Home Finance 71 Korban Meninggal, 59.647 Orang Pengungsi
Finance

71 Korban Meninggal, 59.647 Orang Pengungsi

Share
71 Korban Meninggal, 59.647 Orang Pengungsi
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 71 orang. Di sisi lain, puluhan ribu warga masih mengungsi karena rumah mengalami kerusakan dan khawatir terhadap gempa susulan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berto Panjaitan mengatakan jumlah korban meninggal dunia bertambah satu orang menjadi 71 orang. Korban tambahan tersebut tercatat di Kabupaten Nagekeo.

“Kami akan menyampaikan bahwa jumlah korban ada bertambah satu orang menjadi 71 yaitu di Kabupaten Nagekeo. Kami segenap pemerintah maupun dari kementerian lembaga yang ada bersama-sama saat ini mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya,” kata Berto dalam konferensi pers virtual, Rabu (19/8/2026).

Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. BMKG menyebut gempa tersebut berpusat di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Setelah gempa utama, aktivitas kegempaan masih berlanjut. BMKG hingga Rabu pukul 14.00 WIB mencatat 3.002 gempa susulan dengan magnitudo 1,1 hingga 6,2. Sebanyak 86 gempa susulan dirasakan masyarakat, termasuk 25 kejadian dengan magnitudo 5 atau lebih.

Aktivitas gempa susulan tersebut turut membuat sebagian masyarakat memilih bertahan di lokasi pengungsian dan tidak kembali ke rumah. Selain karena kerusakan bangunan, warga masih khawatir terhadap potensi gempa susulan. BNPB mencatat jumlah pengungsi saat ini mencapai 59.647 orang. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni mencapai 20.334 orang.

“Penanganan pengungsi saat ini bahwa pengungsi menjadi salah satu fokus utama kami karena sebagian masyarakat memilih untuk tidak kembali ke rumah, terutama karena kondisi bangunannya rusak dan kekhawatiran terhadap gempa susulan,” kata Berto.

Pemerintah memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terus dipenuhi. Kebutuhan tersebut mencakup makanan dan air bersih, tenda atau tempat tinggal sementara, matras dan selimut, layanan kesehatan, sanitasi dan kebersihan, serta kebutuhan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas.

Namun, distribusi bantuan menghadapi sejumlah tantangan. Pengungsi tidak seluruhnya berada di satu lokasi terpusat. Sebagian masyarakat memilih tinggal di sekitar rumah masing-masing untuk menjaga harta benda maupun ternak yang mereka miliki.

“Penanganan pengungsi tidak hanya dilakukan di satu lokasi terpusat karena banyak masyarakat tersebar di beberapa titik, terutama di dekat rumah masing-masing karena ada alasan keamanan harta benda maupun ternak yang mereka pelihara,” ujar Berto.

Di tengah penanganan darurat, pemerintah meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. BNPB mengingatkan penyebaran hoaks pascabencana dapat memicu kepanikan, mengganggu penanganan pengungsi dan menghambat distribusi bantuan.

“Kami menerima adanya berbagai informasi yang beredar di media sosial terkait kondisi pasca bencana NTT. BNPB menghimbau masyarakat agar selalu tidak langsung mempercayai dan menyebarluaskan informasi yang belum jelas sumbernya,” ujar Berto.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *