Home Finance Perang Membara Tapi RI Banjir Kabar Baik, IHSG & Rupiah Tetap Pesta?
Finance

Perang Membara Tapi RI Banjir Kabar Baik, IHSG & Rupiah Tetap Pesta?

Share
Perang Membara Tapi RI Banjir Kabar Baik, IHSG & Rupiah Tetap Pesta?
Share

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan dalam negeri ditutup di zona hijau. Bursa saham dan rupiah kompak menguat di tengah rilis berbagai sentimen positif.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan kembali lebih lega walaupun masih menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya di hari terakhir perdagangan bursa pekan ini.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 66,24 poin atau 1,1% ke level 6.108,21 kemarin, Kamis (16/6/2026).

Sebanyak 385 saham naik, 254 turun, dan 326 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 13,22 triliun melibatkan 26,23 miliar saham dalam 2,27 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar mencapai Rp 10.659 triliun.

Adapun sejumlah saham yang mendorong IHSG sejak pagi tadi adalah Amman Mineral (AMMN), Bank Mandiri (BMRI), Astra (ASSI), hingga Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

IHSG sepanjang kemarin tertahan oleh DCI Indonesia (DCII). Meski transaksi emiten Toto Sugiri tersebut sangat kecil, penurunan harga DCII sempat memangkas sekitar 15 poin IHSG, menjadikannya kontributor negatif terbesar terhadap pergerakan indeks. Bahkan DCII sempat membuat IHSG menyentuh zona merah pada 30 menit awal perdagangan.

Saham DCII sempat turun ke level 183.900 atau melemah sekitar 7,4% dari penutupan sebelumnya. Akan tetapi pada akhir perdagangan DCII memangkas koreksi menjadi 0,44% dan melepas beban terhadap IHSG.

Sementara itu, investor asing masih mencatat net sell di pasar reguler hingga sesi 1. Asing membukukan net buy Rp 1 triliun karena ada transaksi jumbo di pasar negosiasi terkait saham PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) dengan nilai mencapai Rp 1,44 triliun.

Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I tercatat mencapai Rp4,19 triliun, dengan rincian foreign buy sebesar Rp2,60 triliun dan foreign sell Rp1,59 triliun.

PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp60,83 miliar.

Selanjutnya, asing juga melepas emiten pendatang baru milik Raffi Ahmad, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk. (RANS), senilai Rp43,36 miliar. Tekanan jual turut menghampiri PT Astra International Tbk. (ASII) Rp30,21 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp24,63 miliar, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) Rp17,25 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp13,79 miliar.

Lanjut ke mata uang Garuda, nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Penguatan terjadi di tengah dolar AS yang masih dalam tren pelemahan.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup terapresiasi 0,44% ke level Rp17.980/US$. Posisi tersebut membuat rupiah berhasil keluar dari level psikologis Rp18.000/US$. Level ini juga menjadi posisi terkuat rupiah dalam sepekan terakhir.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.970-Rp18.070/US$. Penguatan kemarin membuat rupiah sudah menguat dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau bergerak stabil di level 100,848. Meski stabil, DXY masih berada dalam tren penurunan setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,43%.

Penguatan rupiah kemarin masih ditopang oleh pelemahan dolar AS di pasar global. Pelaku pasar terlihat melakukan aksi jual pada aset berdenominasi dolar AS, sehingga ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia setelah data harga produsen Amerika Serikat (AS) dirilis lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut memperkuat tanda-tanda meredanya tekanan inflasi di AS.

Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3% pada Juni 2026. Angka ini berbalik dari Mei 2026 yang sebelumnya direvisi menjadi naik 0,6%.

Realisasi tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan PPI tidak berubah. Data harga produsen yang lebih rendah memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) masih dapat bersabar dalam menentukan arah suku bunga.

Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,237% pada Kamis (16/7/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 7,236%.

Naiknya nilai imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai menjual obligasi tersebut sehingga harga mengalami penurunan.

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup melemah pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Saham melemah setelah aksi jual di sektor teknologi menutupi derasnya laporan kinerja keuangan emiten yang sebenarnya cukup solid.

Indeks S&P 500 turun 0,51% dan berakhir di level 7.533,77. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 1,47% ke 25.881,95 akibat tekanan besar pada saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor.

Adapun Dow Jones Industrial Average melandai 105,67 poin atau 0,20% ke posisi 52.552,97.

Saham-saham chip melemah setelah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex), meski perusahaan melaporkan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi pasar.

TSMC kini memperkirakan belanja modal tahun ini berada di kisaran US$60 miliar hingga US$64 miliar, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar US$52 miliar hingga US$56 miliar. Saham TSMC pun ditutup turun lebih dari 2%.

 

Tekanan juga melanda sektor semikonduktor secara luas. VanEck Semiconductor ETF (SMH) anjlok hampir 4%, dipimpin penurunan lebih dari 5% pada saham Arm Holdings.

Saham Micron Technology dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing juga turun lebih dari 5%, sementara Broadcom melemah 5%. Di sisi lain, saham SK Hynix yang diperdagangkan di bursa AS merosot lebih dari 13%.

Di luar sektor chip, saham Alphabet turun lebih dari 4% setelah dilaporkan menunda peluncuran model kecerdasan buatan (AI) paling canggihnya, Gemini 3.5 Pro.

Saham-saham raksasa teknologi lainnya dalam kelompok “Magnificent Seven”, seperti Meta Platforms, Nvidia, dan Amazon, juga ditutup di zona merah.

Meski demikian, musim laporan keuangan (earnings season) sejauh ini dimulai dengan sangat positif.

 

Dari 40 perusahaan anggota S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan, lebih dari 87% berhasil melampaui ekspektasi analis Wall Street. Bank-bank besar AS, yang kerap dijadikan indikator kesehatan ekonomi, juga mencatat laba kuartal II yang jauh lebih baik dari perkiraan pada awal pekan ini.

“Secara keseluruhan, pasar masih cukup kuat jika melihat pertumbuhan laba perusahaan di berbagai kelompok kapitalisasi pasar,” kata Patrick Ryan, Chief Investment Strategist di Madison Investments, dikutip dari CNBC International.

Sementara itu, serangkaian data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa konsumen AS masih cukup tangguh meski menghadapi tekanan harga yang lebih tinggi.

Jumlah klaim baru tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 11 Juli tercatat 208.000, lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebanyak 218.000.

Di sisi lain, penjualan ritel AS naik 0,2%, sesuai dengan ekspektasi pasar

Mengakhiri pekan perdagangan pada Jumat pagi ini, pelaku pasar global dan domestik disuguhkan dengan rilis serangkaian data makroekonomi krusial yang dipublikasikan pada hari Kamis kemarin.

Dari dalam negeri, iklim ekonomi menunjukkan performa impresif yang ditandai dengan rilis capaian investasi kuartal kedua yang mencetak rekor baru, serta peresmian eksekusi proyek gas raksasa di Maluku.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, rilis data pasar tenaga kerja dan angka konsumsi ritel memberikan konfirmasi mengenai ketahanan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Di luar sentimen makroekonomi, perhatian global juga mulai tertuju pada puncak perhelatan Piala Dunia 2026 pada akhir pekan ini.

Perkembangan Perang

Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali saling melancarkan serangan pada Kamis, menandai eskalasi konflik selama sepekan yang praktis menghapus gencatan senjata bulan lalu.

Militer AS menyebut telah melakukan serangan udara untuk malam keenam berturut-turut guna melemahkan kemampuan militer Iran.

Untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata, AS juga melancarkan dua gelombang serangan besar dalam sehari pada Rabu, yang mayoritas menyasar pesisir selatan Iran.

Iran membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

 

Pada Kamis malam, serangan AS dilaporkan menghantam Pulau Qeshm, Bandar Abbas, hingga Bandar Khamir, kawasan strategis di sekitar Selat Hormuz.

Eskalasi ini kembali mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia. Iran kembali memblokade selat tersebut, sementara AS memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber Reuters menyebut Iran juga mengancam akan mendorong kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandeb jika AS menyerang infrastruktur Iran.

Di sisi lain, Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa seorang warga negara AS telah dibebaskan dari penjara Iran.

Trump juga kembali mengancam akan meningkatkan tekanan, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat dan serangan terhadap infrastruktur vital Iran jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan.

Pengamat Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai kedua negara kini “kembali ke titik awal” dan harus memilih antara meredakan konflik atau membawa perang ke level yang lebih berbahaya.

Dampak Ekonomi Final Piala Dunia 2026

Perhatian global akhir pekan ini akan tertuju pada final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol. Laga di New York-New Jersey Stadium tersebut berlangsung Minggu, 19 Juli pukul 15.00 waktu setempat, atau Senin, 20 Juli pukul 02.00 WIB.

Argentina menjadi tim paling produktif dengan 19 gol, sedangkan Spanyol baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen Piala Dunia kali ini.

Pasar prediksi saat ini lebih mengunggulkan Spanyol. Berdasarkan Polymarket pada 16 Juli 2026, peluang Spanyol menjadi juara berada di kisaran 58%, sementara Argentina sekitar 42%, dengan volume perdagangan kumulatif pasar juara mencapai US$4,3 miliar.

Dari sisi ekonomi, turnamen ini diproyeksikan menghasilkan tambahan PDB global hingga US$40,9 miliar. Khusus New York dan New Jersey, delapan pertandingan termasuk final diperkirakan menciptakan dampak ekonomi US$3,3 miliar melalui pariwisata, hotel, transportasi, restoran, dan perdagangan ritel.

Di Indonesia, laga dini hari berpotensi meningkatkan transaksi makanan, minuman, minimarket, layanan pesan-antar, dan acara nonton bareng. Namun, dampaknya bagi emiten konsumer dan digital kemungkinan bersifat jangka pendek. Artinya, final dapat menjadi katalis sentimen pada perdagangan Senin, tetapi belum tentu cukup material untuk mengubah proyeksi laba perusahaan.




Argentina's forward #10 Lionel Messi lifts the FIFA World Cup Trophy as he celebrates with supporters winning the Qatar 2022 World Cup final football match between Argentina and France at Lusail Stadium in Lusail, north of Doha on December 18, 2022. (Photo by Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)Argentina’s forward #10 Lionel Messi lifts the FIFA World Cup Trophy as he celebrates with supporters winning the Qatar 2022 World Cup final football match between Argentina and France at Lusail Stadium in Lusail, north of Doha on December 18, 2022. (Photo by Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)

Realisasi Investasi Semester I Tembus Rp 1.000 Triliun

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan realisasi tersebut telah mencapai 49,5% dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun, sehingga pemerintah optimistis target tahunan dapat tercapai.

Realisasi investasi tersebut juga menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat 15% dibandingkan semester I-2025.

Tren pemerataan investasi juga berlanjut. Untuk pertama kalinya, investasi yang masuk ke luar Pulau Jawa kembali lebih besar dibandingkan Jawa. Nilainya mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2% dari total investasi, sedangkan investasi di Pulau Jawa sebesar Rp502,8 triliun atau 49,8%.

Dari sisi sumber dana, komposisi investasi domestik dan asing relatif berimbang. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8%, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp507,6 triliun atau 50,2% dari total realisasi investasi.

Untuk investasi asing, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia dengan nilai US$8,8 miliar, disusul Hong Kong (US$7,6 miliar), China (US$3,9 miliar), Jepang (US$1,9 miliar), dan Amerika Serikat (US$1,7 miliar). Kelima negara tersebut menyumbang sekitar 77,8% dari total PMA yang masuk ke Indonesia selama semester I-2026.




Realisasi investasiRealisasi investasi Foto: BKPM

Jika dilihat per kuartal, total realisasi investasi sepanjang Kuartal II-2026 mencapai Rp511,8 triliun.

Capaian ini tumbuh 7,1% secara tahunan dan berhasil menyerap 742.293 tenaga kerja. Secara proporsi, Penanaman Modal Asing (PMA) memimpin dengan raihan Rp257,7 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyusul ketat di angka Rp254,1 triliun.

Sebaran investasi di luar Pulau Jawa juga berhasil mengungguli Pulau Jawa dengan nilai Rp256,5 triliun berbanding Rp255,3 triliun.

Aliran investasi kuartal ini diwarnai oleh rekor baru masuknya modal asing dari Hong Kong senilai US$ 5 miliar, yang untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir berhasil menggeser dominasi Singapura (US$ 4,2 miliar).


Agresivitas investasi dari China daratan yang disalurkan melalui instrumen keuangan di Hong Kong menjadi pendorong utama fenomena ini.

Selain itu, terjadi pergeseran tren pada sektor hilirisasi domestik, di mana investasi pengolahan bauksit yang mencapai Rp40,1 triliun sukses melampaui sektor nikel (Rp29,4 triliun) pada kuartal tersebut.

Pergeseran ini didorong oleh masifnya pembangunan fasilitas pengolahan bauksit baru di dalam negeri oleh investor domestik maupun asing.

Groundbreaking Proyek Gas Raksasa Blok Masela

Presiden Prabowo Subianto meresmikan langsung proyek gas raksasa Lapangan Abadi, Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis kemarin (16/7/2026).

Proyek senilai US$ 20,95 miliar atau setara Rp390 triliun ini, yang akhirnya tereksekusi setelah tertunda selama hampir 28 tahun dan melewati enam era kepresidenan.

Dikelola oleh konsorsium Inpex, Pertamina, dan Petronas, Blok Masela diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, serta 35.000 barel kondensat per hari untuk mendukung agenda hilirisasi dan ketahanan energi nasional.

Proyek strategis ini juga akan dilengkapi dengan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) untuk menekan emisi, menjadikannya salah satu pusat industri energi terbersih dan terbesar di kawasan Indonesia Timur yang diproyeksikan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Realisasi Klaim Pengangguran Amerika Serikat

Beralih ke Amerika Serikat, data pasar tenaga kerja yang dirilis menunjukkan ketangguhan di luar ekspektasi para analis. Jumlah klaim pengangguran awal (initial jobless claims) di AS pada pekan yang berakhir 11 Juli turun tajam sebanyak 8.000 klaim menjadi 208.000 klaim.

Angka ini berada jauh di bawah ekspektasi konsensus sebesar 217.000, sekaligus menandai level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir.

Tren perbaikan yang sama juga terlihat pada klaim pengangguran lanjutan (continuing claims) yang turun sebanyak 16.000 menjadi 1.805.000 pada pekan yang berakhir 4 Juli.

Rilis data ini memberikan indikasi kuat bahwa tingkat pemutusan hubungan kerja di AS masih sangat minim, mengonfirmasi solidnya fundamental pasar tenaga kerja terlepas dari tekanan inflasi dan melambatnya pertumbuhan angkatan kerja.

Di sisi lain, klaim awal yang diajukan oleh pegawai federal AS terpantau naik tipis sebanyak 20 menjadi 424 klaim seiring kebijakan rasionalisasi aparatur negara.

Realisasi Penjualan Ritel Amerika Serikat

Indikator makroekonomi AS lainnya yang dirilis bersamaan adalah data konsumsi ritel. Penjualan ritel AS dilaporkan tumbuh sebesar 6,7% yoy pada bulan Juni 2026.

Meskipun angka ini menunjukkan ekspansi konsumsi yang masih kuat, pencapaian tersebut sejatinya melambat jika dibandingkan dengan bulan Mei yang angkanya direvisi naik (upwardly revised) menjadi pertumbuhan sebesar 7,3% yoy.

Pertumbuhan ritel di level 6,7% ini sejalan dengan konsensus pasar, yang mengindikasikan bahwa laju pengeluaran rumah tangga AS mulai mengalami moderasi yang terkendali seiring dengan dinamika suku bunga dan tingkat inflasi.

Rilis Inflasi Zona Euro

Pada perdagangan hari ini, Jumat (17/7/2026), agenda utama pasar global akan tertuju pada publikasi pembacaan final tingkat inflasi konsumen kawasan Zona Euro untuk periode Juni 2026 oleh otoritas statistik Eurostat.

 Berdasarkan rilis data awal (preliminary) sebelumnya, inflasi tahunan di kawasan ini sukses diredam ke level 2,8% pada bulan Juni, turun signifikan dari 3,2% di bulan Mei, dan lebih baik dari ekspektasi pasar yang berada di 3,0%.

Penurunan menuju level terendah sejak Februari tersebut dipicu oleh meredanya inflasi harga energi menjadi 8,7% dari 10,8%.

Data final hari ini diharapkan dapat mengonfirmasi tren disinflasi di negara-negara ekonomi utama Eropa, yang akan menjadi justifikasi fundamental bagi arah kebijakan pelonggaran suku bunga European Central Bank (ECB) dalam pertemuan komite moneter terdekat.


Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Inflasi Zona Eropa Juni 2026
  • Data Perumahan AS Juni 2026
  • Komisi XI DPR menggelar rapat Panitia Kerja RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia di ruang rapat Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta Pusat.


  • Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan Kepala Badan Gizi Nasional di ruang rapat Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta Pusat.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Astra International Tbk (ASII)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Hatten Bali Tbk (WINE)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Adi Sarana Armada Tbk (ASSA)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Global Sukses Digital Tbk (DOSS)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Colorpak Indonesia Tbk (CLPI)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Global Sukses Digital Tbk (DOSS)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR)

  • Tanggal Akhir Perdagangan HMETD PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE)

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:


Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *