Home Finance Spanyol No.1, RI Peringkat Berapa?
Finance

Spanyol No.1, RI Peringkat Berapa?

Share
Spanyol No.1, RI Peringkat Berapa?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Kepercayaan masyarakat terhadap sains ternyata tak selalu sejalan dengan kemajuan teknologi dan pendidikan suatu negara.

Negara yang lebih maju belum tentu memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi terhadap sains, menunjukkan bahwa kemajuan intelektual tak otomatis membuat masyarakat lebih percaya pada ilmu pengetahuan.

Hal ini tercermin dalam laporan Wellcome Global Monitor 2026 yang mengungkap tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains di 140 negara, termasuk Indonesia.

Survei yang melibatkan lebih dari 140.000 responden sepanjang 2025 tersebut mengukur seberapa besar masyarakat mempercayai sains. Pemeringkatan didasarkan pada persentase responden berusia 15 tahun ke atas yang menyatakan sangat percaya terhadap sains (trust in science “a lot”).

Negara Paling Percaya Sains, Indonesia di Urutan Berapa?

Spanyol menempati posisi teratas dengan 67,9% responden menyatakan sangat percaya terhadap sains, disusul Finlandia sebesar 65,9%.

Namun, dua posisi berikutnya justru ditempati negara Asia Tengah, yakni Uzbekistan (63,8%) dan Tajikistan (60,7%). Keduanya bahkan lebih unggul dibandingkan sejumlah negara dengan industri penelitian dan teknologi yang lebih maju, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis.

AS sendiri berada di peringkat ke-13 dengan 52,5%, sementara Inggris menempati urutan ke-14 dengan 51,2% dan Prancis di posisi ke-16 dengan 50,2%.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia berada di peringkat ke-89 dari 140 negara. Posisi tersebut cukup jauh di bawah sejumlah negara tetangga, seperti Filipina (37,6%), Singapura (32%), dan Vietnam (31,7%).

Meski begitu, Indonesia masih unggul dibandingkan Malaysia (18,7%), Kamboja (18,4%), dan Thailand (13,2%).

 

Di posisi terbawah, Togo mencatat tingkat kepercayaan tinggi terhadap sains paling rendah, yakni 5,8%, diikuti Makedonia Utara (8,2%), serta Georgia dan Somalia yang masing-masing mencatat 9,1%.

Angka-angka tersebut hanya mengukur responden yang menyatakan sangat percaya terhadap sains, bukan keseluruhan masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan.


Pendidikan Tinggi Belum Tentu Membuat Masyarakat Lebih Percaya Sains

Sejumlah negara dengan sistem pendidikan dan inovasi yang maju memang mendominasi peringkat atas. Finlandia, Jerman, dan Swedia, misalnya, seluruhnya masuk dalam jajaran 10 besar negara dengan tingkat kepercayaan tinggi terhadap sains.

Namun, hasil survei juga memperlihatkan pola yang berbeda. Uzbekistan dan Tajikistan justru mampu lebih unggul dari sejumlah negara maju, meskipun memiliki tingkat pembangunan ekonomi serta kapasitas penelitian yang berbeda.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi dan pendidikan saja belum cukup untuk menjelaskan perbedaan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains.

Peneliti Wellcome bahkan tidak menemukan bukti kuat mengenai hubungan yang konsisten antara kepercayaan terhadap sains dan literasi ilmiah.

Apakah Agama Memengaruhi Kepercayaan terhadap Sains?

Selain pendidikan, agama juga menjadi salah satu aspek yang kerap dikaitkan dengan pandangan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Namun, hasil pemeringkatan memperlihatkan bahwa hubungan keduanya tidak sesederhana itu.

Uzbekistan dan Tajikistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam masuk dalam empat besar negara dengan tingkat kepercayaan tinggi terhadap sains.

 

Sebaliknya, Pakistan yang juga memiliki mayoritas penduduk Muslim berada di peringkat ke-136 dengan persentase hanya 9,3%.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa negara dengan agama mayoritas yang sama belum tentu memiliki tingkat kepercayaan terhadap sains yang serupa.

Gambaran yang tidak kalah menarik juga terlihat dari kalangan ilmuwan. Penelitian Theos Think Tank menemukan bahwa 94% ilmuwan yang disurvei di India dan 87% di Turki mengidentifikasi diri dengan tradisi agama tertentu.

Persentase tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan AS sebesar 40% dan Inggris Raya sebesar 36%.

 

Sementara itu, penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa sebagian pemeluk Islam, Hindu, dan Buddha memandang agama dan sains sebagai dua hal yang dapat berjalan berdampingan, bukan selalu bertentangan.

Hal ini menunjukkan bahwa identitas agama saja tidak cukup untuk menjelaskan tingkat kepercayaan seseorang terhadap sains. Konteks budaya, pandangan masyarakat, serta cara komunitas keagamaan memahami temuan ilmiah juga perlu diperhatikan.

Kepercayaan terhadap Sains Dunia Menurun Sejak 2020

Selain menunjukkan kesenjangan antarnegara, laporan Wellcome mencatat adanya penurunan kepercayaan terhadap sains secara global dalam lima tahun terakhir.

Pada 2025, sebanyak 72% responden menyatakan cukup atau sangat percaya terhadap sains, turun dari 80% pada 2020. Angka tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan 2018 yang mencapai 77%.

Sebaliknya, kelompok responden yang menyatakan sedikit atau sama sekali tidak percaya terhadap sains meningkat dari 13% pada 2020 menjadi 19% pada 2025.

Perbandingan ini menggunakan data dari 108 negara yang tercakup dalam ketiga periode survei. Wellcome juga mencatat adanya perubahan metode survei di China yang memengaruhi hasil agregat global.

 

Di luar pendidikan dan agama, kondisi ekonomi serta kepercayaan terhadap institusi turut berkaitan dengan pandangan masyarakat terhadap sains.

Sebanyak 39% responden yang merasa hidup nyaman dengan pendapatannya menyatakan sangat percaya terhadap sains. Namun, persentasenya turun menjadi 20% pada kelompok yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Perbedaan serupa terlihat dari kepercayaan terhadap layanan kesehatan. Secara global, sekitar 26% responden sangat percaya terhadap sains, sementara persentasenya mencapai 43% di antara masyarakat yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap rumah sakit dan fasilitas kesehatan di negaranya.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kepercayaan terhadap sains tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan ilmiah, tetapi juga bagaimana masyarakat memandang institusi dan merasakan manfaat ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

 

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *