
Jakarta, CNBC Indonesia – Menjelang berakhirnya Agustus 2026, kondisi perekonomian Indonesia menarik untuk kembali dilihat. Sejumlah indikator menunjukkan ekonomi masih tumbuh, tetapi tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah daerah dilanda bencana. Gempa bumi terjadi di beberapa wilayah, sedangkan kebakaran hutan melanda sejumlah daerah seperti di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Papua.
Situasi dalam negeri juga diramaikan oleh aksi demonstrasi di sejumlah kota. Salah satunya berlangsung di Jakarta pada Kamis (27/8/2026), bertepatan dengan satu tahun gelombang demonstrasi besar yang terjadi pada Agustus 2025.Di tengah berbagai kondisi tersebut, CNBC Indonesia merangkum keadaan ekonomi Indonesia menjelang akhir Agustus 2026 melalui sejumlah indikator berikut.
1. Laju Pertumbuhan Ekonomi
Indikator pertama yang bisa dilihat adalah laju pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) di kuartal kedua 2026.
Laju pertumbuhan melambat dibandingkan pada kuartal pertama tahun ini yang tumbuhs 5,61%. Kondisi ini wajar lantaran adanya normalisasi konsumsi masyarakat pasca adanya perayaan hari raya idul fitri di kuartal pertama.
Secara pengeluaran, Konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar.
Komponen tersebut tumbuh 5,06% dan menyumbang 2,67 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Pangsa konsumsi rumah tangga mencapai 53,32% dari PDB.
Investasi atau pembentukan modal tetap bruto tumbuh lebih tinggi sebesar 6,87%. Sementara konsumsi pemerintah melonjak 15,97%, didorong pembayaran gaji ke-13, peningkatan belanja pegawai, dan belanja barang serta jasa untuk sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis.
Di sisi lain, impor tumbuh 8,82%, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 4,13%. Akibatnya, ekspor neto memberikan andil negatif 0,78 poin persentase terhadap pertumbuhan.
2. Inflasi
Selain pertumbuhan ekonomi, perkembangan harga juga menjadi indikator penting untuk melihat kesehatan perekonomian.
Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi tahunan Indonesia turun dari 3,34% pada Juni menjadi 2,88% pada Juli 2026.
Angka tersebut masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%.
Secara bulanan, harga barang dan jasa secara umum turun 0,14% sehingga Indonesia mengalami deflasi pada Juli. Sementara sejak awal tahun hingga Juli 2026, inflasi tercatat sebesar 1,65%.
Penurunan inflasi terutama ditopang oleh melandainya harga pangan. Inflasi kelompok harga bergejolak turun dari 5,58% pada Juni menjadi 2,52% pada Juli karena meningkatnya pasokan cabai dan bawang merah.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi bulanan sebesar 0,26 poin persentase. Penurunan terutama terjadi pada bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat.
Namun, tidak seluruh tekanan harga menghilang.
Inflasi inti bertahan sebesar 2,76%, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah meningkat dari 3,42% menjadi 3,58%. Kenaikan terutama berasal dari harga bensin nonsubsidi dan tarif angkutan udara.
3. Keyakinan Konsumen
Untuk melihat seberapa percaya diri masyarakat dalam membelanjakan uangnya, salah satu indikator yang bisa digunakan adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari Bank Indonesia.
IKK memang tidak secara langsung mengukur daya beli. Namun, indeks ini bisa memberikan gambaran mengenai penilaian masyarakat terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kemampuan membeli barang tahan lama.
Hasil survei BI menunjukkan IKK turun dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026. Angkanya masih berada di atas 100 atau dalam zona optimistis, tetapi kepercayaan konsumen mulai berkurang.
Penurunan terjadi pada seluruh komponen yang menggambarkan kondisi ekonomi saat ini. Indeks Penghasilan turun dari 119,8 menjadi 118,5, sedangkan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama melemah dari 105,9 menjadi 104,1.
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja juga turun dari 101,8 menjadi 101,1. Angkanya hanya sedikit berada di atas batas optimistis 100, menunjukkan masyarakat semakin berhati-hati melihat peluang mendapatkan pekerjaan.
4. Penjualan Eceran
Sinyal terhadap kondisi daya beli masyarakat terkini bisa terlihat dari penjualan eceran. Indeks Penjualan Riil pada Juni masih terkoreksi 3% yoy. Sedikit membaik dari Mei yang terkontraksi hingga 3,9%.
Secara bulanan, penjualan eceran mampu tumbuh 0,7% karena terbantu musim libur sekolah. Namun demikian, kontraksi tahunan masih memperlihatkan aktivitas belanja masyarakat belum cukup kuat.
Penjualan makanan, minuman, dan tembakau turun 3,6% secara tahunan. Penjualan sandang juga terkontraksi 3,1%.
Sebaliknya, penjualan suku cadang dan aksesori tumbuh 18,8%, perlengkapan rumah tangga meningkat 2,8%, sedangkan kelompok barang lainnya tumbuh 1,1%. Perbedaan tersebut menunjukkan pemulihan penjualan masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran Juli tumbuh 0,9% secara tahunan.
5. Neraca Perdagangan Mulai Tertekan
Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia juga mulai melemah.
Data BPS menunjukkan neraca perdagangan mengalami defisit US$450 juta pada Juni 2026.
Defisit tersebut memang lebih kecil dibandingkan Mei yang mencapai US$1,61 miliar.
Namun, Indonesia sudah dua bulan berturut-turut mencatat impor lebih besar daripada ekspor. Defisit pada Mei sekaligus mengakhiri catatan surplus neraca perdagangan yang sebelumnya bertahan selama 72 bulan beruntun.
Ekspor pada Juni tercatat US$25,46 miliar, sedangkan impor mencapai US$25,91 miliar. Secara tahunan, ekspor tumbuh 8,84%, tetapi impor melesat jauh lebih tinggi sebesar 34,27%.
Jika dihitung sejak awal tahun, Indonesia masih membukukan surplus perdagangan US$3,58 miliar. Namun, nilainya menyusut 81,75% dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu.
Tekanan terbesar datang dari perdagangan migas. Surplus nonmigas yang mencapai US$19,35 miliar hampir seluruhnya tergerus oleh defisit migas sebesar US$15,77 miliar.
6. Nilai Tukar Rupiah
Kondisi perekonomian domestik turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,31% ke posisi Rp17.750/US$ pada perdagangan Kamis (27/8/2026).
Rupiah sebenarnya telah menguat dari posisi Rp17.995/US$ pada akhir Juli. Namun, dibandingkan posisi penutupan 2025 sebesar Rp16.670/US$, mata uang Garuda masih melemah sekitar 6,5%.
Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda, meskipun terjadi penguatan sepanjang Agustus. Pelebaran defisit transaksi berjalan, tingginya kebutuhan dolar untuk membiayai impor, serta ketidakpastian pasar keuangan global masih menjadi sumber tekanan.
Pelemahan rupiah dapat membuat biaya impor semakin mahal, terutama untuk bahan baku dan bahan penolong. Kelompok tersebut mendominasi sekitar 70% dari total impor Indonesia sehingga kenaikan kurs dolar dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan.
Apabila peningkatan biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, tekanan harga barang di dalam negeri juga dapat meningkat. Sementara jika perusahaan memilih menahannya, margin keuntungan berpotensi menyusut.
7. PHK Turun dari Tahun Lalu, tetapi Tetap Tinggi
Bila melihat ke Pasar tenaga kerja, kondisinya relatif belum optimal.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 43.805 pekerja terkena PHK sepanjang Januari-Juli 2026. Jumlahnya turun 26,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 59.683 orang.
PHK paling banyak terjadi di Jawa Barat dengan 8.830 pekerja, disusul Jawa Timur 4.781 orang dan Banten 4.767 orang. Ketiganya dikenal sebagai kawasan industri yang banyak menampung pabrik manufaktur dan usaha padat karya.
Angka tersebut juga belum mencakup seluruh kasus PHK karena hanya menghitung pekerja yang terdaftar dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Meski PHK masih terjadi, jumlah orang yang bekerja secara nasional tetap bertambah. Per Februari 2026, jumlah penduduk bekerja naik 1,90 juta menjadi 147,67 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka juga turun dari 4,76% menjadi 4,68%.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment