Jakarta, CNBC Indonesia – Bagi Sumarno, petani asal Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, penggunaan pupuk kini tidak lagi sekadar mengandalkan perkiraan. Berkat teknologi sensor tanah berbasis Internet of Things (IoT), ia dapat mengetahui kebutuhan pupuk berdasarkan kondisi lahannya.
Hasilnya cukup signifikan. Penggunaan pupuk yang sebelumnya mencapai sekitar 1.600 kilogram per hektare berhasil ditekan menjadi 750 kilogram pada periode Juni-November 2025, atau berkurang hingga 53%. Teknologi yang mungkin dahulu terasa jauh dari kehidupan petani kini justru membantu Sumarno mengelola lahannya dengan lebih efisien.
Pengalaman Sumarno menjadi gambaran bagaimana internet mulai membawa perubahan di sektor pertanian Indonesia.
Tidak hanya mempermudah akses informasi, teknologi digital juga membuka peluang bagi petani untuk menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, hingga mengelola hasil panen dengan lebih efisien.
Di tengah ancaman perubahan iklim, cuaca yang semakin sulit diprediksi, dan fluktuasi harga pangan, pemanfaatan teknologi digital semakin relevan.
Mulai dari sensor tanah, sistem irigasi cerdas, hingga pemantauan harga pangan, digitalisasi berpotensi mendukung sistem pangan yang lebih produktif, efisien, dan terjangkau.
Meski demikian, manfaatnya masih bergantung pada pemerataan konektivitas, keterjangkauan teknologi, serta kemampuan petani memanfaatkan data untuk mengambil keputusan.
Dalam mendukung transformasi tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut mendorong pemanfaatan teknologi hingga ke wilayah perdesaan agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan langsung oleh petani dan pembudidaya.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi tidak boleh hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga harus menjangkau desa untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Menkomdigi Meutya Hafid saat mencoba mengoperasikan perangkat IoT yang digunakan oleh petani di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Rabu (05/11/2025). (Dok. Komdigi/DRA) Foto: Menkomdigi Meutya Hafid saat mencoba mengoperasikan perangkat IoT yang digunakan oleh petani di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Rabu (05/11/2025). (Dok. Komdigi/DRA)
|
“Kami ingin memastikan digitalisasi diterapkan langsung dalam use case di lapangan. Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan, tetapi harus masuk ke desa-desa untuk mendukung program swasembada pangan Presiden,” ujar Meutya.
Dalam konteks ketahanan pangan, transformasi digital dapat mendukung tiga jalur utama.
Pertama, meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian melalui penggunaan teknologi.
Kedua, memperkuat pemantauan harga dan distribusi pangan melalui sistem informasi berbasis data. Ketiga, membantu memastikan bantuan sosial tersalurkan lebih tepat sasaran untuk menjaga daya beli masyarakat.
Ketiga pendekatan tersebut saling melengkapi. Teknologi pertanian membantu memperkuat ketersediaan pangan, pemantauan harga mendukung respons pemerintah terhadap gejolak pasar, sementara digitalisasi perlindungan sosial membantu masyarakat rentan mempertahankan akses terhadap kebutuhan pokok.
Tak Cuma Cangkul, AI hingga Sensor Tanah Kini Masuk Sawah
Teknologi yang sebelumnya identik dengan industri manufaktur dan perkotaan kini mulai menemukan tempatnya di lahan pertanian.
Setelah sensor tanah membantu petani menyesuaikan penggunaan pupuk, pemanfaatan teknologi digital juga merambah pengaturan irigasi, pemantauan kondisi tanaman, hingga pengelolaan budi daya perikanan.
Penerapannya pun tidak terbatas pada satu daerah. Dari sistem irigasi cerdas di Sumatera Utara hingga pemantauan kualitas air kolam di Jawa Barat, teknologi berbasis Internet of Things (IoT) mulai diuji dan dimanfaatkan untuk menjawab berbagai tantangan produksi pangan.
1. Sensor Tanah dan Irigasi Cerdas Tingkatkan Efisiensi
Salah satu penerapannya terlihat di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Berdasarkan laporan Komdigi pada Oktober 2026, penggunaan sensor pertanian Jinawi dilaporkan membantu mengurangi kebutuhan pupuk dari sekitar 1.600 kilogram menjadi 750 kilogram per hektare, atau turun sekitar 53%.
Capaian tersebut menunjukkan potensi teknologi digital dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk berdasarkan kondisi tanah.
Selain pemupukan, digitalisasi pertanian juga dapat dikembangkan melalui irigasi otomatis, pemantauan cuaca, serta penggunaan AI untuk mendeteksi potensi serangan hama dan penyakit tanaman.
Teknologi tersebut dapat membantu petani menentukan waktu tanam, mengatur kebutuhan air, dan mengantisipasi risiko gangguan produksi.
Di luar penerapan yang dilaporkan Komdigi, pemanfaatan teknologi serupa juga dikembangkan melalui kegiatan akademisi. Salah satunya di Desa Sidomulyo, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, melalui penerapan sistem irigasi cerdas berbasis IoT dan tenaga surya untuk membantu petani mengelola pengairan secara lebih efisien.
Berdasarkan kegiatan pengabdian masyarakat yang dipublikasikan dalam SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan pada 2025, program tersebut mencatat peningkatan hasil panen sekitar 31%, dari 4,2 menjadi 5,5 ton per hektare. Biaya operasional irigasi juga turun 60%, dari Rp250.000 menjadi Rp100.000 per musim.
2. Teknologi IoT Dongkrak Produksi Ikan Nila
Di sektor perikanan, Komdigi melaporkan pemanfaatan IoT meningkatkan produksi ikan nila di Sukabumi, Jawa Barat, hingga 40%, berdasarkan capaian yang disampaikan dalam kegiatan Panen Raya Ikan Nila pada 15 Oktober 2025.
Pemerintah menyalurkan 60 perangkat IoT Microbubble Aerator kepada delapan kelompok pembudidaya ikan untuk membantu menjaga kadar oksigen kolam dan memantau kondisi air.
Salah satu penerima manfaatnya, Pokdakan Cipancur Cimahi Farm Feed, dilaporkan menghasilkan sekitar 40 ton ikan nila per siklus panen dan memasok sekitar 400 kilogram per minggu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pertumbuhan hasil ikan nila terus meningkat berkat pembelajaran dan pendampingan teknologi ini,” ujar pembudidaya Abdullah Agus Salim, dikutip dari Komdigi.
Ia optimistis Sukabumi dapat mencapai swasembada ikan nila dan memasok wilayah lain dalam beberapa tahun mendatang.
Secara nasional, produksi ikan nila juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi ikan nila mencapai 1,56 juta ton pada 2024, meningkat sekitar 18,2% dibandingkan 1,32 juta ton pada 2019.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi ikan nila nasional pada 2026 tercatat sementara sebesar 1,22 juta ton. Angka tersebut masih perlu memperhatikan cakupan periode pelaporan sehingga belum dapat dibandingkan secara langsung dengan produksi tahunan pada periode sebelumnya.
Perkembangan produksi nasional ini memberikan gambaran mengenai pertumbuhan sektor budi daya ikan nila, sementara penerapan IoT di Sukabumi menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi digital dapat membantu pembudidaya meningkatkan produksi.
Meski demikian, kenaikan produksi secara nasional tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan penerapan IoT karena turut dipengaruhi berbagai faktor lain.
3. Ngawi Bersiap Terapkan Pertanian Digital
Sementara itu, di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Komdigi melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, menyiapkan digitalisasi pertanian dan perikanan untuk komoditas padi, melon, dan ikan nila.
Persiapan tersebut mencakup survei calon lokasi yang dilaksanakan pada 11 Februari 2026 untuk menilai kesiapan infrastruktur dan kelompok tani yang akan menjadi penerima manfaat.
Teknologi yang direncanakan mencakup sensor tanah, irigasi dan pemupukan otomatis, serta sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem dan hama. Berbeda dengan Sragen dan Sukabumi, program Ngawi masih memerlukan implementasi dan evaluasi untuk mengukur hasilnya.
Meski demikian, digitalisasi pertanian tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat. Petani juga membutuhkan konektivitas internet, pendampingan teknologi, pembiayaan, dan akses pasar. Karena itu, peran Komdigi dalam memperluas konektivitas dan literasi digital perlu didukung kolaborasi dengan kementerian terkait, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
Ke depan, integrasi data dari kondisi lahan, produksi, hingga distribusi hasil panen dapat membantu memperkuat efisiensi dan posisi petani dalam rantai pasok.
Tantangannya adalah memastikan manfaat digitalisasi menjangkau petani kecil sehingga teknologi turut mendukung ketahanan pangan secara lebih merata.
Selain mendukung produktivitas pertanian dan perikanan, konektivitas digital juga berperan dalam memperluas akses masyarakat terhadap informasi harga pangan. Dalam hal ini, peran Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui penguatan konektivitas dan literasi digital menjadi penting agar informasi tersebut semakin mudah diakses dan dimanfaatkan, termasuk oleh petani dan pedagang di daerah.


Leave a comment