
Jakarta, CNBC Indonesia – Aliansi Masyrakat Pati Bersatu (AMPB) dan kawan-kawan menggelar aksi demonstrasi di depan kompleks parlemen, Jakarta pada Kamis (27/8/2026).
Unjuk rasa AMPB dan sejumlah masyarakat lain melakukan penyampaian pendapat dengan fokus pada dua tuntutan, yakni mendesak DPR dan pemerintah segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan menerapkan hukuman terberat bagi koruptor.
Protes masyarakat atau yang akrab disebut demonstrasi tidak terlepas dari proses politik sebuah negara. Terlebih bagi negara demokrasi, demonstrasi merupakan salah satu aspek penting bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya.
Terlepas dari itu, nyatanya tak hanya di Indonesia saja yang pernah terjadi aksi demonstrasi besar-besaran. Berikut sejumlah demonstrasi “raksasa” yang dihimpun oleh CNBC Indonesia.
1. Demonstrasi Petani India (2020-2021)
Melansir Live Science, pada September 2020, para pekerja pertanian di India memblokir jalan dan jalur kereta api di wilayah Punjab dan Haryana. Menurut laporan Business & Human Rights Resource Centre, sekitar 250 juta orang turun ke jalan untuk demonstrasi.
Para petani melakukan protes terhadap rencana perubahan undang-undang seputar produk (pertanian). Akibat perubahan undang-undang itu, akan ada kelonggaran aturan seputar penjualan, penetapan harga, dan penyimpanan produk pertanian.
Maka dari itu, petani melakukan protes dan turun ke jalan. Beberapa petani mulai membakar ladang mereka dan ada juga aksi mogok makan.
Pada November 2021, pemerintahan Narendra Modi mencabut undang-undang tersebut dan pengunjuk rasa mengundurkan diri pada awal Desember 2021.
2. Demonstrasi No Kings Amerika Serikat (2026)
Aksi protes ketiga bertajuk “No Kings” berlangsung pada 28 Maret 2026, dengan perkiraan delapan juta peserta yang tersebar di lebih dari 3.300 lokasi di seluruh negeri mengutip Britannica, menjadikannya salah satu aksi protes terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Demonstrasi tersebut secara umum menyoroti penyalahgunaan wewenang oleh pihak eksekutif, di mana para pengunjuk rasa memprotes Perang Iran 2026, kenaikan biaya hidup, serta berbagai tindakan penegakan aturan imigrasi yang sedang berlangsung.
3. Demonstrasi Albania (2026)
Dalam aksi yang disebut media setempat sebagai protes terbesar dalam sejarah Albania, sekitar 250.000 orang turun ke jalan pada akhir Juni untuk menentang penjualan kawasan pesisir di wilayah Zvernec, Vlora, bagi sebuah proyek pariwisata yang kabarnya terkait dengan Ivanka Trump-putri Presiden AS Donald Trump-dan suaminya, Jared Kushner.
Para pengunjuk rasa mendesak pembatalan proyek tersebut serta pengunduran diri pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama. Mereka juga menuntut agar Rama maupun pemimpin oposisi Salih Berisha dimintai pertanggungjawaban di hadapan hukum.
4. Demonstrasi Serbia (2025)
Ratusan ribu orang memadati ibu kota Serbia pada hari Sabtu untuk memprotes kematian 15 orang akibat runtuhnya bangunan stasiun kereta api. Meskipun pemerintah memperkirakan jumlah peserta aksi di seluruh Beograd mencapai 107.000 orang, pemantau independen menyebutkan bahwa 325.000 orang atau bahkan lebih telah berkumpul, menjadikannya protes terbesar yang pernah terjadi di Serbia.
Insiden runtuhnya bangunan di Novi Sad pada bulan November lalu telah memicu kemarahan terhadap pemerintah dan Presiden Aleksandar Vucic. Para pengunjuk rasa menilai korupsi dan praktik pemangkasan standar keselamatan sebagai penyebab hilangnya nyawa dalam peristiwa tersebut.
Pada akhirnya, Presiden Serbia Aleksander Vucic mengakhiri 12 tahun kepemimpinannya tahun ini. Pengumuman ini menyusul demo anti pemerintah oleh mahasiswa yang dilakukan selama 18 bulan.
5. Protes Anti-Perang Irak (2003)
Sejarah telah mencatat sebuah invasi yang dilakukan Amerika ke Irak pada 2003. Kala itu, Presiden AS George W. Bush menganggap bahwa Irak melanggar resolusi PBB mengenai senjata pemusnah massal.
Namun, rencana invasi itu ditentang oleh banyak pihak. Pada 15 Februari 2003, jutaan orang melakukan demonstrasi di lebih dari 600 kota di dunia menentang rencana Presiden George W. Bush.
Di Roma, 3 juta orang ambil bagian dalam demonstrasi tersebut. Kemudian 750.000 orang melakukan unjuk rasa di London dan lebih dari 1,5 juta orang melakukan protes di Madrid, serta puluhan ribu lainnya di kota lain.
Namun, pada akhirnya, gerakan tersebut hanya berdampak kecil terhadap kebijakan. AS tetap melakukan invasi ke Irak yang dimulai pada 20 Maret 2003.
(ras/luc)
Leave a comment