Home Finance Harga Beras di Penggilingan-Eceran Naik Semua, Pemerintah Buka Suara
Finance

Harga Beras di Penggilingan-Eceran Naik Semua, Pemerintah Buka Suara

Share
Harga Beras di Penggilingan-Eceran Naik Semua, Pemerintah Buka Suara
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Harga beras kembali mengalami kenaikan pada Oktober 2026. Kenaikan terjadi di seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengakui kondisi ini tidak terlepas dari produksi beras dalam negeri yang relatif lebih rendah karena belum memasuki musim panen raya.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, mengatakan produksi beras pada Oktober hingga Desember memang cenderung lebih rendah dibandingkan periode panen raya yang biasanya berlangsung pada Februari atau Maret.

“Ya, jadi kalau kita lihat bulan-bulan produksi Oktober, November, Desember itu masih belum masuk panen raya. Jadi panen raya itu biasanya akan ada di bulan Februari atau Maret, kalau tidak mundur ya,” ujar Andriko kepada CNBC Indonesia, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pasokan produksi dalam negeri pada periode saat ini relatif lebih rendah dibandingkan bulan-bulan panen raya.

“Jadi kalau lihat dari situasi produksi dalam negeri ya memang bulan-bulan ini relatif lebih rendah, dibanding bulan-bulan Februari-Maret,” katanya.

Kondisi ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kenaikan harga beras di seluruh rantai distribusi pada Oktober 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 0,26% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026. Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), kenaikannya mencapai 6,89%.

“Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan Oktober tahun 2026 secara total naik 0,26%, ini secara bulanannya. dan naik sebesar 6,89% secara year on yearnya,” ujar Ateng dalam konferensi pers BPS.

Jika dirinci berdasarkan kualitas, harga beras premium di tingkat penggilingan naik 0,01% secara bulanan dan melonjak 11,32% secara tahunan. Sementara itu, harga beras medium naik 0,35% secara bulanan dan 5,57% secara tahunan.

Kenaikan juga terjadi di tingkat grosir dan eceran. BPS mencatat inflasi beras di tingkat grosir mencapai 0,01% secara bulanan dan 5,13% secara tahunan. Adapun di tingkat eceran, inflasi beras tercatat sebesar 0,08% secara bulanan dan 4,10% secara tahunan.




Kondisi Pasar Beras Induk Cipinang terkini, Selasa (12/8/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)Kondisi Pasar Beras Induk Cipinang terkini, Selasa (12/8/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi) Foto: Kondisi Pasar Beras Induk Cipinang terkini, Selasa (12/8/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)

“Di tingkat eceran, inflasi bulanannya sebesar 0,08% dan inflasi secara year on year pada tingkat eceran sebesar 4,10%,” ungkap dia.

BPS mencatat rata-rata harga beras pada Oktober 2026 mencapai Rp15.765 per kilogram (kg) di tingkat eceran. Sementara di tingkat grosir sebesar Rp14.994 per kg dan tingkat penggilingan Rp14.365 per kg.

Menghadapi kondisi tersebut, Bapanas mengandalkan intervensi pemerintah melalui penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Perum Bulog. Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menahan kenaikan harga di pasar.

“Makanya dari Badan Pangan Nasional kita kan menugaskan Perum Bulog untuk menggelontorkan beras SPHP-nya. Beras untuk stabilisasi pasokan dan harga,” jelas Andriko.

Ia menegaskan, intervensi pemerintah diperlukan ketika harga beras di pasaran mengalami kenaikan agar masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, tetap dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau.

“Ya kalau harga beras di pasaran mahal, itu solusinya untuk stabilisasi pasokan harus ada intervensi pemerintah. Bentuk intervensi pemerintahnya adalah dengan menggelontorkan beras SPHP. Agar masyarakat yang kelompok bawah itu, terutama, itu tetap bisa mengakses harga pangan dengan baik,” ucapnya.

Terkait pengaruh El Nino terhadap kenaikan harga beras, Andriko mengakui fenomena tersebut berpotensi memberikan dampak. Namun, menurutnya, pengaruhnya tidak terlalu besar dibandingkan kondisi produksi yang memang belum memasuki periode panen raya.

“Iya, kalau produksi tidak lebih besar dari panen raya ya, itu benar. Kalau dampak terhadap El Nino mungkin iya, cuma tidak terlalu besar ya. Kita kan menghitung kebutuhan dan pasokan beras itu bulan per bulan, berdasarkan data BBS. Jadi memang ada penurunan, tapi sebenarnya tidak terlalu besar,” pungkas dia.

(wur)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *