Jakarta, CNBC Indonesia — Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami pasang surut mengikuti perkembangan zaman serta pergolakan global.
Selama 81 tahun Indonesia merdeka, ekonomi Tanah Air juga mengalami pasang surut hingga pergolakan hebat. Indonesia pernah berjaya dengan mencatat pertumbuhan tinggi pada era Soeharto, tetapi kemudian hancur lebur pada era yang sama. Beragam krisis juga telah dilalui, mulai dari Krisis Moneter hingga pandemi Covid-19.
Namun demikian, ekonomi Indonesia relatif cukup stabil dalam beberapa tahun terakhir meskipun gejolak eksternal menghantam dunia.
Kemajuan suatu negara dapat ditentukan dengan sejumlah indikator, salah satunya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah indikator yang menunjukkan aktivitas perekonomian dalam menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi diukur menggunakan data Produk Domestik Bruto (PDB). PDB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan seluruh unit usaha atau nilai akhir barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara pada periode tertentu.
PDB menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu negara. Perhitungannya dapat menggunakan dasar harga berlaku untuk melihat nilai ekonomi secara nominal maupun harga konstan untuk mengukur pertumbuhan riil tanpa pengaruh perubahan harga.
Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki rangkaian data pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 1961. Data tahunan terbaru tersedia hingga 2025, sedangkan perkembangan ekonomi 2026 telah tercatat sampai semester pertama.
Berikut perjalanan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari masa Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Soekarno
Pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949, kondisi ekonomi Indonesia masih sangat berat. Perang mempertahankan kemerdekaan, blokade ekonomi Belanda, kerusakan infrastruktur, dan keterbatasan produksi membuat aktivitas ekonomi terganggu.
Memasuki periode Demokrasi Liberal 1950-1959, pemerintah mulai membangun kembali perekonomian setelah pengakuan kedaulatan pada 1949. Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 3-4% per tahun, tetapi pergerakannya belum stabil.
Seringnya pergantian kabinet membuat kebijakan ekonomi tidak berjalan konsisten. Indonesia juga menghadapi defisit anggaran serta ketergantungan yang tinggi terhadap ekspor bahan mentah.
Kondisi ekonomi semakin berat pada periode Demokrasi Terpimpin 1960-1965. Pemerintah banyak mengalokasikan perhatian dan anggaran untuk proyek politik serta konfrontasi luar negeri.
Pada periode tersebut, pertumbuhan ekonomi sempat mengalami kontraksi. Inflasi juga melonjak hingga melampaui 600% pada 1965, sementara nilai rupiah jatuh, utang luar negeri meningkat, dan kegiatan produksi melemah.
Presiden Soeharto
Soeharto memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade, sejak 1966 hingga 1998. Pada awal pemerintahannya, stabilisasi ekonomi menjadi salah satu agenda utama.
Pemerintah membuka kembali perekonomian terhadap investasi asing serta memperbaiki hubungan dengan lembaga keuangan internasional. Indonesia juga mendapat keuntungan dari posisinya sebagai eksportir minyak ketika harga energi dunia meningkat.
Sepanjang masa pemerintahannya, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada 1968 sebesar 10,92% secara tahunan. Angka tersebut masih menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi yang pernah dicatat Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi kemudian bertahan tinggi dalam beberapa periode. Industrialisasi, pembangunan infrastruktur, investasi, dan penerimaan dari ekspor komoditas menjadi pendorong utama.
Namun, masa pemerintahan Soeharto juga berakhir dengan krisis ekonomi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Krisis keuangan Asia yang dimulai pada 1997 membuat nilai tukar rupiah jatuh, banyak perusahaan dan bank mengalami kesulitan, serta harga barang melonjak. Perekonomian Indonesia kemudian terkontraksi 13,13% pada 1998.
Indonesia akhirnya meminta bantuan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF). Pada 15 Januari 1998, Soeharto menandatangani kesepakatan yang memuat berbagai program reformasi ekonomi dan sektor keuangan.
Foto: Foto arsip 15 Januari 1998 ini menunjukkan Presiden Indonesia saat itu Suharto menandatangani surat perjanjian baru di hadapan Direktur Jenderal Dana Moneter Internasional (IMF) Michel Camdessus di kediaman Suharto di Jakarta. (File Foto – AFP via Getty Images/AGUS LOLONG)
|
Dengan demikian, pertumbuhan tertinggi sekaligus kontraksi ekonomi terdalam dalam sejarah Indonesia sama-sama terjadi pada masa pemerintahan Soeharto.
Presiden BJ Habibie
BJ Habibie mengambil alih kepemimpinan setelah Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998. Ia mewarisi perekonomian yang sedang mengalami krisis sangat dalam.
Nilai tukar rupiah sempat menembus Rp17.000 per dolar AS, inflasi melonjak, kegiatan usaha terganggu, dan tingkat kemiskinan meningkat.
Pemerintahan Habibie melakukan berbagai langkah untuk memulihkan perekonomian, termasuk restrukturisasi perbankan, penyelesaian utang perusahaan, serta pemulihan kepercayaan terhadap rupiah.
Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Setelah terkontraksi 13,13% pada 1998, ekonomi Indonesia kembali tumbuh tipis sebesar 0,79% pada 1999.
Tingkat kemiskinan juga turun dari 24,2% pada 1998 menjadi 23,4% pada 1999. Pemulihan tersebut menjadi landasan awal bagi perbaikan ekonomi Indonesia setelah Krisis Moneter.
Presiden Abdurrahman Wahid
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai Presiden keempat RI sejak 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001.
Pada masa pemerintahannya, perekonomian Indonesia masih berada dalam tahap pemulihan setelah krisis. Pemerintah harus melanjutkan restrukturisasi perbankan, menyelesaikan persoalan utang, dan mengembalikan kepercayaan investor.
Ekonomi Indonesia tumbuh 4,92% pada 2000, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,79% pada 1999.
Namun, pertumbuhan kembali melambat menjadi sekitar 3,64% pada 2001. Ketidakpastian politik dan pergantian pemerintahan ikut memengaruhi kepercayaan terhadap perekonomian pada periode tersebut.
Presiden Megawati Soekarnoputri
Megawati Soekarnoputri menggantikan Gus Dur dan menjabat sebagai presiden sejak Juli 2001 hingga Oktober 2004.
Pada masa pemerintahannya, kondisi ekonomi Indonesia mulai lebih stabil. Pemerintah melanjutkan penataan sektor keuangan sekaligus menjaga stabilitas anggaran dan nilai tukar rupiah.
Pertumbuhan ekonomi meningkat secara bertahap. Ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 4,5% pada 2002, kemudian 4,8% pada 2003 dan 5% pada 2004.
Inflasi juga dapat ditekan dari level dua digit menjadi sekitar 6% pada akhir masa pemerintahannya. Perbaikan stabilitas ekonomi tersebut menjadi modal bagi pertumbuhan pada periode berikutnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menjadi presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Ia memimpin Indonesia selama dua periode pada 2004-2014.
Pertumbuhan ekonomi pada masa SBY relatif tinggi. Rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang 2005-2014 mencapai sekitar 5,79% per tahun.
Pertumbuhan tertinggi tercatat sebesar 6,49% pada 2011. Kenaikan harga komoditas dan pertumbuhan pesat ekonomi China ikut meningkatkan permintaan terhadap ekspor Indonesia.
Indonesia juga mampu bertahan ketika krisis keuangan global terjadi pada 2008-2009. Saat banyak negara mengalami kontraksi, ekonomi Indonesia masih tumbuh sebesar 4,63% pada 2009.
Nilai PDB Indonesia atas dasar harga berlaku melonjak dari sekitar Rp2.013 triliun pada 2003 menjadi Rp10.569 triliun pada 2014.
PDB per kapita juga meningkat dari sekitar Rp10,5 juta pada 2004 menjadi Rp41,9 juta pada akhir masa pemerintahan SBY.
Presiden Joko Widodo
Pada lima tahun pertama pemerintahan yang dimimpin oleh Presiden Jokowi, pertumbuhan ekonomi bergerak relatif stabil di sekitar 5%. Pemerintah juga mendorong pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas dan kegiatan ekonomi.
Tantangan terbesar datang ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Pembatasan mobilitas dan terhentinya berbagai kegiatan usaha membuat ekonomi Indonesia terkontraksi 2,07% sepanjang 2020.
Kontraksi tersebut menjadi yang pertama sejak Krisis Moneter 1998. Indonesia juga mengalami resesi setelah pertumbuhan ekonomi terkontraksi secara tahunan dalam beberapa kuartal berturut-turut.
Ekonomi kemudian kembali tumbuh 3,69% pada 2021 dan menguat menjadi 5,31% pada 2022. Lonjakan harga komoditas akibat perang Rusia-Ukraina turut meningkatkan ekspor dan penerimaan Indonesia.
Pada akhir masa pemerintahan Jokowi, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03% sepanjang 2024, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 5,05% pada 2023. BPS mencatat ekonomi pada kuartal IV-2024 tumbuh 5,02% secara tahunan.
Jika dihitung sepanjang sepuluh tahun pemerintahannya, rata-rata pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,2% per tahun. Angka tersebut ikut dipengaruhi kontraksi tajam selama pandemi.
Presiden Prabowo Subianto
Prabowo Subianto mengambil alih kepemimpinan dari Jokowi setelah dilantik sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024.
Kuartal IV-2024 menjadi periode transisi antara pemerintahan Jokowi dan Prabowo. Pada periode tersebut, ekonomi Indonesia tumbuh 5,02% secara tahunan.
Tahun 2025 menjadi tahun kalender penuh pertama pemerintahan Prabowo. Ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% pada kuartal I-2025, kemudian meningkat menjadi 5,12% pada kuartal II-2025.
Pertumbuhan berlanjut sebesar 5,04% pada kuartal III-2025 dan menguat menjadi 5,39% pada kuartal IV-2025. Secara keseluruhan, BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,03% pada 2024.
Laju pertumbuhan meningkat pada awal 2026. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026, melampaui pertumbuhan 4,87% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pada kuartal pertama ditopang konsumsi rumah tangga, libur Idulfitri, mobilitas masyarakat, dan sejumlah stimulus pemerintah. Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81%, menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi.
Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29%. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi lebih tinggi daripada pertumbuhan 5,12% pada kuartal II-2025.
Konsumsi pemerintah kembali menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 15,97% secara tahunan.
Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% sepanjang semester I-2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 4,99% pada semester I-2025.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada masa Prabowo masih bergerak di kisaran 5%, meskipun mulai meningkat pada 2026.
Pemerintahan Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi meningkat secara bertahap hingga mencapai 8% pada 2029. Target tersebut tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029.
Dengan pertumbuhan 5,45% pada semester I-2026, pemerintah masih membutuhkan percepatan investasi, konsumsi, ekspor, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja untuk mendekati target tersebut.
Perjalanan ekonomi Indonesia selama 81 tahun menunjukkan bahwa setiap presiden menghadapi tantangan yang berbeda. Soeharto mencatat pertumbuhan tertinggi sekaligus kontraksi terdalam, Habibie memulai pemulihan setelah Krisis Moneter, sedangkan Jokowi menghadapi kontraksi akibat pandemi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

Leave a comment