
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan dirinya pernah mewanti-wanti Pemerintah Jepang karena ada proyek gas yang dikelola perusahaan Jepang di Indonesia, tepatnya di Kepulauan Tanimbar, Maluku, mangkrak selama 28 tahun.
Prabowo menyebut, bila perusahaan Jepang tersebut tidak segera melanjutkan proyek ini, maka dirinya pun tak segan-segan untuk mencabut kontrak yang berjalan.
Adapun, proyek gas yang dimaksud Prabowo ini yaitu proyek Blok Gas Masela di Maluku yang dikelola oleh Inpex Masela Ltd.
“Saya memberi instruksi ke Menteri ESDM, lebih dari 2 tahun tidak ada aktivitas nyata, cabut. Ada konsesi 28 tahun, di Maluku, Maluku Barat Daya, Masela, di Tanimbar. 28 tahun, tidak dikerjakan, saya terbang ke Jepang, saya ketemu tokoh di Jepang saya tanya dengan hormat, saya tanya dengan sopan, saya tanya dengan baik, Yang Mulia apa pihak Jepang, pihak Inpex masih tertarik kerjakan, kalau tidak, terpaksa kami harus mencabut karena rakyat kami sangat membutuhkan, rakyat masih banyak yang hidup susah, insya Allah kemarin mereka hadir, dan mereka janji dalam 6 bulan akan sudah mulai kegiatan aktivitas. Ya kita lihat saja nanti,” beber Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) 2026 di JIEXPO Convention Centre, Kamis (22/10/2026).
“Kita hormati siapa pun, saya berkali-kali menyampaikan bangsa Indonesia ini dasarnya adalah bangsa yang santun, bangsa yang ramah, bangsa yang suka dengan tamu, dasar kita begitu, tapi kadang-kadang keramahan kita, kebaikan kita kadang-kadang menjadi naif, naif itu lugu dianggap lugu, dan kadang-kadang dalam dunia persaingan lugu itu dianggap bego gak pintar,” tuturnya.
“Jadi kita harus hati-hati, dan bener sebetulnya di kalangan kita pun diajarkan filosofi kepemimpinan Jawa juga diajarkan pemimpin gak boleh lugu, saya kira di semua suku juga diajarkan pemimpin tidak boleh lugu, harus waspada. Kalau di filosofi Jawa eling wan waspada, ingat dan waspada nanti disalahartikan kalau kita waspada nanti kita paranoia, tapi paranoia kadang perlu. Api, kalau tidak hati-hati, api itu bahaya, kita butuh api tapi bisa mencelakakan,” tuturnya.
Groundbreaking Blok Masela
Setelah 28 tahun mangkrak, akhirnya Presiden Prabowo meresmikan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan proyek gas “raksasa” Lapangan Abadi, Blok Masela yang berlokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).
Presiden Prabowo meresmikan melalui video conference dari Istana Negara di Jakarta, sementara sejumlah pejabat, seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, serta Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa hadir langsung di lokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Acara ini juga disaksikan langsung oleh CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda. Inpex merupakan operator dan juga pemilik hak partisipasi (Participating Interest/PI) mayoritas di Blok Masela ini, yakni sebesar 65%.
Presiden Prabowo mengatakan, pihaknya bersyukur, setelah hampir tiga dekade menunggu, akhirnya Proyek Strategis Nasional (PSN) ini mulai dibangun juga.
“Pembangunan suatu bangsa adalah upaya kerja keras suatu bangsa, adalah perjalanan yang sangat jauh, yang membutuhkan persatuan semua unsur, semua elemen, dengan demikian proyek strategis nasional Abadi Masela ini merupakan suatu proyek yang sungguh sangat penting,” ungkapnya saat peresmian melalui video conference dari Jakarta, Kamis (16/7/2026).
“Proyek ini hampir 3 dekade 3 dasawarsa, kita tunggu. 3 dekade 3 dasawarsa rakyat menunggu. Alhamdulillah hari ini kita mulai pembangunan, dan pembangunan tidak boleh terhambat, harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya,” ujarnya.
“Saudara-Saudara sekalian, dari sejak awal kita sadar dan selalu menegaskan bahwa kemerdekaan suatu bangsa tujuannya adalah yang pertama tentunya bangsa itu ingin menjamin kelangsungan hidupnya. Dan di dalam dunia modern bahkan dari sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun, energi salah satu syarat dari kelangsungan hidup suatu bangsa. Dengan demikian, kita sadar bangsa Indonesia sadar bahwa kita diberi karunia yang luar biasa oleh yang Maha Kuasa,” tuturnya.
“Buktinya antara lain kita sudah paham bahwa di perairan kita di Tanimbar di Maluku ini kita memiliki cadangan energi yang sangat besar. Kita sudah sadar ini 28 tahun yang lalu, dan kita menghargai semua unsur, kita apresiasi kita harus memberi suatu penghargaan sekali lagi kepada semua unsur yang telah memungkinkan proyek ini terwujud,” tuturnya.
“Kita hargai, dari kawan-kawan kita dari Jepang yang investasi di sini, dan Inpex, kita berterima kasih saudara-saudara kita dari Malaysia Petronas juga ikut di sini, dan tentunya kita bangga putra putri kita perusahaan nasional Pertamina ada di sini, dan kita harus semua bahu membahu bekerja, sehingga proyek ini sukses dan proyek ini cepat produksi dan cepat menghasilkan,” ungkapnya.
“Jadi Saudara-Saudara, hari ini kita berbesar hati kita bangga alhamdulillah setelah puluhan tahun proyek ini berjalan dan kita hargai kawan-kawan kita dari Jepang, kita mulai proyek ini, kita cari suatu keuntungan bersama, kehormatan bagi tuan rumah adalah kalau mitranya, kalau tamunya bahagia itu kehormatan bagi tuan rumah,” ucapnya.
“Dengan demikian, proyek ini penting, saya menghargai dimulainya proyek ini, tadi disinggung proyek ini investasi besar US$ 20,9 miliar, hampir US$ 21 miliar akan menghasilkan lebih dari 9 juta ton gas kondensat dan sebagainya, sehingga ini akan sangat membantu bangsa Indonesia melaksanakan pembangunan,” tuturnya.
Tentang Blok Masela
Sebagaimana diketahui, proyek gas dengan nilai investasi mencapai US$ 20,95 miliar ini memiliki potensi gas sebanyak 6,97 triliun kaki kubik (TCF).
Gas dari Blok Masela ini nantinya akan diolah menjadi gas alam cair (LNG) di kilang LNG di darat dengan kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun (MTPA). Selain itu, Blok Masela juga akan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.
Proyek ini telah lama ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia. Pasalnya, kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Blok Masela sudah ditandatangani Inpex Corporation selaku operator Blok Masela dengan Pemerintah Indonesia sejak era Presiden BJ Habibie, tepatnya 16 November 1998.
Artinya, nyaris 30 tahun sejak kontrak pengelolaan blok migas ini ditandatangani, proyek ini belum juga beroperasi dan menghasilkan minyak dan gas bumi untuk kepentingan Indonesia.
Bahkan, PSC Blok Masela ini pun sudah diperpanjang menjadi 20 + 7 tahun hingga 2055 mendatang. Perpanjangan kontrak bagi hasil Inpex di Blok Masela ini diteken pada Oktober 2017 lalu saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dijabat oleh Ignasius Jonan. Kontrak Inpex di Blok Masela ini mestinya sudah berakhir di 2028, karena telah berkontrak selama 30 tahun dengan Pemerintah Indonesia.
Nah, karena proyek ini belum beroperasi dan Inpex pun berkomitmen melanjutkan proyek ini, akhirnya Pemerintah Indonesia memberikan perpanjangan 20 tahun sejak 2028, plus ditambah 7 tahun karena pemerintah sempat mengubah skema proyek kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/ LNG) dari di laut (offshore) menjadi di darat (onshore).
Inpex Masela Ltd merupakan pemegang hak partisipasi (Participating Interest/ PI) terbesar di Blok Masela yakni mencapai 65%.
Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas abadi yang berlokasi di Maluku itu.
Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lalu telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.
Perjanjian jual beli hak partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.
Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.
Setelah kontrak bagi hasil ditandatangani pada 1998, akhirnya Inpex menemukan cadangan gas jumbo di Blok Masela ini pada tahun 2000.
Setelah 19 tahun kemudian, baru lah Pemerintah Indonesia memberikan persetujuan atas Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) pertama (PoD-I) kepada Inpex untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) dari Kilang LNG Masela, dan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.
Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deep water, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan energi bersih melalui penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.
Penerapan CCS ini pun disetujui Pemerintah Indonesia pada 28 November 2023, melalui Revisi 2 PoD-I. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan tender FEED. Hingga akhirnya, Rabu, 9 April 2025, Inpex meluncurkan FEED OLNG ini.
(wia)
Leave a comment