
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga komoditas batu bara dan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) cenderung bervariasi, di mana harga batu bara masih mencatatkan penguatan, tetapi harga CPO cenderung berfluktuasi.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup melonjak 1,4% di posisi US$ 152,45 per ton pada perdagangan Jumat (30/10/2026) lalu. Sepanjang pekan ini, harga batu bara justru ambles 1,65% secara point-to-point.
Sedangkan untuk CPO, ditutup melesat 1,41% di posisi RM 4.681 per ton. Dalam sepekan terakhir, CPO anjlok 2,84% secara point-to-point.
Harga batu bara sempat tertekan karena pasar di pasar China menghadapi tekanan seiring melemahnya penawaran dalam tender impor. Pedagang berupaya melepas persediaan dan merealisasikan keuntungan, sementara perusahaan listrik cenderung menunda pembelian di tengah permintaan yang melemah secara musiman.
Di sisi lain, produsen batu bara luar negeri belum bersedia memangkas harga secara signifikan. Keterbatasan pasokan dan tingginya biaya angkut membuat penjual.
Tekanan pasar tersebut turut memengaruhi batu bara Indonesia. Penawaran batu bara berkalori 3.800 kcal/kg NAR sebelumnya berada di kisaran US$82 per ton FOB, dengan transaksi dilaporkan sekitar US$81-81,5 per ton.
Meski demikian, penurunan harga berpotensi tertahan oleh kendala pasokan. Produksi dan logistik batu bara Indonesia yang belum sepenuhnya pulih, serta hambatan pengapalan dari Australia, membatasi ruang penurunan harga lebih dalam.
Namun, ada kabar baik untuk batu bara termal.
Pasar batu bara termal di pelabuhan utara China mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi kemarin. Harga yang sebelumnya tertekan mulai menemukan pijakan setelah pembeli kembali memburu batu bara dengan harga murah.
Mengutip Sxcoal, Kamis (29/10/2026), minat pembelian mulai muncul, terutama untuk kargo yang dijadwalkan dikirim pada pekan berikutnya. Aktivitas pemesanan kapal juga meningkat, menjadi sinyal awal pulihnya transaksi di pasar batu bara China.
Sementara itu di CPO, kenaikan harga minyak kedelai turut menopang CPO. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian, China, menguat 1,15%, sementara minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), Amerika Serikat (AS), naik 0,4%. Adapun kontrak minyak sawit di Dalian naik 0,16%.
Pergerakan harga CPO cenderung mengikuti minyak nabati lainnya karena komoditas tersebut saling bersaing dalam memenuhi permintaan pasar minyak nabati global.
Selain minyak kedelai, peningkatan permintaan ekspor turut menjadi sentimen positif bagi pasar CPO.
Berdasarkan laporan perusahaan survei kargo, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-20 Oktober 2026 diperkirakan melonjak 58,5% hingga 78,4% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Selain harga minyak nabati, harga minyak global yang juga masih mengalami penguatan turut mempengaruhi pergerakan harga CPO, meski pada pekan ini pergerakannya cenderung volatil.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember, yang berakhir pada Jumat kemarin, ditutup melonjak US$2,76 atau 2,4% ke US$ 117,64 per barel. Harga Brent sempat menyentuh US$ 118 per barel atau mendekati US$ 120.
Dalam sepekan, harga minyak brent naik 0,79%. Dengan demikian, harga minyak brent sudah menguat selama empat pekan beruntun.
Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat US$2,12 atau 2,08% ke US$104,12 per barel.
Dalam sepekan harga minyak WTI naik 0,82% atau sudah naik selama empat pekan beruntun.
Kenaikan harga minyak mentah dapat meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. Harga energi fosil yang lebih tinggi berpotensi memperbaiki daya saing biodiesel, sehingga turut menopang permintaan minyak sawit dari sektor energi.
Dari sisi prospek, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan harga CPO akan bertahan di atas MYR4.600 per ton pada November 2026.
Proyeksi tersebut ditopang penguatan permintaan ekspor, konsumsi biodiesel yang tetap tinggi, serta penurunan produksi musiman.
MPOC juga memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia akan terus menyusut pada November 2026 hingga Februari 2027 seiring penurunan produksi.
Kondisi ini berpotensi memperketat pasokan dan memberikan dukungan tambahan bagi harga CPO dalam beberapa bulan mendatang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/luc)
Leave a comment