
Jakarta, CNBC Indonesia – Proyek pengembangan Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja (WK) Duyung, lepas pantai Natuna, mulai memasuki tahap produksi pipa di dalam negeri. Sebanyak 80 kilometer (km) pipa untuk mendukung proyek yang hasilnya akan dialirkan ke pasar domestik tersebut mulai diproduksi di Batam.
Produksi pipa ini dilakukan oleh konsorsium Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) WNEL, yang terdiri dari West Natuna Exploration Ltd dengan kepemilikan 25% dan PT Nation Natuna Barat sebesar 75%.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Minggu (1/11/2026), proyek ini mencakup pembangunan fasilitas produksi di dua lokasi, yakni yard milik PT PAL Indonesia di Surabaya dan fasilitas di Batam. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek tersebut dijadwalkan berlangsung bulan depan dan rencananya dilakukan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Dalam dua tahun ke depan, proyek ini ditargetkan menyelesaikan sejumlah pekerjaan, mulai dari pengeboran lepas pantai Natuna, pembangunan fasilitas produksi, hingga pemasangan pipa bawah laut sepanjang 80 km. Setelah rampung, Lapangan Mako ditargetkan mampu menghasilkan gas sebesar 111 juta kaki kubik standar per hari (MMscfd).
Pada awalnya, gas dari Lapangan Mako direncanakan untuk dialirkan ke Singapura. Hal ini karena saat itu hanya tersedia satu jalur pipa yang menghubungkan Natuna dengan negara tersebut.
Namun, rencana penyaluran gas berubah setelah pembangunan pipa West Natuna Transmission System (WNTS) yang menghubungkan Pulau Pemping dengan Batam selesai. Dengan persetujuan Menteri ESDM, seluruh produksi gas dari Lapangan Mako nantinya akan dialirkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama sektor kelistrikan di Batam dan sekitarnya.
Keputusan tersebut diambil meskipun harga gas untuk pasar Singapura disebut lebih tinggi dibandingkan harga untuk pasar domestik. Prioritas penyaluran gas ke dalam negeri disebut sejalan dengan kepentingan nasional dan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
(luc/luc)
Leave a comment