Home Finance Bos LPS Blak-blakan Soal CIU BPR hingga FenomenaMakan Tabungan
Finance

Bos LPS Blak-blakan Soal CIU BPR hingga FenomenaMakan Tabungan

Share
Bos LPS Blak-blakan Soal CIU BPR hingga FenomenaMakan Tabungan
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu buka suara soal jumlah BPR yang dicabut izin usahanya, tren penurunan tabungan kecil, hingga perbandingan data LPS dengan Mandiri Saving Index.

Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor LPS, Senin (3/8/2026), Anggito mengungkapkan bahwa per Juni 2026 terdapat 18 BPR-BPRS yang tengah dalam proses likuidasi. Dari jumlah tersebut, 8 BPR di antaranya dicabut izin usahanya sepanjang semester I-2026. Ia menambahkan, hingga akhir Juli 2026 jumlah BPR yang telah dicabut izin usahanya bertambah menjadi 10 BPR.

Dari sisi proses pembayaran klaim penjaminan, Anggito menyebut kinerja LPS semakin cepat, dengan 70% dari total rekening nasabah sudah dibayarkan dalam 5 hari sejak pencabutan izin usaha.

Mengenai tren penurunan rata-rata tabungan pada segmen di bawah Rp100 juta sejak 2018, serta apakah hal ini mengindikasikan fenomena “makan tabungan”, Anggito menegaskan pihaknya menjawab berdasarkan data yang dikumpulkan bersama OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan dari 696 juta rekening.

Ia menyatakan LPS memantau data secara agregat, bukan retrospektif hingga 2018, melainkan berbasis pertumbuhan tahunan. Menurutnya, simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16% secara tahunan, sementara simpanan di bawah Rp5 juta tumbuh 7,36%. Ia menegaskan seluruh segmen simpanan meningkat, termasuk simpanan di atas Rp5 miliar yang menjadi pendorong utama Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan pertumbuhan 15,44% secara tahunan.

Terkait pertanyaan mengenai kontraksi Mandiri Saving Index sebesar 5,7% berbarengan dengan kenaikan indeks pinjaman 24%, Anggito menjelaskan bahwa Mandiri Index menggunakan basis perhitungan indeks sejak Januari 2022, sehingga berbeda metodologi dengan data pertumbuhan tabungan yang dipaparkan LPS.

Ia menegaskan data LPS yang mencakup seluruh rekening menunjukkan simpanan tumbuh secara agregat di seluruh lapisan secara tahunan. Anggito mengakui bahwa secara individual, ada nasabah yang menggunakan tabungannya dan ada pula yang menambah surplus tabungan, namun secara agregat seluruh segmen mulai dari simpanan di bawah Rp5 juta, Rp10 juta, Rp100 juta, Rp200 juta, hingga di atas Rp5 miliar tetap menunjukkan pertumbuhan. Ia menambahkan LPS tidak melakukan kajian mengenai dampak konsumsi dari fenomena tersebut, karena fokus pemantauan LPS hanya pada perkembangan tabungan.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *