
Jakarta, CNBC Indonesia – Seorang pengusaha kaya raya pernah membangun jalur kereta sepanjang 30 kilometer di selatan Jakarta pada 1924. Bukan untuk melayani masyarakat umum, jalur tersebut dibangun untuk memperlancar pengangkutan hasil bumi dari tanah-tanah partikelir milik perusahaan keluarganya.
Sosok di balik pembangunan itu adalah Alfred Ernest Reinier Arnold (1873-1959), pengusaha Belanda yang mengelola Maatschappij tot Exploitatie van Rijstlanden op Java Michiels-Arnold. Surat kabar De Telegraaf (24 Desember 1926) menyebutkan jalur kereta tersebut menghubungkan Jonggol-Lemahabang dan sepenuhnya digunakan untuk kepentingan perusahaan.
Pembangunan jalur kereta menjadi bagian dari upaya perusahaan mengelola bisnis pertaniannya. Dengan jalur transportasi khusus, pengangkutan hasil bumi dari lahan-lahan perusahaan dapat ditunjang oleh infrastruktur yang mereka bangun sendiri.
Bisnis tersebut berakar dari kekayaan keluarga Michiels-Arnold yang telah berkembang sejak abad ke-19. Salah satu leluhurnya adalah Augustijn Michiels (1769-1833), yang dikenal dengan nama Mayor Jantje. Setelah pensiun dari kedudukannya sebagai tentara, dia mengelola tanah luas di selatan Batavia, termasuk di Cileungsi, Klapanunggal, Citeureup, Nanggewer, dan Nambo. Namanya pun tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia masa kolonial.
Sebagian tanah itu kemudian diwariskan kepada keturunannya, termasuk Augustina Michiels. Dia menikah dengan pengusaha Jan Willem Arnold (1813-1885) dan bersama-sama menguasai tanah warisan di sejumlah wilayah, antara lain Cileungsi, Cibarusah, Cipamingkis, Tanah Baru, dan Klapanunggal.
Untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis keluarga, didirikan Maatschappij tot Exploitatie van Rijstlanden op Java Michiels-Arnold pada 1887. Perusahaan tersebut mengelola lahan pertanian, termasuk tanah penghasil beras, yang menjadi sumber pendapatan keluarga.
Pada 1930-an, perusahaan berada di bawah kendali Alfred Ernest Reinier Arnold, cucu pasangan Michiels-Arnold. Di tangan dialah, jalur kereta baru sepanjang 30 Km dibangun pada 1924 dan menjadi salah satu infrastruktur pendukung kegiatan usaha mereka.
Besarnya bisnis tersebut terlihat dari keuntungan yang diraih menjelang akhir masa kolonial. Koran Bataviaasch nieuwsblad (16 Juni 1932) memberitakan, perusahaan itu membukukan keuntungan nyaris 400 ribu gulden pada tahun tersebut. Keuntungan ini makin meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Namun, usaha keluarga Michiels-Arnold berakhir ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942. Jepang kemudian mengambil alih aset perusahaan-perusahaan milik cucu orang terkaya tersebut.
(mfa/wur)
Leave a comment