
Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji, mengungkapkan perkembangan teknologi kendaraan yang diklaim mampu menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan. Salah satunya adalah Range Extended Electric Vehicle (REEV), yang disebut mampu menempuh jarak hingga 65 kilometer (Km) hanya dengan satu liter BBM.
Bahkan, kendaraan dengan teknologi tersebut diklaim bisa menjangkau jarak hingga 1.600 kilometer dalam kondisi pengisian penuh.
“Penghematan BBM-nya banyak. Misalkan dengan Range Extended Electric Vehicle (REEV) itu 1 liter bisa tembus 65 km. Itu kan luar biasa. Sekali ngisi full bisa menjangkau 1.600 kilometer. Jadi pulang pergi Jakarta-Surabaya itu aman,” kata Sarmuji saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut Sarmuji, pengembangan kendaraan REEV bersama teknologi plug-in hybrid menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi BBM nasional, khususnya BBM bersubsidi. Selain lebih hemat bagi pengguna, teknologi tersebut juga dinilai dapat membantu menurunkan emisi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Dia menjelaskan, kendaraan REEV maupun plug-in hybrid masih memanfaatkan baterai dan mesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE). Dengan demikian, industri otomotif tidak harus melakukan perubahan total terhadap komponen produksi yang selama ini digunakan.
Karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana mendorong pemberian insentif bagi kendaraan REEV, hybrid, dan plug-in hybrid. Selama ini, insentif kendaraan elektrifikasi lebih banyak diberikan kepada mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV).
Adapun insentif yang akan diusulkan mencakup fasilitas fiskal berupa keringanan pajak, serta insentif nonfiskal seperti pembebasan aturan ganjil genap, parkir khusus, hingga fasilitas pengisian daya.
Sarmuji menegaskan, besaran insentif untuk kendaraan hybrid dan REEV tidak harus sama dengan mobil listrik murni. Namun, dukungan pemerintah diperlukan agar industri kendaraan hemat energi semakin berkembang.
“Akan kita dorong secepatnya. Mumpung ada momentum harga BBM lagi naik, ini ada momentum untuk memperkuat industri berbasis baterai dengan berbagai jenis variannya tadi. Sebulan dua bulan itu sangat berarti. Kita usahakan target tahun ini. Kita akan komunikasikan. Kalau tidak bisa ya tidak apa-apa awal tahun depan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Putu Juli Ardika mengatakan, sejumlah produsen otomotif sudah menunjukkan minat untuk mengembangkan kendaraan REEV di Indonesia.
Bahkan, menurutnya, salah satu produsen di Subang berencana menghadirkan model BYD M6 DM-i. Dia menilai pasar yang kuat, ditambah dukungan insentif pemerintah, akan mendorong masuknya investasi di sektor tersebut.
“Kalau dari yang ditunjukkan kemarin, sudah ada beberapa. Ada kelompok dari Indonesia yang termasuk di sana. Terus produsen di Subang juga akan mengeluarkan model BYD M6 DM-i. Tentunya kalau pasarnya besar dan kuat, ditambah ada insentif, investasi pasti akan mengarah ke sana,” ujar Putu dalam kesempatan yang sama.
Putu menambahkan, tren konsumen otomotif saat ini juga mulai bergeser ke kendaraan yang lebih hemat BBM. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penjualan mobil penumpang yang menurutnya lebih banyak didorong oleh kendaraan hemat bahan bakar, seiring tingginya harga BBM.
“Kita melihat bahwa sebenarnya dari kenaikan kendaraan penumpang (passenger car) sebesar 10% dibandingkan tahun lalu, itu lebih didorong oleh pembelian produk-produk kendaraan yang irit bahan bakar. Karena harga bahan bakar sudah tinggi. Itu yang terjadi. Sehingga penjualan mobil konvensional (Internal Combustion Engine) juga turun cukup signifikan,” katanya.
(hoi/hoi)
Leave a comment