Home Finance Serangga Ajaib Pembawa Cuan di RI Terancam, Ini Penjelasannya
Finance

Serangga Ajaib Pembawa Cuan di RI Terancam, Ini Penjelasannya

Share
Serangga Ajaib Pembawa Cuan di RI Terancam, Ini Penjelasannya
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar mengganggu pernapasan manusia. Menurut laporan Bloomberg, asap yang menutup cahaya matahari kini mengancam serangga kecil yang menjadi tulang punggung produksi kelapa sawit dunia. Gangguan terhadap hewan ini dapat menurunkan pembentukan buah hingga 20% dan mengurangi pasokan minyak nabati global.

Kumbang yang dimaksud adalah Elaeidobius kamerunicus, serangga mungil asal Afrika Barat yang kini menjadi penyerbuk utama kelapa sawit di Indonesia. Sebelum kehadirannya, perkebunan sawit di Indonesia mengandalkan penyerbukan alami oleh angin dan beberapa serangga lokal yang efektivitasnya rendah. Petani harus melakukan penyerbukan buatan secara manual yaitu membasahi bunga dengan serbuk sari sendiri sehingga memakan waktu, tenaga, dan biaya sangat besar.

Pada tahun 1980-an, kumbang ini sengaja diperkenalkan ke perkebunan sawit Indonesia. Hasilnya mengubah peta industri sehingga pembentukan buah meningkat tajam tanpa perlu penyerbukan manual, biaya tenaga kerja turun drastis, dan produktivitas per hektare melonjak, menjadikan Indonesia pemasok minyak sawit terbesar dunia

Kini, hampir seluruh perkebunan sawit di Indonesia bergantung pada kumbang ini. Tanpanya, tandan buah menjadi jarang, ukuran buah mengecil, dan hasil panen turun drastis.

Kumbang ini hidup berputar di sekitar bunga kelapa sawit. Bunga jantan mengeluarkan aroma khas yang menarik kumbang berkumpul dan bersembunyi di antara kelopak bunga. Saat berpindah ke bunga betina, serbuk sari yang menempel di tubuhnya menempel ke putik, sehingga proses pembuahan terjadi.

Kehadiran kumbang ini sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari dan suhu udara. Kumbang paling aktif terbang saat cuaca cerah dan hangat. Jika langit tertutup asap tebal, cahaya berkurang, suhu turun, dan kumbang menjadi malas bergerak. Akibatnya, penyerbukan tidak sempurna sehingga banyak bunga yang tidak terbuahi, buah yang tumbuh berukuran kecil, dan sebagian gugur sebelum matang.

Menurut laporan Bloomberg, gangguan akibat asap dapat menurunkan pembentukan buah hingga 20%. Penurunan sebesar itu berdampak luas: harga minyak nabati dunia naik, pendapatan petani turun, dan rantai pasok industri pengolahan terganggu. Yang mengkhawatirkan, asap kebakaran kini terjadi semakin sering dan berlangsung makin lama, bertepatan dengan masa-masa penting pertumbuhan bunga di perkebunan.

Menurut Universitas Andalas, dengan populasi kumbang yang optimal (sekitar 5-10 individu per pelepah bunga jantan), fruit set (perbandingan antara buah yang produktif dengan seluruh buah di satu tandan kelapa sawit) dapat mencapai 80-90 persen. Sebuah studi menemukan bahwa populasi E. kamerunicus pada bunga jantan sebanyak 24.185 individu per hektare mampu menghasilkan nilai fruit set sebesar 82,18%.

Keunggulan kumbang E. kamerunicus sebagai agen penyerbuk bersifat spesifik dan tidak dapat direplikasi oleh teknologi buatan. Alasannya, kumbang ini memiliki waktu kunjungan yang sangat tepat, karena aktif pada saat bunga betina membuka sempurna, biasanya antara pukul 07.00 hingga 11.00 pagi, sehingga serbuk sari yang dibawa masih dalam kondisi viabel (hidup) karena baru diambil dari bunga jantan yang mekar pada hari yang sama.

Kemudian, frekuensi kunjungannya tergolong tinggi. Seekor kumbang dapat mengunjungi puluhan bunga betina dalam sehari. Dengan kepadatan populasi ideal, setiap bunga betina akan dikunjungi berkali-kali, memastikan tidak ada putik yang terlewat. Lalu, kumbang ini tidak merusak jaringan reproduktif tanaman. Berbeda dengan hama, E. kamerunicus hanya mengkonsumsi serbuk sari berlebih dan tidak memakan ovarium atau struktur bunga betina

Terakhir, setelah lebih dari 40 tahun hadir di Indonesia, kumbang ini telah beradaptasi sempurna dengan iklim tropis basah, termasuk pola curah hujan tinggi dan kelembapan yang fluktuatif. Populasinya dapat pulih dengan cepat setelah musim kemarau, asalkan tersedia bunga jantan sebagai sumber pakan dan tempat berkembang biak.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *