7,169%, sama seperti perdagangan sebelumnya.
Di pasar obligasi, yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Ketika yield naik, harga obligasi cenderung turun, sedangkan ketika yield turun, harga obligasi cenderung naik.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup beragam pada perdagangan Selasa (20/10/2026) atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Kinerja positif sejumlah emiten dan penurunan harga minyak berhasil mengangkat sentimen pasar, mengimbangi tekanan yang masih membayangi saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 529,85 poin atau 1,02% ke level 52.495,88. Indeks S&P 500 naik 0,28% ke posisi 7.712,57. Sebaliknya, Nasdaq Composite terkoreksi tipis 0,02% ke level 26.424,82.
Penguatan Dow Jones ditopang lonjakan saham produsen produk industri dan keselamatan 3M yang melesat lebih dari 5%. Kinerja laba perusahaan tersebut melampaui ekspektasi pasar, sekaligus mendorong manajemen menaikkan proyeksi kinerja setahun penuh.
Saham perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan Northrop Grumman juga menguat lebih dari 4% setelah membukukan laba di atas perkiraan analis.
Dari pasar komoditas, harga minyak dunia terkoreksi setelah sempat menguat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,8% ke US$101,79 per barel. Sementara itu, minyak Brent melemah 0,7% ke US$108,79 per barel.
Penurunan harga minyak, yang turut diikuti pelemahan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, membantu memperbaiki sentimen investor. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Saham AI Masih Dibayangi Kekhawatiran
Di sisi lain, saham-saham teknologi masih menghadapi tekanan akibat kekhawatiran terhadap keberlanjutan reli AI. Investor mulai mempertanyakan besarnya utang yang digunakan perusahaan untuk membangun infrastruktur AI serta prospek permintaan yang mampu menopang investasi jumbo tersebut.
Sentimen sektor teknologi sempat tertekan setelah perusahaan AI asal Korea Selatan, Elice, anjlok lebih dari 30% dalam debut perdagangannya di bursa. Pergerakan tersebut turut membebani pasar saham Korea Selatan dan menyeret sejumlah bursa Asia-Pasifik.
Meski demikian, sejumlah saham terkait AI mulai bangkit sepanjang perdagangan. Western Digital menguat lebih dari 3%, sedangkan Seagate Technology naik lebih dari 2%. Saham CoreWeave dan Marvell Technology masing-masing menguat lebih dari 1%.
Sebelumnya, S&P 500 ditutup di zona hijau pada Senin, sementara Nasdaq Composite melesat lebih dari 1%. Penguatan tersebut menjadi upaya pemulihan setelah aksi jual pekan lalu, ketika kekhawatiran terhadap besarnya utang untuk pembangunan infrastruktur AI semakin meningkat.
Jake Behan, Kepala Pasar Modal Direxion, menilai hubungan antara kenaikan suku bunga dan pertumbuhan saham mulai menghadapi ujian.
Sepanjang tahun ini, pasar cenderung mengabaikan kenaikan suku bunga karena prospek pertumbuhan, terutama dari sektor AI, dinilai cukup kuat untuk membenarkannya. Namun, dinamika tersebut mulai berubah pada pekan lalu.
Menurut Behan, laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa (hyperscalers) dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi ujian besar berikutnya bagi reli saham AI.
Investor diperkirakan akan lebih mencermati proyeksi pengembalian investasi (return on investment/ROI), belanja pusat data, serta belanja modal (capital expenditure/capex) untuk 2027 ketimbang sekadar angka laba kuartalan.
Dengan demikian, arah saham teknologi ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan membuktikan bahwa investasi AI bernilai besar benar-benar mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan.
Pada perdagangan hari ini, pelaku pasar keuangan Indonesia masih akan diselimuti oleh sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.
Perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada hari ini.
Sementara dari luar negeri, keputusan bank sentral China yang kembali mempertahankan suku bunga dan perkembangan pasar tenaga kerja Inggris juga menjadi perhatian pelaku pasar.
1. Aksi Borong Saham BUMN, Danantara Siap Masuk Pasar?
Saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya ramai-ramai menguat pada perdagangan Selasa (20/10/2026), seiring kebangkitan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah mengalami kejatuhan tajam selama dua hari sebelumnya.
Berdasarkan data Stockbit, sebanyak 20 saham BUMN dan anak usahanya kompak ditutup di zona hijau. Tidak ada satu pun saham pelat merah yang aktif diperdagangkan berakhir melemah, sementara enam saham lainnya masih berada dalam status suspensi.
Penguatan paling besar dicatatkan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang melesat 19,28% ke level Rp990 per saham.
Disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang terbang 16,38% ke Rp2.060, serta PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) yang naik 11,86% ke Rp66.
Saham-saham BUMN di sektor pertambangan dan energi juga mencatat kenaikan tajam, seperti PT Timah Tbk (TINS), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang sama-sama menguat lebih dari 10%.
Dari sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melonjak 9,84%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menguat 9,82%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 8,78%.
BBRI menjadi saham BUMN dengan nilai transaksi terbesar, yakni mencapai Rp1,87 triliun.
Secara keseluruhan, nilai transaksi 20 saham BUMN tersebut mencapai sekitar Rp6,34 triliun, dengan BBRI, BMRI, dan TLKM menyumbang hampir Rp4,6 triliun.
Sementara itu, enam saham BUMN lainnya masih berada dalam status penghentian sementara perdagangan atau suspensi, yakni ADHI, INAF, PTPP, WIKA, WSBP, dan WSKT.
Penguatan saham-saham pelat merah tersebut ikut mendorong kenaikan IHSG yang ditutup melesat 5,65% ke level 5.278,89.
Kenaikan indeks juga ditopang sektor infrastruktur yang melonjak 8,8%, disusul sektor keuangan sebesar 6,4% dan barang baku sebesar 4,6%.
Salah satu sentimen yang mendorong optimisme pasar datang dari rencana Danantara untuk menambah kepemilikan saham pada sejumlah perusahaan BUMN.
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan kesiapan Danantara untuk meningkatkan kepemilikan pada saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menilai sejumlah perusahaan di bawah naungan Danantara masih memiliki kondisi keuangan yang baik, meskipun harga sahamnya mengalami penurunan tajam.
Menurut Rosan, kondisi tersebut justru membuka peluang investasi jangka panjang.
“Justru melihat ini adalah opportunity untuk kita investasi jangka panjang,” ujar Rosan, dikutip dari CNBC Indonesia.
Rosan mencontohkan saham-saham perbankan yang saat ini memiliki valuasi relatif rendah. Bahkan, rasio price to book value (PBV) sejumlah saham bank rata-rata sudah berada di bawah satu kali, meskipun kondisi perbankan nasional dinilainya masih sehat dan menawarkan dividen yang menarik.
Danantara berencana melakukan pembelian saham secara bertahap, dengan tetap memperhatikan kondisi pasar.
Rencana tersebut muncul setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar akibat pengumuman MSCI yang membuka kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Sebagai pengingat, IHSG sebelumnya anjlok 11,57% pada Jumat (16/10/2026) dan kembali melemah 3,64% pada Senin (19/10/2026).
Di tengah tekanan tersebut, otoritas pasar modal juga telah mengumumkan sejumlah langkah perbaikan, termasuk rencana BEI mengeluarkan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
Presiden Prabowo Subianto juga meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat penegakan aturan terhadap pelanggaran di pasar modal, termasuk praktik perdagangan saham yang dilakukan secara terkoordinasi.
Kini, perhatian investor akan tertuju pada pelaksanaan rencana pembelian saham oleh Danantara dan apakah penguatan saham-saham BUMN dapat berlanjut dalam beberapa perdagangan mendatang.
2. Menanti Keputusan BI, Pasar Ramal Suku Bunga Akan Naik
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya pada Rabu (21/10/2026), setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari sejak Selasa kemarin.
Keputusan kali ini menjadi perhatian pelaku pasar, terutama setelah rupiah sempat kembali menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dan pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar akibat pengumuman MSCI.
Berdasarkan hasil polling CNBC Indonesia Research terhadap 13 institusi keuangan, sebanyak 10 responden memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%.
Sementara itu, tiga responden lainnya memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%.
Jika BI benar-benar menaikkan suku bunga, keputusan tersebut akan menjadi kenaikan pertama setelah BI mempertahankan bunga selama tiga bulan berturut-turut.
Sebagai catatan, sepanjang Mei hingga Juni 2026, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps, dari 4,75% menjadi 5,75%, untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi.
Tekanan pasar juga berasal dari kekhawatiran investor terhadap kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai tekanan tersebut tidak lagi hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga berpotensi meluas ke pasar obligasi dan nilai tukar.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan mulai meluas dari pasar saham ke pasar obligasi dan nilai tukar,” ujar Josua kepada CNBC Indonesia.
Menurutnya, kenaikan suku bunga dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan mengurangi risiko keluarnya modal asing.
Namun, kenaikan suku bunga tidak serta-merta mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang sedang dihadapi pasar keuangan Indonesia.
“Namun, kenaikan BI-Rate bukan jaminan rupiah langsung menguat, terutama karena sumber tekanan saat ini tidak sepenuhnya berasal dari perbedaan suku bunga, tetapi juga meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar keuangan Indonesia,” jelas Josua.
3. Bank Sentral China Kembali Tahan Suku Bunga
Bank sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) kembali mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya pada Selasa (20/10/2026), sejalan dengan perkiraan pasar.
Mengutip Reuters, PBOC mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di level 3,00%, sementara LPR tenor lima tahun tetap sebesar 3,50%.
Keputusan tersebut membuat kedua suku bunga tidak berubah selama 17 bulan berturut-turut.
LPR tenor satu tahun banyak digunakan sebagai acuan bunga pinjaman bagi dunia usaha, sementara LPR tenor lima tahun menjadi acuan penting untuk pinjaman jangka panjang, termasuk kredit pemilikan rumah.
Keputusan PBOC kali ini sebenarnya sudah diperkirakan pelaku pasar. Dalam survei Reuters terhadap 22 pelaku pasar, seluruh responden memperkirakan kedua suku bunga tersebut akan tetap dipertahankan.
Salah satu alasan China belum terburu-buru menurunkan suku bunga adalah pertumbuhan ekonominya yang mulai menunjukkan perbaikan.
Data terbaru menunjukkan ekonomi China tumbuh 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2026, meningkat dari 4,3% pada kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut juga melampaui perkiraan pasar dan membuat target pertumbuhan ekonomi pemerintah China sebesar 4,5%-5,0% untuk sepanjang 2026 semakin mungkin tercapai.
Namun, perbaikan ekonomi China masih belum merata.
Kuatnya ekspor menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, sedangkan konsumsi masyarakat, investasi swasta, dan sektor properti masih menghadapi tekanan.
Kondisi tersebut membuat pemerintah China perlu menjaga keseimbangan antara memberikan dukungan bagi perekonomian dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Di tengah keputusan mempertahankan suku bunga, PBOC juga tengah mempertimbangkan perubahan cara menentukan arah kebijakan moneternya.
Salah satu rencana yang sedang dikaji adalah menjadikan suku bunga transaksi pinjaman antarbank bertenor satu hari atau overnight reverse repo sebagai acuan kebijakan utama, menggantikan peran suku bunga reverse repo tenor tujuh hari.
Langkah tersebut bertujuan membuat perubahan kebijakan PBOC lebih cepat memengaruhi suku bunga di pasar keuangan dan biaya pinjaman bagi masyarakat maupun dunia usaha.
Meski demikian, belum ada keputusan final mengenai perubahan tersebut.
Dengan suku bunga pinjaman yang kembali dipertahankan, perhatian pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada langkah pemerintah dan PBOC untuk memperkuat konsumsi domestik serta menjaga pertumbuhan ekonomi China hingga akhir tahun.
4. Pengangguran Inggris Turun ke 4,7%
Pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah tingkat pengangguran turun lebih besar dari perkiraan pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Berdasarkan data Office for National Statistics (ONS) yang dirilis Selasa (20/10/2026), tingkat pengangguran Inggris turun menjadi 4,7%, dari 4,9% pada periode sebelumnya.
Angka tersebut juga lebih baik dibandingkan perkiraan pasar yang memperkirakan tingkat pengangguran masih berada di level 4,9%.
Penurunan tersebut membawa tingkat pengangguran Inggris ke posisi terendah sejak pertengahan 2025.
Jumlah pengangguran tercatat sekitar 1,71 juta orang, sedangkan jumlah penduduk yang bekerja mencapai 34,58 juta orang.
Perbaikan juga terlihat dari jumlah pekerja yang tercatat dalam sistem penggajian perusahaan. Pada September, jumlahnya bertambah sekitar 13.000 orang, setelah sebelumnya pasar memperkirakan akan terjadi penurunan.
Sementara itu, pertumbuhan upah pekerja Inggris mulai menunjukkan kenaikan.
Rata-rata upah mingguan di luar bonus meningkat 3,7% secara tahunan dalam tiga bulan hingga Agustus 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 3,6% pada periode sebelumnya.
Namun, kondisi pasar tenaga kerja Inggris belum sepenuhnya pulih.
Jumlah lowongan pekerjaan justru turun menjadi 691.000, posisi terendah di luar masa pandemi sejak 2014.
Penurunan jumlah lowongan tersebut terutama terjadi pada perusahaan-perusahaan kecil yang masih menghadapi kenaikan biaya tenaga kerja.
Mengutip Reuters, kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja Inggris mulai menunjukkan perbaikan, tetapi perusahaan masih berhati-hati dalam membuka lapangan pekerjaan baru.
Perkembangan tersebut juga menjadi perhatian bank sentral Inggris atau Bank of England (BoE), terutama menjelang keputusan suku bunga berikutnya pada 5 November 2026.
Pasar kini semakin memperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,00%, dari posisi saat ini sebesar 3,75%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut juga dipengaruhi tekanan inflasi akibat tingginya harga energi global di tengah konflik Timur Tengah.
Penguatan pasar tenaga kerja memberi ruang bagi BoE untuk lebih fokus menjaga inflasi tanpa terlalu khawatir terhadap pelemahan ekonomi domestik.
Berikut agenda ekonomi hari ini:
-
Presiden memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta Pusat
-
Keterangan Bareskrim Polri terkait dengan penanganan perkara beras khusus fortifikasi di Gedung Awaloedin Djamin Bareskrim Polri, Jakarta Selatan
-
Rapat Koordinasi Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan KEK Triwulan III Tahun 2026 yang akan dilaksanakan di Gedung A.A. Maramis, Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Perindustrian
-
Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Ruang Konferensi Pers, Gedung Thamrin, Jakarta Pusat
-
PERBANAS INSTITUTE menggelar CEO Lecture Series IV dengan tema “Transformasi Digital Perbankan Syariah: Membangun Ekosistem Berbasis Syariat Islam dari Hulu ke Hilir” dengan narasumber Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk.
-
Neraca perdagangan Jepang
-
Inflasi Inggris
Berikut agenda korporasi hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA)
-
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
Berikut indiktor ekonomi terkini :
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
Leave a comment