
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Mamuju, Sulawesi Barat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
BUMN pertambangan tersebut mulai menjalankan kegiatan eksplorasi untuk menghitung kembali potensi sumber daya dan cadangan di wilayah konsesi tersebut.
Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas La Ode Tarfin Jaya mengatakan bahwa IUP Eksplorasi tersebut telah terbit pada Juli 2026, disusul dengan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) eksplorasi pada Agustus 2026.
Saat ini, kegiatan eksplorasi difokuskan pada dua blok dengan area masing-masing seluas 100 hektare atau total 200 hektare.
“Jadi Mamuju itu kan kita sudah mendapatkan dari pemerintah dalam hal ini dari Kementerian ESDM cq Ditjen Minerba itu IUP Eksplorasi. Nah eksplorasi itu kita sudah terbit di bulan Juli tapi kemudian RKAB-nya itu di bulan Agustus. RKAB untuk eksplorasi. Nah kami eksplorasi di kisaran kurang lebih di dua blok itu masing-masing 100 hektare, total 200 hektare,” katanya saat ditemui di sela acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026 di Jiexpo, Selasa (3/11/2026).
Progres pengeboran in-fill di Mamuju saat ini baru mencapai sekitar 10% atau telah merambah 72 titik dari total target 200 titik bor dengan kerapatan 50×50 meter. Pengeboran dengan kerapatan tinggi tersebut ditujukan untuk mendetailkan serta merapatkan hasil scout drilling yang telah dilakukan oleh Badan Geologi sebelumnya.
“Sekarang kami lagi melakukan drilling rapat in-fill di 200 hektar itu saat ini baru di 10%, di 72 titik ya yang kami lakukan dengan kerapatan 50 50, 50×50. Ini perlu kami lakukan karena untuk mendetailkan apa-apa yang sudah dilakukan oleh Badan Geologi sebelumnya,” tambahnya.
Perhitungan resmi mengenai estimasi jumlah sumber daya dan cadangan LTJ ditargetkan rampung pada tahun depan setelah seluruh 200 titik pengeboran diselesaikan dan dievaluasi. Potensi komoditas LTJ di Mamuju tersebut memiliki karakteristik tipe ion-adsorption clay primer, serupa dengan deposit di Bayan Obo China, Myanmar, serta Caldeira Brasil.
“Nah LTJ kalau di Mamuju itu tipikalnya ion-adsorption clay. Jadi dia tipikal yang sama dengan misalnya Bayan Obo di China atau yang di Myanmar, atau di Caldeira Brasil, itu adalah tipe logam tanah jarang yang primer,” terangnya.
Lebih lanjut, dia menyebut, Perminas mengelola wilayah konsesi LTJ di Mamuju dengan total luas mencapai 7.300 hektare yang terbagi dalam dua blok.
Selain proyek di Mamuju, Perminas yang berada di bawah BPI Danantara juga melakukan koordinasi intensif dan riset bersama PT Timah untuk pemanfaatan Sisa Hasil Pengolahan (SHP) serta tin slag menjadi LTJ.
“Kita menunggu, menunggu, menunggu. Yang jelasnya sekarang kan Mamuju 7.300 hektare di dua blok. Jadi kalau misalnya pemerintah misalnya memberi tugas lagi ya kita siap timnya, prinsipnya itu,” tandasnya.
(wia)
Leave a comment