Home Finance Hancur! Market Cap 10 Saham Jumbo RI Menguap Rp3.147 T, Terburuk BREN
Finance

Hancur! Market Cap 10 Saham Jumbo RI Menguap Rp3.147 T, Terburuk BREN

Share
Hancur! Market Cap 10 Saham Jumbo RI Menguap Rp3.147 T, Terburuk BREN
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Market cap sejumlah saham raksasa di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut tajam sepanjang Januari hingga Oktober 2026. Bahkan, jika dibandingkan dengan Januari, nilai gabungan 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar sekarang sudah longsor lebih dari Rp3.000 triliun.

Berdasarkan data yang dihimpun, total market cap 10 emiten terbesar pada Januari 2026 mencapai Rp6.291,04 triliun. Sementara itu, hingga penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), nilainya tersisa Rp3.143,66 triliun.

Artinya, terdapat selisih Rp3.147,38 triliun atau sekitar 50,03% antara nilai gabungan 10 emiten terbesar pada kedua periode tersebut.

Tak hanya nilainya yang menyusut, susunan emiten yang menduduki jajaran teratas juga berubah cukup drastis.

 

Pada Januari 2026, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) masih menjadi emiten dengan market cap terbesar di Indonesia. Nilainya kala itu mencapai Rp1.140,53 triliun, menjadikannya satu-satunya emiten dalam daftar yang memiliki market cap lebih dari Rp1.000 triliun.

Di bawah BREN, terdapat PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan market cap Rp903,11 triliun, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar Rp762,85 triliun.


Namun, memasuki penghujung Oktober, kondisinya sudah jauh berbeda. BREN yang sebelumnya bertengger di posisi pertama kini harus turun ke urutan ketujuh.

Market cap perusahaan energi terbarukan tersebut menyusut menjadi Rp240,15 triliun. Dibandingkan Januari, nilainya telah berkurang Rp900,38 triliun atau sekitar 78,94%.

Penurunan BREN menjadi yang terbesar secara nominal di antara delapan emiten yang masih bertahan dalam daftar 10 besar.

Posisi puncak kini ditempati BBCA dengan market cap Rp613,91 triliun. Meski naik dari peringkat kedua menjadi pertama, bukan berarti nilai pasar BBCA ikut meningkat.

Market cap BBCA justru turun Rp289,20 triliun atau sekitar 32,02% dibandingkan Januari. Hanya saja, penurunannya tidak sedalam yang dialami sejumlah emiten lain.

Di posisi kedua terdapat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan market cap Rp424,37 triliun, disusul PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) sebesar Rp417,10 triliun.


Penyusutan market cap juga terlihat pada emiten lainnya. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), misalnya, kehilangan Rp286,45 triliun atau sekitar 51,97% dari nilai pasarnya pada Januari.

Sementara itu, market cap PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) turun Rp220 triliun, disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang berkurang Rp160,48 triliun.

Jika hanya menghitung delapan emiten yang bertahan dalam daftar 10 besar pada kedua periode, total market cap mereka telah menyusut Rp2.361,63 triliun atau sekitar 47,52%.

Perubahan ini turut menggeser komposisi 10 saham terbesar di Indonesia. DSSA dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), yang pada Januari masih masuk lima besar, kini tidak lagi berada dalam daftar 10 emiten teratas.

 

Sebagai gantinya, PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) masuk ke jajaran tersebut dengan market cap masing-masing Rp194,32 triliun dan Rp140,78 triliun.

Meski terjadi perombakan peringkat, delapan dari sepuluh emiten yang masuk dalam daftar Januari masih bertahan hingga Oktober. Namun, seluruh delapan emiten tersebut mencatatkan penyusutan market cap dibandingkan posisi awal tahun.

 

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *