Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.
Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.
Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman. Adapun Episode Ke-21 ini kami beri judul: “Yafqahu Qauli”. Semoga bermanfaat, Selamat Menikmati.
—
Pagi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, selalu datang tanpa tergesa-gesa. Kabut tipis masih menggantung di lereng Merapi ketika seorang lelaki tua menyapu daun-daun mangga yang semalam gugur di halaman rumahnya. Rumah itu sederhana, dindingnya tidak tinggi, halamannya dipenuhi pohon sawo, melati, dan beberapa pot anggrek yang mulai berbunga. Di sudut teras, sebuah kursi rotan tua menghadap ke arah sawah yang kini perlahan berubah menjadi perumahan.
Tak seorang pun yang lewat pagi itu menyangka bahwa lelaki yang sedang memegang sapu lidi itu pernah menjadi salah satu orang yang paling hati-hati memilih kata-kata di negeri ini. Kini ia telah pensiun, sudah hampir delapan tahun ia meninggalkan gedung bank sentral.
Tidak ada lagi ruang rapat yang dipenuhi grafik inflasi. Tidak ada lagi konferensi pers yang disiarkan langsung oleh televisi dan dinanti investor. Tidak ada lagi telepon larut malam dari menteri, presiden, atau pelaku pasar yang menunggu keputusan esok hari. Yang tersisa hanyalah rutinitas sederhana, menyapu halaman, menyeduh teh, menyiram bunga, lalu menikmati pagi yang dulu hampir tidak pernah sempat ia rasakan.
Pagi itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah, seorang pemuda turun sambil memanggul ransel yang tampak terlalu berat untuk libur akhir pekan. “Cucu Kakek pulang,” gumam lelaki tua itu sambil tersenyum. Pemuda itu mencium tangan kakeknya, lalu masuk ke rumah tanpa banyak bicara. Tidak lama kemudian, ia sudah duduk di meja makan dengan laptop terbuka, buku-buku makroekonomi berserakan, dan wajah yang tampak kesal.
Lelaki tua itu memperhatikan dari kejauhan. “Liburan kok malah cemberut,”. Pemuda itu menghela napas panjang, “Bukan liburan, Kek, Ini tugas.”
“Tugas apa? Makroekonomi, berat sekali”. Lelaki tua itu tertawa kecil, “dulu Kakek juga pernah belajar makroekonomi, tapi zaman Kakek belum sebanyak ini bacaannya.” Pemuda itu memutar layar laptop ke arah kakeknya.
“Ini, Kek, aku disuruh membaca pernyataan bank sentral.” Lelaki tua itu menyesap tehnya tanpa berkata apa-apa. Lalu si pemuda dengan nada kesal, “Aku benar-benar tidak mengerti.”
“Apa yang tidak kau mengerti, Kenapa kalau bank sentral bicara selalu begini?” Ia menunjuk layar laptop. “Kalimatnya panjang, muter, Mbulet”. “Kenapa tidak ditulis saja apa adanya? Kalau memang mau menaikkan suku bunga, ya bilang mau menaikkan suku bunga, Kalau memang ekonomi sedang berat, ya bilang sedang berat.”
“Kalau memang rupiah sedang tertekan, ya bilang saja tertekan, kenapa harus memakai kalimat yang seperti… tidak selesai?”
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil teko, menuangkan teh hangat ke cangkir cucunya, lalu duduk perlahan di hadapannya. Sudah bertahun-tahun ia tidak lagi ditanya tentang bank sentral. Ia menatap kebun kecil di halaman depan cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan,
“Karena, Nak, seorang bankir sentral tidak pernah berbicara kepada satu orang.” Pemuda itu mengernyitkan dahi, “Maksud Kakek?”
Lelaki tua itu tersenyum.”Hari ini, kita tidak akan belajar makroekonomi, Kita akan belajar mengapa satu kalimat yang sama dapat didengar dengan delapan makna yang berbeda.” Dan untuk pertama kalinya sejak pensiun, lelaki tua itu kembali membuka pelajaran yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah mana pun. Pelajaran tentang beratnya memikul kata-kata.
Delapan Orang Mendengar Satu Kalimat
Lelaki tua itu mengambil selembar kertas kosong dari laci meja. Dengan tulisan tangan yang masih rapi, ia menulis satu kalimat pendek, Bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Lalu ia mendorong kertas itu ke arah cucunya, “Menurutmu, kalimat ini artinya apa?”
Cucunya menjawab cepat, “Ya… artinya suku bunga naik.” Lelaki tua itu menggeleng pelan, “Itu jawaban mahasiswa.”
“Lalu jawaban seorang bankir sentral? Kalimat itu tidak pernah hanya berarti suku bunga naik.” Cucunya tampak bingung. Lelaki tua itu menunjuk kembali kalimat yang baru ditulisnya. “Katakanlah besok pagi kalimat ini diumumkan, Siapa yang pertama kali mendengarnya?”
“Ya… semua orang kek?” Lalu kakek bilang “Bukan.” “Yang pertama mendengarnya bukan ‘semua orang’, Yang pertama mendengarnya adalah kepentingan masing-masing.” Ia berhenti sejenak, lalu mulai menghitung.
“Seorang pensiunan yang hidup dari bunga deposito akan tersenyum, karena penghasilannya mungkin bertambah.”
“Tetapi seorang ayah yang baru saja mengajukan kredit rumah akan pulang dengan wajah murung marena cicilannya bisa menjadi lebih berat.”
“Seorang pengusaha yang minggu depan hendak membangun pabrik mulai membuka kembali lembar perhitungan investasinya, apakah proyek ini masih layak?”.
“Di sebuah kantor di Jakarta, seorang manajer investasi menatap layarnya dengan mata yang sedikit lebih lega. Ia mengelola dana pensiun ribuan guru sekolah dasar, tiga tahun terakhir bunga yang terlalu rendah memaksanya mengambil risiko lebih besar dari yang seharusnya. Pagi itu, untuk pertama kali dalam waktu lama, angka-angkanya mulai berbicara lebih baik. Ia tidak bersorak, ia hanya menghela napas. Karena di balik angka itu ada guru-guru tua yang setiap bulan menunggu uang pensiunnya.”
“Sementara itu, di gedung lain, Menteri Keuangan memanggil stafnya. Kalau bunga naik, berapa tambahan biaya utang negara tahun depan? Karena setiap sepersekian persen memiliki arti miliaran, bahkan triliunan rupiah.”
Di sebuah rumah di Surabaya, seorang ibu membuka buku tabungannya. Sudah tiga tahun ia menyisihkan uang setiap bulan. Untuk pernikahan putrinya, pagi itu ia menghitung ulang. Dengan bunga yang naik, angkanya sedikit lebih dekat dari yang ia impikan. Ia tidak mengerti apa itu basis poin. Ia hanya tahu bahwa mimpi untuk putrinya terasa sedikit lebih dekat hari ini.”
Lalu ia mengangkat jari lagi. “Di Singapura, Hongkong, London, pengelola dana asing mulai membandingkan Indonesia dengan India, Brasil, Meksiko, bahkan Amerika. Bukan karena ia mencintai Indonesia, tetapi karena ia harus memilih ke mana uang para investornya akan ditempatkan.”
Cucunya mulai memperhatikan dengan lebih serius, lelaki tua itu melanjutkan. “Di ruang dealing sebuah bank, para dealer langsung melihat layar, di kantor sekuritas, analis mengubah proyeksi, di pasar saham, investor mulai menghitung ulang nilai perusahaan, dan di pasar obligasi, harga bergerak bahkan sebelum konferensi pers selesai.”
Ia tersenyum kecil. “Lalu, jauh dari semua gedung itu, ada seorang pedagang bakso.” Cucunya mengernyit. “Pedagang bakso? Iya. Mungkin ia tidak tahu apa itu basis poin, Mungkin ia tidak pernah membaca pernyataan bank sentral, Tetapi beberapa bulan lagi ia mulai bertanya mengapa bunga pinjaman gerobaknya berubah, dan mengapa pelanggan mulai lebih hemat dan harga bahan baku bergerak.”
“Tanpa pernah tahu bahwa semuanya berawal dari satu kalimat.” Lelaki tua itu kembali menunjuk kertas di atas meja. “Nak, Kalimat ini tidak pernah berjalan sendirian.”
“Ia membawa harapan bagi sebagian orang, ia membawa kecemasan bagi sebagian yang lain. Ia memberi napas kepada satu kelompok, dan membuat kelompok lain menahan napas. Cucunya terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat sebuah pengumuman bank sentral bukan sebagai paragraf yang membosankan, melainkan sebagai sesuatu yang hidup. Lelaki tua itu melipat kembali kertas tersebut.
“Jadi sekarang kau tahu mengapa kami tidak bisa sembarangan memilih kata”, Karena ketika seorang dosen berbicara, ia sedang mengajar mahasiswanya. “Tetapi ketika seorang gubernur bank sentral berbicara, ia sedang berbicara kepada sebuah negeri.” Ia menatap cucunya sambil tersenyum tipis. “Dan sebuah negeri hampir tidak pernah mendengar dengan telinga yang sama.”
Cucunya masih memandangi kertas yang terlipat di atas meja. Beberapa saat kemudian ia mengangkat wajahnya. “Kalau begitu, kenapa Kakek tidak memilih kalimat yang paling benar saja?”
Lelaki tua itu tersenyum, itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, puluhan tahun yang lalu, ketika baru lulus dari fakultas ekonomi. Ia juga pernah percaya bahwa kebenaran selalu cukup diucapkan apa adanya. “Menurutmu,” katanya pelan, “apa tugas seorang bankir sentral?”
“Menjaga inflasi, menjaga nilai tukar, menentukan suku bunga”. Jawaban itu meluncur begitu saja, seperti isi buku teks yang baru saja dihafalkan. Lelaki tua itu mengangguk, “Semuanya benar, tapi belum lengkap”,
Ia bangkit menuju rak buku. Bukan mengambil buku ekonomi, melainkan sebuah album foto lama. Di dalamnya terselip foto-foto yang mulai menguning. Ada foto ketika ia masih menjadi mahasiswa, ada foto ketika pertama kali masuk bank sentral. Ada pula foto-foto konferensi internasional yang kini nyaris terlupakan. Ia menunjuk salah satunya,
“Dulu aku mengira pekerjaanku adalah membuat keputusan, lalu beberapa tahun kemudian aku sadar, pekerjaanku adalah membuat keputusan yang dipahami dengan benar.” Ia menutup album itu perlahan.
“Nak, keputusan yang baik bisa gagal hanya karena disampaikan dengan cara yang salah.” “Sebaliknya, keputusan yang sulit bisa diterima jika masyarakat memahami mengapa keputusan itu harus diambil.”
Cucunya menyela, “Tapi bukankah masyarakat berhak mendengar keadaan yang sebenarnya?”
“Benar, Lalu kenapa tidak disampaikan saja apa adanya?” Lelaki tua itu tersenyum tipis. “Karena ‘apa adanya’ tidak selalu berarti ‘apa yang didengar’.” Melihat cucunya masih bingung, ia melanjutkan.
“Bayangkan seorang dokter, dia tahu hasil pemeriksaan pasiennya. Apakah ia akan langsung berkata, ‘Bapak sakit keras,’ lalu berhenti di situ?” Dokter yang baik tidak hanya mengatakan penyakit pasien. Ia juga menjelaskan bagaimana pasien harus memahaminya. Bank sentral juga begitu. Kami bukan menyembunyikan kebenaran, kami sedang membantu masyarakat memahaminya.”
Lelaki tua itu kembali duduk. “Dalam hidupku, aku belajar bahwa ada tiga macam kalimat.” Cucunya membuka buku catatan.
“Pertama: kalimat yang benar, Kedua: Kalimat yang terdengar benar dan ketiga: Kalimat yang menghasilkan akibat yang benar. Ia menatap cucunya lekat-lekat,
“Seorang akademisi boleh berhenti pada kalimat pertama, Seorang politikus sering tergoda memakai kalimat kedua, Sedangkan seorang bankir sentral harus mencari kalimat ketiga.”
Cucunya menutup buku catatannya. Untuk pertama kalinya ia merasa sedang mempelajari sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah. Ia datang ke Sleman untuk memahami kebijakan moneter, dan tanpa disadarinya, kakeknya mengajarkan kebijaksanaan yang lebih besar.
Lelaki tua itu mengambil kembali cangkir tehnya yang mulai dingin. Lalu berkata lirih, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. “Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin mahal harga sebuah kalimat.”
Cucunya menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau boleh jujur, Kek, Aku tetap tidak suka, aku tidak suka bahasa yang muter-muter. Menurutku pejabat publik harus bicara terus terang”.
Lelaki tua itu tersenyum. “Kau benar.” Cucunya tampak heran. “Kakek setuju?”, lalu “Tentu.” Jawab kakek. “Kejujuran adalah syarat pertama, tapi bukan yang terakhir.”” Lelaki tua itu mengambil pisau kecil yang tadi dipakai mengupas mangga. Ia meletakkannya di atas meja.
“Coba lihat pisau ini”, cucunya mengangkat alis. “Kalau pisau terlalu tumpul?”, “Ya tidak bisa memotong.” Lelaki tua itu mengangguk. “Kalau terlalu tajam?”, Cucunya tertawa kecil, “Ya malah bagus.”
Lelaki tua itu tersenyum. “Belum tentu.” Ia mengambil talenan kayu yang sudah penuh bekas sayatan. “Kalau pisau terlalu tajam, talenan ikut habis.” Cucunya memandang talenan itu, belum menangkap maksudnya.
“Maksud Kakek?” Lelaki tua itu mengusap permukaan kayu yang mulai cekung. “Pisau memang dibuat untuk memotong, tapi bukan untuk melukai tempat ia bekerja.” Ia memandang cucunya. “Begitu juga lidah, kejujuran harus memotong persoalan, bukan mengiris hati orang yang masih harus diajak berjalan bersama.”
“Jadi harus disembunyikan?”, “Bukan”, jawab kakek. “Mangga, dan buah-buahan tetap harus dipotong, tetapi setelah selesai, kau masih ingin mempunyai talenan yang utuh.” Kejujuran menjawab apa yang benar, Kebijaksanaan menentukan bagaimana kebenaran itu disampaikan.”
Ia memandang jauh ke arah sawah. “Dulu, waktu masih di Jakarta, aku pernah mengubah hanya satu kata dalam naskah konferensi pers.”
“Satu kata, hanya satu.” Apa bedanya? , “Besok paginya, nilai mata uang negeri ini bergerak.” Cucunya terdiam. “Bukan karena kebijakannya berubah, tetapi karena tafsir orang terhadap satu kata itu berubah.”
Lelaki tua itu mengambil ranting kecil yang jatuh di teras. Dengan ujung ranting itu ia menggambar lingkaran di lantai. “Di kampus kau belajar bahwa bahasa dipakai untuk menjelaskan pikiran.”
Ia menggambar lingkaran kedua. “Di bank sentral, aku belajar bahwa bahasa juga membentuk pikiran.” Ia menghubungkan kedua lingkaran itu dengan satu garis. “Orang sering mengira bank sentral mengendalikan suku bunga.” Ia menggeleng pelan. “Tidak.” “Yang paling sering kami kelola justru harapan.”
“Harapan?” Iya, harapan seorang ibu bahwa harga beras tetap terjangkau, Harapan seorang pengusaha bahwa usahanya masih layak diperluas, Harapan seorang investor bahwa negeri ini masih dapat dipercaya, Harapan seorang buruh bahwa pekerjaannya tetap ada, Harapan pemerintah bahwa pertumbuhan tetap terjaga dan Harapan pasar bahwa kami tahu apa yang sedang kami lakukan.”
Ia berhenti sejenak. “Semuanya hidup dari harapan, dan harapan sering kali berubah, hanya karena sebuah kalimat.” Angin kembali berembus pelan.
“Nak, kau tahu mengapa orang Jawa sering dianggap berbicara dengan bahasa yang bersayap?” Cucunya menggeleng. “Bukan karena kami takut mengatakan yang sebenarnya, bukan pula karena kami ingin membingungkan orang.”
“Kami hanya diajarkan satu hal sejak kecil.” Ia mengambil sandal yang terletak di depan pintu. “Lidah yang baik bukan yang paling tajam. Lidah yang baik adalah yang mampu menjaga hati, tanpa mengkhianati kebenaran.” Ia menoleh kepada cucunya, “Selama tiga puluh tahun aku menjadi bankir sentral, aku baru sadar, ternyata pekerjaan itu jauh lebih Jawa daripada yang pernah kubayangkan, Ajining diri dumunung ana ing lathi“
“Apakah Kakek pernah salah bicara?”. Pertanyaan itu membuat lelaki tua tersebut terdiam cukup lama. Ia tidak segera menjawab, tatapannya justru tertuju pada cangkir teh yang tinggal separuh. Permukaannya tenang, tetapi sesekali bergoyang tertiup angin dari halaman.
“Aku pernah salah menghitung atau memperkirakan, tetapi yang paling sering membuatku tidak bisa tidur, bukan angka, Cuma kata-kata”.
“Cuma kata-kata?” tanya cucunya heran. Lelaki tua itu tersenyum. Ia berdiri, berjalan ke rak buku, lalu mengambil sebuah map lusuh. Di dalamnya tidak ada laporan inflasi. Tidak ada grafik nilai tukar, hanya beberapa lembar pidato yang dipenuhi coretan tinta merah. kalimat dicoret, Kata diganti, paragraf dipindahkan, bahkan tanda koma pun berubah.
“Ini naskah konferensi pers?”, lelaki tua itu mengangguk. “Setiap kalimat seperti ini bisa kami perdebatkan berjam-jam.” Cucunya tampak tak percaya, “Hanya karena satu kata?”. “Iya, Hanya karena satu kata.”
Ia membuka salah satu halaman. “Misalnya begini, kalau aku berkata Bank Sentral optimistis terhadap pemulihan ekonomi.” Itu terdengar baik, “tapi sebagian orang bisa mendengar bahwa bank sentral akan segera menurunkan suku bunga.”
Ia membuka halaman berikutnya. “Kalau aku berkata, bank sentral tetap waspada terhadap risiko inflasi. Itu juga benar, tapi sebagian orang bisa menganggap kami akan segera menaikkan suku bunga.” Ia menutup map itu perlahan.
“Nak, di bank sentral, satu kata bukan sekadar satu kata.”, ia adalah sinyal, harapan, ketakutan dan tafsir. Cucunya mengangguk pelan. Baru kali ini ia memahami mengapa naskah yang dibacanya di kampus terdengar begitu hati-hati.
Lelaki tua itu kembali duduk. “Dulu, setiap menjelang konferensi pers, kami berdiskusi bukan hanya dengan para ekonom.”, coba tebak dengan siapa lagi, Cucunya berpikir sejenak, “Ahli bahasa?”. Lelaki tua itu tertawa, “Hampir.”
“Kami berdiskusi dengan banyak sudut pandang.” Orang yang memahami pasar, Orang yang memahami perbankan, Orang yang memahami komunikasi. Karena kami tahu, setelah kalimat itu keluar, ia tidak lagi menjadi milik kami. Ia akan menjadi milik jutaan penafsiran. Ia menatap cucunya dengan wajah yang kali ini jauh lebih serius.
Itulah yang tidak diajarkan di fakultas ekonomi. “Kau diajarkan bahwa kebijakan moneter bekerja melalui suku bunga, itu benar, tetapi ada saluran lain yang tidak kalah kuat”. Apa itu kek? Lelaki tua itu menjawab hampir berbisik. “Kepercayaan, kalau orang percaya pada kata-katamu, mereka sudah berubah sebelum kebijakan itu sendiri bekerja.”
Ia berhenti sejenak. “Lalu kalau mereka tidak percaya?” Lelaki tua itu tersenyum tipis. “Kalau kepercayaan hilang, bahkan kalimat yang paling benar pun kehilangan tenaganya.” Suasana mendadak hening, dari kejauhan terdengar suara kereta melintas menuju Yogyakarta. Lelaki tua itu memandang ke arah rel yang tak terlihat dari rumahnya.
“Selama puluhan tahun orang mengira pekerjaanku adalah menjaga inflasi.” Ia menggeleng pelan. “Padahal setiap hari, yang paling kami jaga, adalah kepercayaan orang terhadap setiap kata yang kami ucapkan.”
Cucunya menutup map lusuh itu perlahan. “Berarti setiap orang selalu salah paham terhadap Kakek?” Lelaki tua itu tersenyum, “Bukan selalu, tetapi hampir tidak pernah semua orang memahami dengan cara yang sama.”
“Capek, ya?” Pertanyaan itu membuat lelaki tua itu tertawa pelan. “Capek, Sangat capek.” Ia memandang pohon mangga di halaman yang mulai bergoyang ditiup angin sore.
“Nak, kalau kau menjadi dosen, kau berharap seluruh mahasiswa memahami pelajaranmu, kalau kau menjadi dokter, kau berharap pasienmu sembuh, Kalau kau menjadi hakim, kau berharap putusanmu menghadirkan keadilan.”
“Kalau kau menjadi bankir sentral, kau tahu sejak awal bahwa separuh orang mungkin akan kecewa.” Cucunya terdiam, “Kenapa?”
“Karena kepentingan mereka memang berbeda.”, kata kakek. Lelaki tua itu melanjutkan dengan tenang. “Ketika bunga naik, penabung merasa diselamatkan, peminjam merasa dihukum.”
“Ketika nilai tukar menguat, importir lega, tapi eksportir mulai mengeluh. “Ketika inflasi turun, orang bersorak, tetapi mungkin pertumbuhan ikut melambat, dan ada orang lain yang kehilangan pekerjaan.”
Ia menghela napas panjang. “Di ruang kuliah, setiap soal mempunyai satu jawaban, tapi Di bank sentral, setiap jawaban selalu mempunyai pihak yang harus menanggung biayanya.” Cucunya menunduk. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia selalu memandang kebijakan moneter seperti soal pilihan ganda. Benar atau salah, naik atau turun, ketat atau longgar. Padahal kenyataan jauh lebih rumit.
Lelaki tua itu mengambil sebuah biji sawo yang jatuh di teras. Ia memutarnya di telapak tangan. “Orang sering bertanya kepadaku, Pak Gubernur, keputusan ini berpihak kepada siapa?'” Ia tersenyum kecil.
“Dulu aku selalu kesulitan menjawab, bukan karena aku tidak tahu, tetapi karena jawabannya adalah keputusan yang baik seharusnya tidak berpihak kepada siapa pun, ia harus berpihak kepada keseimbangan.” Beberapa saat kemudian cucunya bertanya dengan suara yang lebih pelan.
“Kalau begitu, siapa yang membela Kakek?” Lelaki tua itu tampak terkejut. Pertanyaan itu tidak pernah muncul dalam puluhan tahun kariernya. Ia tersenyum. “Tidak ada.” Cucunya terkejut dan kembali berucap “Tidak ada?”
“Kalau bunga naik, sebagian orang marah, Kalau bunga turun, kelompok yang lain marah. Kalau rupiah melemah, kami dianggap gagal, kalau rupiah terlalu kuat, kami juga dipersoalkan. Kalau inflasi naik, kami disalahkan, kalau ekonomi melambat, kami juga ikut disalahkan.”
Ia tertawa kecil, kali ini lebih seperti menertawakan dirinya sendiri. “Itulah sebabnya, seorang bankir sentral tidak boleh terlalu mencintai pujian.”, dan tidak boleh terlalu takut kepada kritik.” Ia memandang cucunya dengan tatapan yang sangat lembut. “Karena kalau kedua-duanya masuk ke dalam hati, kau akan mulai membuat kebijakan untuk menyenangkan manusia, bukan untuk menjaga negeri.”
Kalimat itu menggantung cukup lama. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Matahari perlahan turun di balik pepohonan.
Lelaki tua itu memejamkan mata sejenak, “Dulu, aku mengira pekerjaan ini adalah soal keberanian mengambil keputusan.” Ia membuka matanya kembali. “Ternyata yang lebih sulit, adalah keberanian tetap tenang ketika seluruh negeri menafsirkan keputusanmu dengan cara yang berbeda-beda.” Cucunya tidak lagi mencatat, Ia hanya mendengarkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak kuliah di Fakultas Ekonomi, ia mulai melihat bahwa di balik setiap angka inflasi, setiap keputusan suku bunga, dan setiap konferensi pers, selalu ada seorang manusia yang memikul beban yang nyaris tidak pernah terlihat.
Azan Ashar telah berlalu. Bayangan pohon mangga mulai memanjang menutupi halaman. Cucunya menutup buku catatan yang sejak tadi penuh dengan coretan. Ia datang ke Sleman untuk mengerjakan tugas makroekonomi. Entah bagaimana, sore itu ia justru merasa sedang belajar tentang kehidupan.
“Kek, boleh aku bertanya satu hal lagi?” Cucunya ragu-ragu sejenak. “Selama menjadi gubernur bank sentral, apa Kakek pernah takut?” Lelaki tua itu tidak segera menjawab. Matanya menatap jauh ke arah langit yang mulai berwarna jingga.
“Aku pernah takut, bukan takut dikritik, bukan takut salah, bukan pula takut kehilangan jabatan, tapi aku takut kata-kataku dipahami tidak sebagaimana yang kumaksud”. Suasana mendadak sunyi.
Lelaki tua itu bangkit perlahan, masuk ke dalam rumah, lalu kembali membawa sebuah mushaf kecil, sampulnya telah pudar, beberapa sudut halamannya mulai menguning. Ia membuka salah satu halaman yang sudah diberi pembatas sejak lama.
“Dulu, setiap kali menjelang konferensi pers besar, aku selalu membaca ayat ini.” Dengan suara pelan ia mulai membaca. Rabbisyrah li shadri, (“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku.” Ia tersenyum kecil, “Karena kalau hati sudah sempit, keputusan yang paling benar pun akan terasa berat.”), Wa yassir li amri (“Ya Tuhanku, mudahkanlah urusanku, karena tidak ada satu pun rapat yang benar-benar mudah, tidak ada satu pun keputusan yang membuat semua orang bahagia.”), Wahlul ‘uqdatan min lisani, (“Lepaskanlah kekakuan dari lidahku.”)
Cucunya mengangguk, “Nah, ini yang selama ini aku tahu, kita harus lancar berbicara Kek”. Lelaki tua itu menggeleng pelan, “Itu juga yang dulu kupikir.” Ia memandang mushaf di tangannya. “Selama bertahun-tahun aku mengira bagian tersulit dari doa ini adalah agar lidahku lancar, padahal ternyata bukan.”
Ia berhenti cukup lama, begitu lama hingga cucunya tidak berani menyela. Lalu, dengan suara yang hampir berbisik, ia membaca bagian terakhir. Yafqahu Qauli, “Agar mereka memahami perkataanku. Ia menutup mushaf itu perlahan.
“Nak, setelah puluhan tahun hidup di bank sentral, aku baru mengerti, yang paling sulit bukan menemukan keputusan yang benar, bukan pula menyampaikan keputusan itu,yang paling sulit adalah memastikan jutaan orang yang mendengarnya memahami maksud yang sama.”
“Karena seorang penabung mendengarku dengan telinganya, seorang peminjam mendengarku dengan telinganya, seorang pengusaha dengan kepentingannya dan pemerintah dengan tanggung jawabnya.” “Mereka semua mendengar suara yang sama.” “Tetapi tidak pernah dengan telinga yang sama.”
Ia tersenyum, kali ini dengan ketenangan yang hanya dimiliki orang-orang yang telah berdamai dengan hidupnya. “Itulah sebabnya, Nak, semakin lama aku bekerja, semakin sering aku mengulang doa ini, bukan agar aku pandai berbicara, tetapi agar mereka memahami apa yang sebenarnya ingin kusampaikan.” Lelaki tua itu menatap cucunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sore itu, tidak ada lagi yang berbicara. Angin berembus pelan melewati teras rumah di Sleman. Di kejauhan, puncak Merapi berdiri diam, seolah menjadi saksi bahwa ada amanah yang tak pernah benar-benar selesai ketika jabatan telah usai. Baru hari itu cucunya memahami mengapa doa Nabi Musa terasa begitu dekat dengan dunia makroekonomi.
Karena pada akhirnya, amanah terbesar seorang bankir sentral bukan hanya mengambil keputusan. Melainkan berharap, dengan segala kerendahan hati,” …yafqahu qauli.” Agar mereka memahami perkataanku.
(miq/miq)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment