Home Finance 20 Emiten Ritel RI Adu Kinerja: Segini Laba Alfamart
Finance

20 Emiten Ritel RI Adu Kinerja: Segini Laba Alfamart

Share
20 Emiten Ritel RI Adu Kinerja: Segini Laba Alfamart
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas emiten dengan bisnis ritel mencatatkan kenaikan pendapatan hingga kuartal III 2026. Namun, pertumbuhan penjualan belum selalu diikuti perbaikan keuntungan. Sebagian perusahaan menghadapi penyusutan margin, penurunan laba, hingga kerugian yang berlanjut.

Berdasarkan laporan 20 emiten yang dibandingkan, sebanyak 18 perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan, sementara dua lainnya mengalami penurunan.

Dari 17 perusahaan yang membukukan laba positif, sebanyak 15 mencatatkan kenaikan keuntungan dan dua mengalami penurunan. Adapun tiga perusahaan lainnya masih merugi.

Perbandingan menggunakan kinerja Januari-September 2026 terhadap Januari-September 2025, bukan hanya periode Juli-September. Seluruh nominal dalam tabel disajikan dalam miliar rupiah, dengan dua angka di belakang koma. Laba bersih menggunakan bagian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Pendapatan Naik: Alfamart Terbesar, ERAL Tumbuh Paling Cepat

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) membukukan pendapatan terbesar dalam kelompok ini, mencapai Rp101.288,17 miliar. Angka tersebut meningkat 7,21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp94.475,92 miliar.

Di bawahnya, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mencatatkan pendapatan Rp63.972,39 miliar, tumbuh 22,17%. Sementara itu, pendapatan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) meningkat 24,51% menjadi Rp37.438,64 miliar.

Dari sisi persentase pertumbuhan, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) menjadi yang tertinggi, mencapai 44,73%. Berikutnya terdapat PT Mega Perintis Tbk (ZONE) dengan pertumbuhan 31,84% dan PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) sebesar 27,86%.

Pada kelompok perlengkapan rumah, MDIY mencatatkan pertumbuhan pendapatan 24,53%, lebih tinggi dibandingkan ACES sebesar 8,26%. Sementara itu, pendapatan DEPO relatif mendatar dengan kenaikan hanya 0,13%.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa laju pertumbuhan antarperitel masih beragam, meskipun mayoritas berhasil meningkatkan penjualan.

Pendapatan Turun: Ramayana Tertekan, Electronic City Turun Tipis

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mengalami penurunan pendapatan paling dalam di antara 20 emiten yang dibandingkan. Pendapatannya turun 11,37% menjadi Rp1.664,58 miliar, dari Rp1.878,02 miliar setahun sebelumnya.

Adapun PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) mencatatkan penurunan lebih terbatas, yakni 0,37%, menjadi Rp1.657,55 miliar.

Meski sama-sama mengalami penurunan penjualan, arah keuntungan keduanya berbeda. Laba RALS menyusut, sedangkan ECII justru berhasil memperkecil kerugian.

Laba Bersih Naik: ZONE dan CSAP Melonjak, Alfamart Masih Terbesar

Sebanyak 15 emiten mencatatkan kenaikan laba bersih positif. AMRT tetap menjadi pencatat laba terbesar dalam kelompok ini, mencapai Rp2.402,78 miliar, meskipun pertumbuhannya hanya 3,80%.

MAPI dan MAPA masing-masing membukukan laba Rp1.720,81 miliar dan Rp1.442,55 miliar. Kenaikannya mencapai 25,17% dan 24,14%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan masing-masing perusahaan.

Dari sisi persentase, ZONE mencatatkan kenaikan laba tertinggi sebesar 194,24%, disusul CSAP sebesar 140,41%. Keduanya berangkat dari basis laba yang relatif kecil, sehingga persentase pertumbuhannya perlu dibaca bersama nilai nominal keuntungan.

Pertumbuhan penjualan yang tinggi juga belum selalu menghasilkan kenaikan laba dengan laju serupa. Pada MDIY, pendapatan meningkat 24,53%, tetapi laba bersih hanya naik 12,96%. Margin laba bersih bagian pemilik induk pun turun dari sekitar 13,69% menjadi 12,42%.

AMRT menghadapi pola serupa. Pertumbuhan laba yang lebih lambat dibandingkan pendapatan membuat marginnya menyusut dari sekitar 2,45% menjadi 2,37%.

Sebaliknya, ACES mencatatkan pertumbuhan laba 25,69%, melampaui kenaikan pendapatan 8,26%. Margin laba bersihnya meningkat dari sekitar 7,60% menjadi 8,82%.

Laba Bersih Turun: DNET dan Ramayana Masih Untung

DNET dan RALS tetap membukukan laba positif, tetapi nilainya lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih DNET turun 22,15% menjadi Rp652,86 miliar. Penurunan tersebut terjadi meskipun pendapatan konsolidasian meningkat 9,28%. Sementara itu, laba RALS menyusut 12,99% menjadi Rp237,53 miliar, sejalan dengan penurunan pendapatannya.

Pada DNET, bagian laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama turun dari Rp705,06 miliar menjadi Rp617,04 miliar. Beban penjualan serta beban umum dan administrasi juga meningkat.

DNET memiliki 40% saham pengelola Indomaret yang dicatat sebagai entitas asosiasi. Karena itu, pendapatan DNET dalam tabel merupakan pendapatan konsolidasian perusahaan, bukan omzet seluruh gerai Indomaret.

Masih Rugi: RANC dan ECII Membaik, MPPA Memburuk

Tiga emiten masih membukukan kerugian, yakni MPPA, RANC, dan ECII. Namun, perubahan besar kerugiannya menunjukkan arah yang berbeda.

RANC berhasil memangkas kerugian sebesar 57,64%, dari Rp40,25 miliar menjadi Rp17,05 miliar. Perbaikan tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan pendapatan 10,21%.

ECII juga memperkecil kerugian sebesar 17,76%, menjadi Rp40,02 miliar, meskipun pendapatannya turun tipis. Sebaliknya, kerugian MPPA membesar 2,75% menjadi Rp94,35 miliar, di tengah kenaikan pendapatan 3,16%.

Berbalik Untung atau Berbalik Rugi: Belum Ada dalam Kelompok Ini

Dari 20 emiten tersebut, tidak ada perusahaan yang berubah dari untung menjadi rugi maupun dari rugi menjadi untung pada perbandingan Januari-September 2025 dan 2026.

Sebanyak 17 emiten tetap membukukan laba positif, sedangkan MPPA, RANC, dan ECII tetap merugi. Dengan demikian, penyusutan kerugian RANC dan ECII belum dapat disebut sebagai kondisi berbalik untung.

Untuk pendapatan, kategori naik dan turun di atas menunjukkan perubahan nilai secara YoY. Penilaian apakah arah pertumbuhannya berbalik, misalnya sebelumnya tumbuh lalu menyusut, memerlukan tambahan pembanding Januari-September 2024.

–

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *