
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Istilah corporate psychopath atau ‘psikopat korporat’ di dunia kerja sering kali terdengar familier, tetapi tak jarang disalahartikan. Sosok manajer manipulatif yang menghalalkan segala cara demi ambisi pribadi kerap menjadi tropi populer, meski bukti empirisnya masih memicu perdebatan di kalangan akademisi.
Studi riset yang sempat viral pada 2016 pernah mengklaim 1 dari 5 pekerja profesional memiliki kecenderungan psikopat, walau laporan tersebut ditarik kembali dua tahun kemudian. Para psikiater sendiri mencatat hanya sekitar 1% dari populasi umum yang secara klinis mengidap psikopat.
Meski begitu, fenomena individu menghalalkan segala cara demi memanjat tangga karier korporasi bukan isapan jempol semata. Sistem kapitalisme korporat dinilai memberi celah besar bagi mereka yang paling dingin, dominan, dan manipulatif untuk berkuasa.
Salah satu peneliti psikopatologi korporat terkemuka dunia, Clive Boddy, membongkar rekam jejak paling awal dari praktik kepemimpinan beracun (toxic leadership) dalam penelitiannya di Asian Journal of Business Ethics. Studi ini mengulas kisah nyata abad ke-17 yang membuat ulah bos toksik zaman modern tampak tak ada apa-apanya.
Jeronimus Cornelisz: ‘Bos Terburuk’ dalam Sejarah Korporasi
Sosok tersebut adalah Jeronimus Cornelisz, individu yang layak menyabet predikat bos terburuk sepanjang masa. Pada abad ke-17, pria asal Belanda ini telah mempraktikkan seluruh tabiat psikopat korporat saat bekerja untuk konglomerat multinasional pertama di dunia: Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Didirikan di Amsterdam pada 1602, VOC memiliki kekuatan finansial dan militer yang bahkan menyaingi negara berdaulat. VOC menguasai perdagangan rempah, kopi, hingga perbudakan, serta memegang hak istimewa untuk mencetak uang, membentuk koloni, hingga mengeksekusi tahanan.
Bencana terjadi pada Juni 1629 ketika kapal megah milik VOC, Batavia, karam di lepas pantai Australia Barat. Sekitar 300 penumpang selamat dan terdampar di pulau terpencil. Ketika perwira senior berlayar menggunakan perahu kecil sejauh 1.900 mil menuju Batavia (sekarang Jakarta) untuk meminta bantuan, mereka menunjuk Jeronimus Cornelisz-seorang under-merchant (asisten pedagang)-sebagai pimpinan sementara.
Kudeta Berdarah, Pembunuhan Massal, dan Narsisme Ekstrem
Tanpa disadari manajemen VOC, Cornelisz sebenarnya telah merencanakan pembangkangan (mutiny) sejak awal. Ia berambisi merebut kendali atas kapal beserta tumpukan emas dan perak untuk mendirikan kerajaannya sendiri.
Terdampar di pulau bukannya menyadarkan Cornelisz, melainkan makin memuluskan aksi pengambilalihan kekuasaan secara paksa (hostile takeover).
Cornelisz mengonsolidasikan kekuasaan dengan menyingkirkan jajaran dewan dan menggantinya dengan para loyalis yang dipaksa mengucap sumpah setia dengannya. Ia menipu kelompok yang berseberangan, di bawah pimpinan prajurit Wiebbe Hayes, untuk mencari pasokan air di pulau lain, lalu meninggalkan mereka agar mati kelaparan.
Selama tiga bulan memimpin, Cornelisz menginstruksikan gengnya untuk membantai lebih dari 100 pria, wanita, dan anak-anak sesama penyintas. Pembunuhan tersebut dibungkus dengan dalih penghematan rasio makanan dan air, meski motif aslinya adalah menumpas siapa pun yang dianggap mengancam otoritasnya.
Namun, Cornelisz meremehkan kelompok yang ia buang. Kelompok Wiebbe Hayes justru berhasil menemukan sumber air tawar, berburu, dan selamat. Bentrokan senjata antar-kelompok tak terhindarkan hingga kapal penyelamat dari Batavia akhirnya tiba pada Oktober 1629. Dari ratusan penumpang awal, hanya tersisa sepertiga yang berhasil selamat.
‘Evaluasi Kinerja’ Maut untuk sang Psikopat
Petinggi VOC menilai aksi Cornelisz telah melebihi batas, bahkan untuk standar korporasi bertangan besi seperti VOC sekalipun. Pihak berwenang menjatuhkan hukuman gantung kepada Cornelisz dan loyalis utamanya, setelah terlebih dahulu memotong kedua tangan mereka.
Boddy menegaskan bahwa tragedi kapal Batavia menjadi bukti bagaimana struktur korporasi dapat memberi panggung bagi perilaku psikopatik sejak bentuk perusahaan modern pertama kali diciptakan.
“Taktik (playbook) yang kita lihat di lingkungan kerja toxic hari ini sudah muncul pada kasus tahun 1629 tersebut,” jelas Boddy. “Ia menyingkirkan oposisi, memberi panggung pada loyalis, menebar ketakutan, memanipulasi pengikut, dan mengejar kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.”
Tragedi ini menjadi pelajaran kelam bagi dunia bisnis: ketika dua pemimpin dihadapkan pada krisis yang sama, kelompok di bawah pimpinan seorang psikopat merosot ke dalam pembantaian, sementara kelompok lainnya berhasil bertahan hidup lewat kepemimpinan yang rasional.
(fab)
Leave a comment