
Jakarta, CNBC Indonesia – Republik Indonesia pernah menjual 7 ton emas dan 8.000 ton karet secara diam-diam ke luar negeri tanpa melalui jalur resmi. Langkah tersebut dilakukan ketika pemerintah membutuhkan dana untuk menjalankan roda pemerintahan sekaligus mempertahankan kemerdekaan dari Belanda.
Pada masa awal kemerdekaan, kondisi keuangan Republik serba terbatas. Belanda juga berusaha melumpuhkan perekonomian Indonesia melalui blokade. Jalur perdagangan resmi sulit digunakan, sehingga pemerintah harus mencari cara lain agar kekayaan yang dimiliki Republik tetap bisa menghasilkan uang dan tidak jatuh ke tangan Belanda.
Salah satunya adalah emas. Hasil tambang emas Cikotok di Banten menjadi komoditas penting untuk diselundupkan ke luar negeri. Penyelundupan dilakukan secara diam-diam menggunakan kereta api ke Yogyakarta.
Menurut diplomat Indonesia Aboe Bakar Lubis dalam Kilas Balik Revolusi (1992), emas tersebut kemudian ditaruh di kantor pusat Bank Nasional Indonesia untuk dibawa menggunakan pesawat menuju Bandara Maguwo.
Pengangkutannya pun dilakukan secara senyap menggunakan truk dan gerobak sapi yang ditutupi dedaunan agar tidak diketahui tentara Belanda maupun mata-mata. Dari Maguwo, emas diterbangkan melalui Filipina sebelum akhirnya sampai di Makau.
Makau kala itu dikenal sebagai salah satu pusat perjudian dunia dengan perputaran uang yang besar. Harapannya, emas Republik dapat segera dijual dan diubah menjadi dana.
Tujuh ton emas tersebut kemudian disebut berhasil dijual seharga sekitar Rp140 juta. Dana hasil penjualan digunakan untuk membiayai perjuangan Republik, termasuk kebutuhan diplomasi dan operasional perwakilan Indonesia di luar negeri.
Namun, emas bukan satu-satunya kekayaan Republik yang bergerak melalui jalur rahasia. Sebelumnya, hasil perkebunan juga diperdagangkan secara diam-diam untuk mendapatkan pemasukan di tengah blokade Belanda.
Salah satu tokoh yang berperan dalam aktivitas tersebut adalah Adnan Kapau Gani atau A.K. Gani. Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966) karya Cindy Adams, Soekarno menceritakan aksi Gani dalam membantu perjuangan Republik.
“Gani menyelundupkan 9 kg emas dan 300 kg perak dari Sumatra sebagai pembayaran 20.000 seragam tentara. Gani menyelundupkan karet, ada 8.000 ton sekali jalan,” ungkap Soekarno.
Gani sendiri bahkan pernah mengklaim dirinya sebagai penyelundup terbesar di dunia. Dalam laporan wartawan Tom Gurr yang dimuat surat kabar The Sun pada 8 Desember 1947, Gani mengatakan:
“Saya adalah penyelundup terbesar di dunia,”
Dalam wawancara tersebut, Gani menjelaskan klaim tersebut muncul karena dirinya menyelundupkan komoditas atau barang bernilai jutaan dolar dari Indonesia ke Singapura dan sebaliknya. Laporan itu menyebut karet, teh, gula, dan komoditas perkebunan lainnya senilai US$150 juta berhasil melewati blokade laut Belanda untuk kemudian dijual kepada pedagang Tionghoa di Singapura.
Perdagangan tersebut menjadi penting karena hasil penjualan dapat membantu Republik memperoleh dana dan berbagai kebutuhan yang sulit didapat melalui jalur resmi. Dalam kondisi perang, hasil bumi menjadi salah satu sumber yang dapat ditukar menjadi uang dan kebutuhan untuk mempertahankan perjuangan.
(mfa/mfa)
Leave a comment