
Jakarta, CNBC Indonesia – Temuan tak biasa ditemukan di Bima Sakti. Sebuah bintang berwarna hijau baru pertama kali ditemukan dan berbeda dari warna bintang kebanyakan.
Biasanya bintang akan berwarna bergantung pada suhunya. Bintang yang lebih dingin berwarna oranye, Matahari dan bintang yang setipe tampak putih, dan terpanas berwarna biru pucat.
Sementara itu, bintang hijau WD J1330+6435 ditemukan sebagai sisa bintang padat atau katai putih yang biasanya berwarna putih. Bintang itu berada di konstelasi Draco Bima Sakti dan berjarak 280 tahun cahaya dari Bumi.
Astrofisikawan dari Universitas Warwick Inggris, Mark Hollands yang juga penulis utama studi menjelaskan pada katai putih, material planet jatuh ke permukaan, memperkaya bagian luar dengan unsur termasuk kalsium, litium, dan natrium.
Natrium pada bintang normal akan menyerang panjang gelombang oranye. Untuk katai putih tertentu, kepadatannya tinggi membuat atom natrium terus menerus dibombardir atom helium sekitarnya dan mengubah tingkat energi atom atrium.
“Hasilnya atom natrium tidak lagi menyerap satu panjang gelombang oranye yang sangat sempit, mereka menyerap kuning, oranye, dana sejumlah panjang gelombang merah. Dan tersisa bintang dengan cahaya kehijauan yang indah, sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada bintang seperti Matahari,” jelasnya, dikutip dari Reuters, Senin (19/10/2026).
Bintang katai putih sendiri berukuran sangat padat seperti Bumi dengan 165 ribu kali massa planet kita. Salah satu penulis studi lainnya, Boris Gansicke dari Universitas Warwick mengatakan ini membuat banyak cahaya oranye terhalang hanya dengan sedikit natrium.
Para peneliti melakukan penelitian pada 151 katai putih. Bintang-bintang tersebut berjarak sekitar 65 tahun cahaya dan rata-raya berwarna putih.
Salah satunya adalah WD J1011+2845 yang berwarna merah muda salmon dan paling terang dari semua bintang. Lokasinya berada di konstelasi Leo Minor dan berjarak 48 tahun cahaya dari Bumi.
Gansicke menjelaskan bukan natrium yang mengubah palet warna bintang ini. Namun karbon yang keluar dari bagian dalamnya.
“Alih-alih sesuatu menabrak bintang, karbon keluar dari bagian dalamnya pada kasus ini,” ungkapnya.
Para astronom juga menemukan katai putih memiliki warna yang beragam dan mencakup tiap warna spektrum. Semua katai putih ini juga memiliki perbedaan berdasarkan komposisi atmosfernya.
Misalnya berwarna merah muda atau ungu karena kaya akan karbon. Sementara warna kuning karena puing-puing dari sisa sistem planet yang hancur.
Untuk katai putih dengan suhu rendah dan atmosfer berisi hidrogen dan helium akan berwarna biru pucat.
(dem/dem)
Leave a comment