
Jakarta, CNBC Indonesia – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai Indonesia jangan hanya berpuas diri dan cukup sampai program hilirisasi pertambangan. Indonesia dinilai perlu membangun ekosistem terintegrasi industrinya, mulai dari pabrik bahan baku pendukungnya hingga menciptakan produk akhir yang bisa langsung dinikmati konsumen di Tanah Air.
Direktur Eksekutif DEN Tubagus Nugraha mengatakan, pemerintah kini perlu mulai memikirkan industri ekosistem pendukung industri pengolahan ini. Terlebih, ketika tensi geopolitik dunia yang memanas sejak awal tahun ini dan berdampak pada lonjakan harga sejumlah komoditas, termasuk sulfur yang merupakan bahan baku pengolahan hilirisasi nikel di Tanah Air.
Dengan banyaknya fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel untuk bahan baku baterai, termasuk smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang membutuhkan banyak sulfur, maka pasokan sulfur menjadi salah satu hal penting pada industri pengolahan nikel ini.
“Bangun ekosistem di mana kemudian industri bahan baku penolong, sulphuric acid mungkin pertama-tama di industri copper, kenapa? Copper–copper itu by product-nya asam sulfat, bisa dipakai menghubungkan-menghubungkan ekosistem di Kaltara… Ini yang kemudian ekosistem ini akan kita rapikan, kemudian industri penolongnya kita perkuat,” tuturnya dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk “Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?”, dikutip Kamis (29/10/2026).
Dia menjelaskan, pada akhir 2026, nilai ekspor dari hilirisasi tambang RI diperkirakan bisa mencapai US$ 50 miliar, terdiri dari US$ 32 miliar dari nikel, US$ 7 miliar dari bauksit/aluminium, serta US$ 3 miliar dari material baterai.
“Walaupun kita enggak punya lithium, kita produksi namanya lithium hidroksida, lithium karbonat gitu,” ujarnya.
“Bangun kapasitas selanjutnya, bangun ekosistemnya. Ini yang kemudian industri penolong dan bahan baku ini sekarang teman-teman eksportir, bisa kita (produksi) sulfur, sulphuric acid,” ujarnya.
“Ini menjadi PR bagaimana kemudian menamakan hilirisasi itu tentang apa yang kita olah, tapi ketika ngomong apa itu industrialisasi, siapa yang memanfaatkan? Creating demand. Yang tadi mungkin pertanyaan itu adalah creating demand. Maka kemudian kita mikirnya bagaimana kemudian itu bisa dikembangkan, data center bisa dikembangkan, dan sebagainya,” jelasnya.
“Ini ada relasi yang saling panjang bahwa semakin panjang jalur nilai tambah akan semakin banyak manfaatnya,” tukasnya.
Seperti diketahui, ketergantungan terhadap impor sulfur mulai mengancam keberlangsungan industri hilirisasi nikel Indonesia. Adapun, gangguan rantai pasok global terutama dari kawasan Timur Tengah, berpotensi mengganggu operasional pabrik pengolahan nikel berbasis hidrometalurgi.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah sempat mengungkapkan sekitar 75-80% kebutuhan impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Adapun dari total sekitar 5,3 juta ton impor, porsi terbesar disuplai oleh negara-negara di kawasan tersebut.
“Pasokan yang sangat terkonsentrasi ini, setelah penutupan Selat Hormuz, mengakibatkan terganggunya bahkan akan terputusnya sumber bahan baku utama untuk refinery HPAL di Indonesia,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Arif mengatakan, sulfur merupakan komponen krusial dalam industri hilirisasi nikel, khususnya untuk memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian (leaching) pada fasilitas pengolahan berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL).
“Produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) battery grade nickel dengan menggunakan teknologi HPAL yang sangat bergantung pada asam sulfat,” katanya.
Dari sisi kebutuhan, industri membutuhkan sekitar 10-12 ton sulfur untuk menghasilkan 1 ton nikel dalam bentuk MHP. Hal ini menjadikan sulfur sebagai salah satu komponen biaya terbesar dalam proses produksi HPAL.
“Sebagai negara produsen terbesar untuk material nikel-kobalt (MHP) dari proyek-proyek HPAL, Indonesia sangat bergantung pada impor sulfur dari Timur Tengah,” katanya.
(wia)
Leave a comment