
Jakarta, CNBC Indonesia – Sistem peringatan dini serangan militer Arab Saudi dilaporkan tidak mengeluarkan peringatan kepada masyarakat selama beberapa hari sebelum serangkaian serangan mematikan menghantam Bandara Riyadh. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Mengutip Reuters, Selasa (13/10/2026), pemerintah Arab Saudi belum menjelaskan alasan tidak adanya peringatan kepada publik sebelum empat serangan yang terjadi di Riyadh selama sepekan terakhir. Ketiadaan peringatan ini memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Arab Saudi melindungi penduduk dan pengunjung dari serangan rudal maupun drone, terutama di tengah konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Sistem peringatan dini Arab Saudi sebelumnya digunakan untuk memberi tahu masyarakat mengenai ancaman serangan melalui ponsel dan media sosial. Sistem tersebut mulai mengirimkan peringatan pada Mei lalu.
Namun, ketika serangan Houthi meningkat menjelang pekan lalu, sistem itu justru tidak lagi mengeluarkan peringatan. Menurut catatan unggahan akun X otoritas pertahanan sipil Arab Saudi, peringatan terakhir sebelum serangkaian serangan di bandara dikeluarkan pada 29 September untuk wilayah Najran di bagian selatan negara tersebut.
Reuters juga melaporkan, sejumlah pejabat Barat dan Arab serta analis politik mempertanyakan keputusan tersebut. Mereka menilai tidak adanya peringatan bisa memperbesar ketidakpastian dan kekhawatiran masyarakat.
“Mereka (pemerintah Saudi) ingin melakukan dua cara: meluncurkan operasi militer dan pada saat yang sama mencoba memberikan kepercayaan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan eksternal,” kata akademisi Saudi yang berbasis di AS dan Senior Resident Fellow Sultan Alamer.
Menurut dua pejabat yang mengetahui persoalan tersebut, seorang pejabat dari negara Barat yang menjadi sekutu Arab Saudi sempat menanyakan kepada otoritas Saudi mengapa peringatan dini berhenti dikeluarkan. Pejabat tersebut mendapat penjelasan bahwa peringatan dianggap terlalu mengganggu.
Sejumlah warga dilaporkan mengeluh karena peringatan itu membangunkan mereka pada malam hari. Namun, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas keterangan tersebut kepada Reuters.
Peringatan Kembali Muncul Setelah Serangan
Pada Senin, otoritas pertahanan sipil Arab Saudi kembali mengeluarkan peringatan pertama sejak 29 September. Peringatan itu menyebut potensi ancaman di Riyadh dan sejumlah kota di wilayah selatan.
Belum dapat memastikan apakah keputusan tersebut merupakan respons langsung terhadap serangan di bandara. Tapi perlu diketahui, negara-negara Teluk lainnya, pendekatan peringatan kepada masyarakat berbeda-beda.
Di Qatar, misalnya, pemerintah mengirimkan peringatan melalui ponsel sebelum hampir setiap serangan. Sementara itu, Bahrain dan Kuwait berulang kali membunyikan sirene untuk meminta warga mencari perlindungan.
“Pendekatan mereka dalam komunikasi publik tampaknya merupakan konsekuensi dari dilema yang mereka hadapi. Mereka perlu merespons kelompok Houthi namun tidak ingin hal itu memicu gangguan sosial, dan komunikasi publik mereka mencerminkan hal tersebut,” kata Mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi Michael Ratney.
“Namun, tidak adanya peringatan dini mengenai serangan Houthi yang akan datang justru menimbulkan rasa cemas yang sebenarnya ingin mereka hindari,” tegasnya.
Kenapa Ini Terjadi?
Analis Saudi yang dekat dengan pemerintah, Ali Shihabi, mengatakan luasnya wilayah negara tersebut membuat perlindungan terhadap seluruh aset strategis menjadi tantangan besar. Arab Saudi memiliki banyak fasilitas penting yang perlu dijaga, mulai dari bandara, jaringan pipa, hingga instalasi minyak.
“Di Arab Saudi, ada terlalu banyak hal yang harus dilindungi. Ini adalah negara yang sangat luas dengan bandara, jaringan pipa, dan fasilitas minyak. Cakupan pertahanan tidak memadai untuk melindungi semuanya secara bersamaan, tidak cukup tersedia sistem pertahanan rudal Patriot, pencegat, maupun baterai rudal untuk melakukan itu semua,” katanya.
“Arab Saudi memiliki kebutuhan tak terbatas akan pertahanan udara,” tambahnya
Kebutuhan perlindungan udara yang besar juga menuntut ketersediaan sistem pertahanan, rudal pencegat, dan baterai antirudal dalam jumlah memadai. Meski serangan terjadi, Arab Saudi tetap menggelar konferensi energi internasional di Riyadh pada Senin.
Namun, sejumlah pimpinan perusahaan minyak besar dilaporkan mundur dari agenda acara setelah serangan tersebut. Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, mengatakan penyelenggaraan acara itu bukan berarti risiko keamanan telah hilang.
“Pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan rencana ekonomi negara,” katanya.
Sementara itu, sejumlah kedutaan negara Barat di Arab Saudi dilaporkan mengeluarkan peringatan internal mengenai ancaman rudal dan drone kepada staf mereka. Peringatan itu disusun berdasarkan informasi intelijen pemerintah Barat serta masukan dari otoritas Saudi.
Namun, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, staf kedutaan juga tidak menerima peringatan internal sebelum serangan paling mematikan pada Sabtu lalu. Hingga kini, alasan tidak adanya peringatan sebelum serangan tersebut belum diketahui secara pasti.
(sef/sef)
Leave a comment