Home Finance RI Masuk Negara Paling Percaya Teori Konspirasi, Termasuk Illuminati
Finance

RI Masuk Negara Paling Percaya Teori Konspirasi, Termasuk Illuminati

Share
RI Masuk Negara Paling Percaya Teori Konspirasi, Termasuk Illuminati
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Teori konspirasi bukan sekadar cerita tentang Illuminati, kelompok rahasia, atau pihak yang disebut-sebut mengendalikan dunia dari balik layar.

Di tengah ketidakpastian sosial dan politik, narasi semacam ini justru dapat menjadi cara sebagian orang memahami peristiwa yang sulit dijelaskan.

Survei YouGov terhadap 24 negara pada 2021 menunjukkan rata-rata 28% responden Indonesia menganggap 12 teori konspirasi populer itu antara benar atau mungkin benar.

Angka tersebut menempatkan Indonesia di kelompok negara dengan tingkat kepercayaan relatif tinggi, setara Meksiko dan di atas Amerika Serikat yang sebesar 20%.

India mencatat rata-rata tertinggi, yakni 36%, disusul Afrika Selatan sebesar 35%, Kenya 34%, dan Nigeria 31%. Sementara itu, tingkat kepercayaan di sejumlah negara Eropa relatif lebih rendah, seperti Jerman sebesar 16%, Prancis 17%, dan Inggris 10%.


Data tersebut merupakan rata-rata jawaban responden terhadap 12 teori konspirasi yang diuji, bukan persentase orang yang setidaknya pernah mempercayai satu teori. Dengan demikian, satu responden dapat menyetujui beberapa teori sekaligus.

Mengapa Teori Konspirasi Mudah Dipercaya?

Teori konspirasi sebenarnya bukan fenomena baru. Sepanjang sejarah, narasi tentang kelompok rahasia yang dianggap mengendalikan peristiwa besar kerap muncul ketika masyarakat menghadapi pergolakan.

Pada abad ke-14, orang Yahudi dituduh meracuni sumur dan menyebarkan wabah Black Death. Setelah Kebakaran Besar London pada 1666, sebagian masyarakat menuduh umat Katolik sebagai penyebabnya.

Sementara itu, pada 1903, sebuah dokumen palsu berjudul The Protocols of the Elders of Zion diterbitkan di Rusia dengan klaim adanya rencana Yahudi untuk menguasai dunia.

Berbagai tuduhan tersebut muncul di tengah perang, pandemi, revolusi, dan perubahan tatanan sosial. Ketika peristiwa besar sulit dipahami, teori konspirasi menawarkan penjelasan yang lebih sederhana sekaligus sosok yang dapat disalahkan.

Namun, tidak semua dugaan tentang persekongkolan merupakan teori konspirasi. Sejarawan Andrew McKenzie-McHarg, dalam buku The Hidden History of Conspiracy Theory, menjelaskan bahwa teori konspirasi umumnya menuduh adanya komplotan pihak berkuasa yang sebenarnya tidak terbukti atau bahkan tidak ada.

Skandal Watergate di Amerika Serikat dan kasus Iran-Contra, misalnya, bukan teori konspirasi karena keduanya merupakan persekongkolan nyata yang kemudian terungkap. Perbedaannya terletak pada keberadaan bukti, bukan sekadar dugaan bahwa suatu tindakan dilakukan secara rahasia.

Dari Illuminati hingga Kelompok Rahasia Pengendali Dunia

Salah satu contoh paling terkenal adalah Illuminati. Kelompok ini memang pernah ada, tetapi sejarahnya berbeda jauh dari gambaran organisasi rahasia yang mengendalikan dunia.

Illuminati didirikan di Bavaria pada 1776 untuk menyebarkan nilai-nilai Pencerahan.

Kelompok tersebut memang bergerak secara rahasia dan mendorong reformasi sosial, tetapi tidak memiliki kekuasaan seperti yang sering digambarkan dalam teori konspirasi modern. Pemerintah Bavaria bahkan membubarkannya setelah kurang dari satu dekade.

 

Meski sudah tidak beroperasi, nama Illuminati terus hidup dalam imajinasi publik. Pada 1797, seorang pastor Prancis bernama Augustin Barruel menuduh para pemikir Pencerahan, Freemason, dan Illuminati bersekongkol untuk menghancurkan agama Kristen.

Lebih dari satu abad kemudian, penulis Inggris Nesta Webster mengembangkan narasi tersebut dengan memasukkan tuduhan bahwa orang Yahudi berada di balik berbagai revolusi dan gerakan sosial.

Cerita yang semula berangkat dari keberadaan kelompok nyata pun berkembang menjadi tuduhan yang jauh melampaui fakta sejarah.

Pola ini menunjukkan bagaimana teori konspirasi dapat terbentuk: mengambil satu fakta yang benar, kemudian membangun rangkaian klaim yang tidak didukung bukti.

Dalam sejumlah kasus, narasi tersebut juga menjadi sarana menyebarkan prasangka terhadap kelompok agama atau etnis tertentu.

Mengapa teori konspirasi begitu mudah dipercaya dalam konteks zaman sekarangf? Dalam buku Conspiracy, akademisi Nicolas Guilhot menjelaskan bahwa narasi tersebut dapat mencerminkan keresahan sosial dan kekecewaan terhadap tatanan politik.

Sementara itu, sejarawan Michael Taylor menilai orang tertarik pada kelompok rahasia karena sulit menerima bahwa perang, pandemi, dan krisis bisa terjadi tanpa ada pihak yang sepenuhnya mengendalikannya.

Teori konspirasi menawarkan penjelasan sederhana atas peristiwa yang kompleks: seolah-olah selalu ada kelompok tertentu yang mengatur segalanya. Narasi ini semakin mudah menyebar melalui media sosial dan mendapat perhatian lebih luas ketika turut disuarakan tokoh politik.

Salah satu contohnya adalah QAnon, teori konspirasi yang berkembang selama masa jabatan pertama Donald Trump. Gerakan ini menyebarkan klaim tanpa bukti tentang jaringan elite yang menculik dan mengeksploitasi anak-anak.

Narasi konspirasi dapat mengaburkan hasil pemberitaan, penelitian, maupun edukasi publik yang disampaikan oleh lembaga dan media.

Informasi yang telah diverifikasi pun berisiko kehilangan kredibilitas ketika berhadapan dengan klaim alternatif yang lebih sederhana, emosional, dan mudah dicerna.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *