Jakarta, CNBC Indonesia – Pembangunan bendungan raksasa oleh China di kawasan Himalaya memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan lingkungan dan infrastruktur negara-negara tetangganya, terutama India dan Bangladesh. Proyek tersebut juga berpotensi memengaruhi kepentingan investasi Jepang di kawasan Asia Selatan.
Bendungan Medog yang dibangun di Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet, dirancang memiliki kapasitas pembangkit listrik sekitar 60 gigawatt (GW), menjadikannya salah satu proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia.
Sungai tersebut mengalir dari Tibet menuju India dengan nama Sungai Siang, kemudian bergabung dengan sistem Sungai Brahmaputra sebelum memasuki Bangladesh. Dengan demikian, gangguan aliran sungai di wilayah hulu berpotensi berdampak pada kawasan hilir.
Mengutip analisis Stephen R. Nagy dan Jagannath Panda dalam The Japan Times, proyek Medog tidak hanya menimbulkan risiko lingkungan, tetapi juga menjadi perhatian geopolitik dan ekonomi bagi negara-negara di kawasan.
Bendungan Raksasa di Kawasan Rawan Bencana
Salah satu kekhawatiran utama terhadap proyek Medog adalah lokasinya yang berada di kawasan Himalaya, wilayah dengan aktivitas gempa bumi, tanah longsor, dan perubahan kondisi gletser yang tinggi.
Sebagai gambaran, gempa bumi di Nyingchi, Tibet, pada 2017 dilaporkan memicu lebih dari 1.800 tanah longsor dan membentuk sejumlah danau sementara akibat aliran sungai yang terhalang material longsoran.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gempa atau longsor di sekitar proyek dapat menghalangi aliran sungai dan membentuk bendungan alami. Jika air yang tertahan terlepas secara tiba-tiba, banjir berpotensi terjadi di wilayah hilir. Risiko ini semakin kompleks akibat perubahan iklim yang mempercepat pencairan gletser dan mengubah pola curah hujan.
Meski demikian, belum ada bukti bahwa Bendungan Medog akan mengalami kegagalan konstruksi. Kekhawatiran lebih mengarah pada besarnya dampak apabila terjadi bencana ekstrem, sehingga pemantauan lingkungan dan kajian keselamatan secara independen menjadi penting.
India dan Bangladesh Berisiko Terdampak
Bagi India, risiko terutama mengarah pada negara bagian Arunachal Pradesh dan Assam yang dilalui Sungai Brahmaputra. Sungai tersebut berperan penting bagi pertanian, transportasi, ekosistem, dan mata pencaharian jutaan penduduk.
Perubahan aliran air secara mendadak berpotensi mengancam permukiman, jembatan, jaringan irigasi, dan infrastruktur pembangkit listrik. Perubahan distribusi sedimen juga dapat memengaruhi kesuburan lahan pertanian serta ekosistem perairan.
Bangladesh yang berada lebih jauh di hilir turut menghadapi potensi risiko banjir, erosi tebing sungai, dan perubahan ketersediaan air tawar.
Meski begitu, besarnya dampak akan bergantung pada pengoperasian bendungan, kondisi musim, dan dinamika aliran sungai. Artinya, risiko tersebut tidak otomatis terjadi setelah proyek Medog beroperasi.
Investasi Infrastruktur Jepang Ikut Dipertaruhkan
Selain India dan Bangladesh, Jepang juga memiliki kepentingan terhadap stabilitas kawasan Himalaya, terutama melalui investasi infrastruktur di wilayah timur laut India.
Melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), Jepang telah mendukung pembangunan jalan, jembatan, dan jaringan transportasi untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah. Investasi tersebut bertujuan memperkuat perdagangan sekaligus membuka akses ekonomi di kawasan timur laut India yang selama ini menghadapi tantangan geografis.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Arunachal Pradesh, negara bagian India yang berbatasan langsung dengan China.
Meski sensitivitas politik membatasi keterlibatan langsung Jepang di wilayah tersebut, pembangunan infrastruktur di negara bagian sekitarnya, termasuk Assam, turut memperkuat konektivitas ekonomi kawasan.
Persoalannya, sejumlah jalur transportasi dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut bergantung pada kestabilan sistem Sungai Brahmaputra, yang alirannya berasal dari Tibet. Banjir ekstrem atau perubahan aliran sungai secara signifikan berpotensi merusak infrastruktur, meningkatkan biaya pemeliharaan, hingga menghambat distribusi barang dan aktivitas perdagangan.
Dengan demikian, proyek Medog turut menjadi perhatian Jepang. Meskipun bendungan tersebut dibangun di China, potensi dampaknya terhadap kawasan hilir dapat meningkatkan risiko investasi dan mengganggu konektivitas ekonomi yang tengah dikembangkan Jepang bersama India.
Jepang dan India Perlu Mitigasi Bencana
Menghadapi potensi risiko tersebut, Jepang dan India dinilai perlu memperkuat kerja sama dalam mitigasi bencana, terutama untuk melindungi infrastruktur dan masyarakat di sepanjang aliran Sungai Brahmaputra.
Jepang memiliki pengalaman dalam pengembangan infrastruktur tahan gempa, pengelolaan sungai, serta teknologi peringatan dini yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan kawasan terhadap bencana alam.
Dalam analisisnya, Stephen R. Nagy dan Jagannath Panda mengusulkan kerja sama yang mencakup pemantauan satelit, pengawasan danau glasial, kajian aktivitas gempa, serta pemodelan aliran sungai. Upaya tersebut dapat membantu mendeteksi potensi bahaya sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi bencana ekstrem.
Kerja sama juga dapat diperluas dengan melibatkan Bangladesh yang berada di hilir Sungai Brahmaputra. Jepang memiliki kepentingan pembangunan di negara tersebut, termasuk melalui proyek infrastruktur transportasi dan pengembangan kawasan industri Matarbari.
Melalui penguatan teknologi pemantauan bencana dan pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh, kerja sama ketiga negara diharapkan dapat mengurangi potensi kerugian ekonomi sekaligus melindungi masyarakat di kawasan hilir.
Transparansi China Jadi Kunci Keamanan Kawasan
Pembangunan Medog menunjukkan bahwa proyek energi terbarukan tidak otomatis terbebas dari risiko lingkungan dan sosial. Meski menghasilkan listrik tanpa pembakaran bahan bakar fosil, bendungan berskala besar tetap berpotensi memengaruhi ekosistem sungai, aliran air, hingga mata pencaharian masyarakat di wilayah hilir.
Dari sisi tata kelola, transparansi menjadi perhatian utama. Sebagai negara di hulu, China dinilai perlu menyediakan informasi mengenai kondisi aliran sungai dan operasional bendungan agar India serta Bangladesh dapat mengantisipasi potensi risiko bencana.
Pentingnya keterbukaan informasi ini juga tercermin dalam laporan UN-Water pada 2024. Secara global, sebanyak 79 negara melaporkan kurangnya data dan informasi sebagai tantangan dalam kerja sama pengelolaan air lintas negara, disusul keterbatasan sumber daya yang dilaporkan 78 negara dan kesulitan pertukaran informasi oleh 65 negara.
Jumlah negara yang melaporkan berbagai tantangan dalam kerja sama pengelolaan sumber daya air lintas negara. Foto: UN-Water, UNECE, UNESCO – Progress on Transboundary Water Cooperation: 2024 Update.
|
Meski data tersebut menggambarkan kondisi global, temuan ini relevan dengan persoalan Medog yang melibatkan aliran sungai lintas negara. Bagi India dan Bangladesh, akses terhadap data hidrologi menjadi penting untuk mengantisipasi perubahan debit air, mengelola risiko banjir, serta melindungi aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang Sungai Brahmaputra.
Pada akhirnya, keberlanjutan proyek energi tidak cukup dinilai dari kapasitas listrik yang dihasilkan atau kontribusinya terhadap pengurangan emisi. Pengelolaan risiko lingkungan, perlindungan masyarakat terdampak, dan tata kelola yang transparan juga menjadi faktor penting dalam menjaga manfaat ekonomi proyek dalam jangka panjang.
(slm/slm)

Leave a comment