
Jakarta, CNBC Indonesia – Para dosen di Amerika Serikat mengaku dibuat pusing menghadapi mahasiswa Generasi Z (Gen Z). Bukan karena nilai yang buruk, melainkan karena semakin banyak mahasiswa yang kesulitan memahami bacaan panjang, bahkan disebut tidak mampu mencerna satu kalimat secara utuh.
Fenomena tersebut membuat para pengajar terpaksa mengubah metode pembelajaran. Alih-alih langsung mendiskusikan materi, dosen kini harus membacakan teks di kelas, mengulasnya kalimat demi kalimat, hingga mengurangi beban bacaan agar mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan.
Kondisi ini muncul di tengah merosotnya budaya membaca di AS. Sejumlah akademisi khawatir lemahnya kemampuan membaca tidak hanya berdampak pada prestasi kuliah, tetapi juga memengaruhi kemampuan berpikir kritis, empati, hingga kehidupan sosial generasi muda.
Profesor humaniora dan sastra klasik di Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, mengatakan banyak mahasiswa datang ke kelas tanpa membaca materi yang telah diberikan sebelumnya. Bahkan ketika teks dibacakan bersama di kelas, sebagian mahasiswa masih kesulitan memahami isi kalimat.
“Ini bukan sekadar ketidakmampuan berpikir kritis. Ini adalah ketidakmampuan membaca kalimat,” kata Wilson dikutip dari Fortune, Minggu (2/8/2026).
“Saya merasa harus membacakan materi dengan suara keras karena tidak ada jaminan mereka membacanya malam sebelumnya,” ujarnya menambahkan.
Meski komunitas pecinta buku seperti BookTok berkembang di TikTok, Gen Z masih tertinggal dibanding generasi lain. Data YouGov menunjukkan warga Amerika berusia 18-29 tahun rata-rata hanya membaca 5,8 buku sepanjang 2025.
Mahasiswa Kesulitan Membaca Teks Panjang
Wilson mengatakan, kini ia harus menggunakan pendekatan berbeda. Ia membacakan materi bersama mahasiswa, membahasnya kalimat demi kalimat, bahkan mengulang satu puisi atau karya sastra selama satu semester.
“Saya tidak mencoba menurunkan standar. Saya hanya harus menggunakan pendekatan pengajaran yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama,” kata ia.
Profesor teologi di University of Notre Dame, Timothy O’Malley, juga mengalami hal serupa. Jika dulu mahasiswa mampu menyelesaikan bacaan 25-40 halaman setiap pertemuan, kini banyak yang merasa kewalahan.
“Dulu mahasiswa akan mengerjakannya atau mengakui kalau mereka kesulitan. Sekarang, jika diberi bacaan sebanyak itu, mereka sering tidak tahu harus mulai dari mana,” ujarnya.
Menurut O’Malley, sebagian mahasiswa kini lebih memilih membaca ringkasan yang dibuat kecerdasan buatan (AI) dibanding materi asli. Akibatnya, mereka kehilangan proses memahami argumen dan gagasan secara mendalam.
Ia menilai kebiasaan membaca untuk sekadar mencari jawaban ujian membuat banyak mahasiswa terbiasa memindai informasi, bukan memahami isi bacaan secara utuh.
Bukan Hanya soal Nilai Kuliah
Profesor teologi di Abilene Christian University, Brad East, menilai persoalan utamanya bukan karena mahasiswa membenci membaca, melainkan kurang percaya diri dan tidak memiliki daya tahan untuk membaca dalam waktu lama.
Sementara itu, profesor Kellogg School of Management di Northwestern University, Brooke Vuckovic, mengatakan sekitar 40%-50% mahasiswa bisnis yang diajarnya mengaku bukan pembaca aktif. Namun, kemampuan mereka biasanya meningkat setelah mulai membiasakan diri membaca.
Menariknya, di tengah menurunnya minat baca Gen Z, survei JPMorgan terhadap lebih dari 100 miliarder pada 2025 menunjukkan membaca masih menjadi kebiasaan yang paling umum dimiliki para tokoh sukses tersebut.
Wilson mengingatkan dampak menurunnya kemampuan membaca tidak hanya berpengaruh terhadap nilai kuliah atau karier. Menurutnya, membaca juga membantu membangun empati, memahami perspektif orang lain, serta memperkuat hubungan sosial.
“Saya pikir polarisasi, kecemasan, kesepian, hingga berkurangnya persahabatan dapat terjadi ketika masyarakat tidak lagi membaca bersama,” ujarnya.
(luc/luc)
Leave a comment