Home Finance 7 Makanan Anti-Inflamasi Andalan Ahli Gizi Jepang, Bagus untuk Diet
Finance

7 Makanan Anti-Inflamasi Andalan Ahli Gizi Jepang, Bagus untuk Diet

Share
7 Makanan Anti-Inflamasi Andalan Ahli Gizi Jepang, Bagus untuk Diet
Share



Daftar Isi



Jakarta, CNBC Indonesia – Menjaga kondisi fisik tetap prima menjadi salah satu kunci agar kita dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal. Ketika kesehatan terganggu, pekerjaan, hubungan sosial, hingga berbagai tujuan hidup dapat ikut terdampak.

Salah satu faktor kesehatan yang kerap luput diperhatikan adalah peradangan atau inflamasi. Dalam kondisi tertentu, peradangan merupakan bagian dari respons alami tubuh terhadap cedera maupun infeksi. Namun, peradangan kronis dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, gangguan metabolisme, diabetes, artritis, penyakit autoimun, hingga beberapa jenis kanker.

Pola makan menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan untuk membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan. Ahli gizi asal Nara, Jepang, merekomendasikan sejumlah bahan pangan tradisional Jepang yang kaya serat, protein, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif.

Berikut tujuh makanan yang kerap digunakan dalam pola makan Jepang dan dinilai memiliki manfaat bagi kesehatan melansir CNBC.

1. Konjac

Konjac atau konnyaku merupakan makanan berbentuk jeli yang dibuat dari umbi tanaman konjac. Bahan ini juga dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai shirataki.

Konjac dikenal rendah kalori dan mengandung glukomanan, yaitu serat larut yang dapat membantu mendukung kesehatan sistem pencernaan. Teksturnya yang kenyal membuat konnyaku banyak digunakan dalam berbagai hidangan Jepang.

Konnyaku dan shirataki dapat ditambahkan ke dalam sup, tumisan, hot pot, salad, hingga hidangan mi. Rasanya yang relatif netral juga membuat bahan ini mudah menyerap bumbu dari masakan.

Karena kandungan kalorinya rendah dan kaya serat, konjac juga kerap digunakan sebagai salah satu pilihan makanan bagi mereka yang sedang berusaha mengelola berat badan.

2. Akar burdock

Akar burdock atau gobo merupakan sayuran akar yang telah lama digunakan dalam kuliner Jepang. Meski bentuknya menyerupai akar tanaman, bahan ini dapat diolah menjadi beragam makanan.

Burdock mengandung serat, termasuk inulin, yang merupakan jenis serat prebiotik yang dapat mendukung kesehatan mikrobioma usus.

Di Jepang, gobo dapat dimasukkan ke dalam sup miso, nimono atau masakan rebusan, salad hingga hidangan yang digoreng. Cita rasanya yang khas membuatnya cocok dipadukan dengan berbagai bahan makanan.

3. Rumput laut

Rumput laut seperti nori dan wakame merupakan bagian yang cukup umum dalam kuliner Jepang. Bahan ini relatif rendah kalori dan mengandung berbagai mineral, serat, vitamin serta senyawa polifenol.

Nori dapat digunakan sebagai pembungkus nasi, sushi maupun pelengkap berbagai hidangan. Sementara itu, wakame kerap ditemukan dalam sup dan salad.

Kandungan serat serta berbagai zat gizi dalam rumput laut menjadikannya salah satu bahan pangan yang dapat melengkapi pola makan sehat.

4. Kedelai dan makanan fermentasi

Makanan fermentasi menjadi salah satu ciri khas dalam pola makan tradisional Jepang. Beberapa di antaranya adalah miso, natto dan nukazuke, yakni sayuran yang difermentasi menggunakan dedak beras.

Natto, misalnya, merupakan kedelai yang difermentasi dan mengandung bakteri yang dapat mendukung kesehatan mikrobioma usus. Makanan ini juga menyediakan protein nabati serta vitamin K, termasuk vitamin K2.

Miso dapat digunakan sebagai bahan sup, sedangkan natto dapat disantap bersama nasi, sayuran, rumput laut, oatmeal atau roti gandum utuh.

5. Serutan ikan bonito kering

Katsuobushi merupakan ikan cakalang yang diproses melalui tahapan perebusan, pengasapan, pengeringan dan fermentasi. Setelah menjadi sangat keras, ikan tersebut diserut menjadi lembaran tipis.

Bahan ini dikenal memiliki cita rasa umami yang kuat dan menjadi salah satu bahan penting dalam pembuatan kaldu dashi, terutama ketika dipadukan dengan rumput laut kombu.

Katsuobushi juga dapat ditaburkan di atas tahu, salad atau nasi untuk memberikan tambahan rasa sekaligus protein.

6. Jamur

Jamur seperti shiitake, maitake, enokidake dan shimeji merupakan bahan pangan yang banyak digunakan dalam masakan Jepang. Selain menawarkan cita rasa dan tekstur yang berbeda, jamur umumnya rendah kalori dan menyediakan serat serta sejumlah zat gizi.

Jamur dapat digunakan dalam berbagai menu, mulai dari sup, kari, tumisan hingga saus. Jamur kering juga dapat disimpan lebih lama dan digunakan sebagai bahan tambahan untuk memperkuat cita rasa umami pada masakan.

Sebagai contoh, 100 gram jamur shiitake mentah mengandung sekitar 34 kalori, tiga gram serat dan sekitar 2,5 gram protein.

7. Teh hijau

Teh hijau merupakan minuman yang telah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Karena umumnya dikonsumsi tanpa tambahan gula atau susu, teh hijau memiliki kandungan kalori yang sangat rendah.

Teh hijau mengandung senyawa antioksidan, termasuk polifenol, yang menjadi salah satu alasan minuman ini banyak dikaitkan dengan pola hidup sehat.

Selain teh hijau biasa, matcha juga digunakan dalam tradisi minum teh Jepang. Bagi sebagian orang, ritual minum teh bukan hanya berkaitan dengan asupan minuman, tetapi juga menjadi momen untuk memperlambat aktivitas dan menikmati ketenangan.

Meski berbagai bahan pangan tersebut memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat, konsumsi satu jenis makanan tidak dapat dianggap sebagai cara tunggal untuk mencegah atau mengobati penyakit. Manfaat kesehatan sebaiknya dilihat sebagai bagian dari pola makan seimbang yang juga mencakup sayuran, buah, sumber protein, biji-bijian serta aktivitas fisik yang cukup.

Bagi seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau ingin melakukan perubahan besar pada pola makan, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi tetap diperlukan.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *