
Jakarta, CNBC Indonesia – Sebagai negara yang area wilayahnya sekitar 70%-nya merupakan laut, potensi ekonomi sektor kelautan Indonesia sangat besar. Namun produksi perikanan Indonesia masih kalah jauh dari China.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan, China mencatat rata-rata produksi perikanan periode 2019-2023 mencapai sekitar 86 juta ton/tahun. Sementara produksi perikanan Indonesia mencapai 22,32 juta ton/tahun.
Untuk posisi ketiga ditempati oleh India yang mencapai sekitar 14,8 juta ton/tahun. Lalu diikuti oleh Vietnam yang mencapai 8,23 juta ton/tahun.
Produksi sektor perikanan ini berupa ikan tangkap, budidaya ikan, dan terakhir adalah produksi rumput laut.
Dari data ini, yang menariknya adalah untuk China, India, Vietnam, produksi perikanannya didominasi oleh perikanan budidaya. Sementara Indonesia masih didominasi oleh ikan hasil tangkapan di laut.
Karena itu, pemerintah pimpinan Prabowo Subianto lewat Kementerian Kelautan dan Perikanan mempunyai rencana besar untuk membangun ekonomi sektor perikanan. khususnya perikanan budidaya.
Sepanjang 2025-2029, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan pemerintah akan melakukan revitalisasi budidaya ikan di Pantai Utara jawa (Pantura) seluas 14.000 hektar (Ha). Kemudian dalam periode tersebut akan dibangun kawasan budi daya udang terintegrasi seluas 2.000 Ha.
“Peningkatan populasi penduduk dunia akan berdampak pada peningkatan kebutuhan pangan,” ujar Trenggono dalam pertemuan di kantornya, Kamis (29/10/2026).
Dalam paparannya Trenggono mengatakan, populasi dunia diproyeksikan meningkat dari 8,23 miliar jiwa pada 2025 menjadi 9,66 miliar jiwa pada 2050. Peningkatan jumlah populasi ini akan meningkatkan kebutuhan pangan global 50-60%. Permintaan protein daging serta ikan akan naik hingga 67%.
Kebutuhan ikan dunia akan naik 66% menjadi 179 juta ton, sebagai akibat kenaikan jumlah populasi manusia.
Sementara di Indonesia, data Trenggono mengatakan, jumlah populasi akan meningkat dari 285,7 juta jiwa pada 2025 menjadi 320,7 juta jiwa di 2050. Ini akan membuat kebutuhan protein mencapai 7,62 juta ton/tahun, atau setara dengan 35 juta ton ikan segar.
Ke depan, dalam paparannya Trenggono mengatakan, sistem pangan berbasis darat akan semakin terbatas. Mengapa? Karena terjadinya konversi lahan sawah hingga lebih dari 100 ribu Ha tiap tahun. Bahkan prediksinya, luas sawah Indonesia hanya akan tersisa 5,1 juta Ha di 2045.
Revitalisasi Tambak Ikan Pantura Jawa
Satu program besar yang tengah dijalankan pada 2025-2027 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah revitalisasi 78.550 Ha tambak ikan idle di Pantura Jawa agar lebih produktif.
Trenggono merinci detil tahapan pembangunannya. “Di 2025 ada revitalisasi 20 ribu hektar dengan target produksi 1,56 juta ton. Lalu di 2026 ada 30 ribu hektar dengan target produksi 2,34 juta ton. Kemudian di 2027 ada 28.550 hektar dengan target produksi 2,22 juta ton,” ungkapnya. Jadi dengan revitalisasi 78.550 Ha tambak, ditargetkan produksi ikannya mencapai 6,1 juta ton dengan nilai fantastis Rp 162,24 triliun per siklus panen.
Revitalisasi tambak ini merupakan program masif yang akan berlangsung di Pantura Jawa. Hampir semua provinsi akan mendapatkan program revitalisasi tambak ikan ini. Rinciannya, Banten 1.800 Ha, Jawa Barat 34.500 Ha, Jawa Tengah 15.250 Ha, dan Jawa Timur 27.000 Ha.
Program revitalisasi tambak ikan ini, lanjut Trenggono, akan meningkatkan produktivitas perikanan menjadi 130 ton/Ha lahan produksi/siklus. Kemudian akan ada sekitar 40 ribu orang tenaga kerja yang terserap. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan industri hulu dan hilir bagi produk berbasis ikan.
Trenggono menjelaskan, program ini bukan berarti akan membabat lingkungan. Dia mencontohkan desain dasar revitalisasi tambak ikan Tahap I di 4 kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu seluas 14.090 Ha. Dari luasan tersebut, sebesar 7.882 Ha (56%) untuk area budidaya ikan dan sisanya 6.246 Ha (44%) untuk arean mangrove.
Dalam revitalisasi ini, Trenggono mengatakan, pemerintah akan menguatkan ekosistem melalui restorasi mangrove, membangun kawasan budidaya kolam produksi, tandon dan lain-lain. Kemudian membangun infrastruktur kawasan seperti jalan, tanggul, area hijau, sampai kantor. Serta membangun kawasan industri pendukung.
Bila program ini berhasil dijalankan, dampak ekonomi untuk 4 kabupaten ini luar biasa. Produksi ikan budidaya bisa mencapai 402 ribu ton/tahun. Rinciannya Bekasi 86 ribu ton/tahun. Karawangan 239 ribu ton/tahun, Subang 16 ribu ton/tahun, dan Indramayu 61 ribu ton/tahun. Nilai produksinya mencengangkan, yaitu US$ 1,2 miliar/tahun atau sekitar Rp 20 triliun.
Diproyeksikan akan ada 83.300 orang tenaga kerja terserap dari revitalisasi tambak di 4 kabupaten ini. “Ini akan menumbuhkan industri hulu seperti pakan dan benih unggul, serta industri hilir seperti pengolahan ikan dan rantai dingin.
Meskipun begitu, bukan berarti program ini tidak menghadapi tantangan. Trenggono mengatakan, untuk membangun budidaya ikan seperti ini dibutuhkan bibit ikan mencapai miliaran ekor. Saat ini Indonesia belum bisa memproduksi bibit sebanyak itu.
Tambak Udang di Timur Indonesia
Program kedua sektor budidaya ikan yang akan dibangun pemerintah Prabowo pada periode 2025-2027 ini, adalah pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Sumba Timur dengan luas 2.000 Ha. Lokasi tepatnya adalah di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Trenggono memaparkan, target dari program ini adalah bisa menghasilkan produksi udang 52 ribu ton/tahun, dengan nilai US$ 240 juta/tahun atau sekitar Rp 4 triliun. Akan ada 7.000 orang tenaga kerja yang terserap.
Pada kesempatan tersebut, Trenggono mengatakan, pemerintah pada 2023 telah membangun contoh budidaya udang berbasis kawasan di Kebumen, Jawa tengah seluas 75 Ha. Hasilnya produktivitas udang naik dari 0,6 ton/Ha/siklus menjadi 40 ton/Ha/ton. Kemudian ekspor udang juga meningkat, termasuk penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan petambak. Ekosistem pendukung produksi dan pasca produksi dibangun di kawasan ini. Keberhasilan ini yang rencananya akan dicontoh pada tambak udang di Waingapu.
Budidaya Ikan Darat Tematik (Mini Recirculating Aquaculture System/Mini RAS)
Terakhir, Trenggono mengatakan, pemerintah akan membangun budidaya ikan darat tematik yang tersebar pada 40 ribu lokasi di Indonesia hingga 2029. Komoditas ikan yang akan dibudidaya adalah ikan nila, jade perch, patin, kakap putih, dan kerapu.
Program ini ditargetkan akan menghasilkan produksi perikanan Indonesia hingga 1,2 juta ton/tahun pada 2029 nanti. Estimasi nilainya mencapai Rp 28,8 triliun/tahun. Trenggono menargetkan akan ada sekitar 80 ribu orang tenaga kerja yang tercipta.
HIngga 2026, direncanakan ada 2.000 lokasi budidaya ikan darat tematik yang dibangun, dengan model prcontohan di Jawa dan Lampung. Tahun ini, program ini diestimasikan menghasilkan 60 ribu ton ikan dengan nilai Rp 1,44 triliun. dengan 4.000 orang tenaga kerja yang akan terserap.
Namun yang masih menjadi tantangan adalah kebutuhan 5,03 miliar ekor bibit ikan yang belum bisa dipenuhi dari dalam negeri. Dan juga kebutuhan 62 ribu ton pakan ikan.
(wed/hoi)
Leave a comment