Jakarta, CNBC Indonesia – Produksi logam dunia pada 2025 menunjukkan besarnya kebutuhan industri global terhadap berbagai jenis mineral, mulai dari bijih besi yang diproduksi hingga miliaran ton untuk menopang pembangunan infrastruktur, hingga logam khusus yang hanya dihasilkan dalam jumlah puluhan ton untuk kebutuhan teknologi canggih.
Perbedaan volume produksi ini mencerminkan peran strategis setiap komoditas dalam perekonomian modern, baik untuk konstruksi dan transportasi maupun untuk kendaraan listrik, baterai, serta perangkat elektronik. Meski volumenya jauh lebih kecil, logam khusus tetap memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan teknologi dan transisi energi global.
Dunia menambang sekitar 2,8 miliar ton komoditas logam sepanjang 2025.
Bijih besi menjadi komoditas paling dominan dengan volume mencapai sekitar 2,6 miliar ton, atau sekitar 93% dari total 35 komoditas yang tercatat.
Besarnya produksi bijih besi mencerminkan kebutuhan industri baja yang digunakan untuk membangun gedung, jembatan, kendaraan, mesin, hingga infrastruktur transportasi.
Di sisi lain, sejumlah logam yang diproduksi dalam volume jauh lebih kecil justru semakin penting bagi industri baterai, kendaraan listrik, dan teknologi elektronik.
Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS) dalam Mineral Commodity Summaries 2026, produksi 35 komoditas logam pada 2025 mencapai sekitar 2,8 miliar ton.
Angka tersebut mencakup berbagai jenis komoditas dengan tahapan pengukuran yang berbeda, mulai dari berat bijih dan konsentrat hingga kandungan logam maupun hasil peleburan.
Bijih Besi Jauh Ungguli Produksi Logam Lain
Bijih besi menjadi komoditas dengan volume produksi terbesar, mencapai sekitar 2,6 miliar ton pada 2025. Jumlah tersebut lebih dari 35 kali lipat produksi aluminium primer yang berada di posisi berikutnya, yakni sekitar 74 juta ton.
Di luar bijih besi, aluminium dan bijih serta konsentrat kromium menjadi komoditas dengan produksi terbesar berikutnya, masing-masing mencapai 74 juta ton dan 51 juta ton. Tembaga menyusul dengan 23 juta ton, diikuti mangan sebesar 20 juta ton dan seng 13 juta ton.
Besarnya produksi logam-logam tersebut berkaitan dengan kebutuhan industri dan infrastruktur.
Aluminium banyak digunakan dalam konstruksi, kendaraan, kemasan, dan jaringan listrik. Sementara kromium menjadi bahan penting dalam produksi baja tahan karat karena kemampuannya meningkatkan ketahanan terhadap korosi.
Berbeda dengan logam industri, sejumlah komoditas yang digunakan dalam teknologi modern diproduksi dalam volume jauh lebih kecil. Meski demikian, perannya semakin penting dalam pengembangan baterai, kendaraan listrik, turbin angin, dan perangkat elektronik.
Pada 2025, produksi unsur tanah jarang atau rare earth mencapai sekitar 390.000 ton. Kobalt dan litium masing-masing tercatat sebesar 310.000 ton dan 290.000 ton. Produksi litium bahkan meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 2020 yang sekitar 82.500 ton.
Litium menjadi bahan penting dalam baterai isi ulang, sementara kobalt digunakan dalam sejumlah jenis kimia baterai.
Adapun unsur tanah jarang seperti neodimium dan praseodimium dibutuhkan untuk magnet permanen pada motor listrik dan turbin angin.
Volume Produksi Bukan Penentu Nilai Ekonomi
Perbedaan skala produksi juga terlihat pada logam mulia. Emas hanya diproduksi sekitar 3.300 ton pada 2025, jauh di bawah perak yang mencapai 26.000 ton dan tembaga sebesar 23 juta ton.
Meski volumenya kecil, emas tetap memiliki nilai ekonomi tinggi karena kelangkaan serta penggunaannya dalam perhiasan, investasi, dan teknologi.
Hal serupa terlihat pada platinum dan paladium yang masing-masing diproduksi sekitar 170 ton dan 190 ton, tetapi memiliki peran penting dalam katalis kendaraan dan berbagai proses industri.
Negara Ini Singkirkan China Jadi Pembeli Emas Terbesar Dunia Foto: Infografis/ Negara Ini Singkirkan China Jadi Pembeli Emas Terbesar Dunia/ Ilham Restu
|
Dengan demikian, besarnya volume tambang tidak selalu mencerminkan nilai ekonomi maupun kepentingan strategis suatu logam.
Bijih besi mendominasi dari sisi jumlah produksi, sedangkan logam seperti litium, kobalt, dan unsur tanah jarang memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi.
Data produksi tersebut juga perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan basis pengukuran. Bijih besi dan kromium dihitung berdasarkan berat bijih atau konsentrat, sedangkan sejumlah komoditas lain dihitung berdasarkan kandungan logam.
(mae/mae)

Leave a comment