Home Finance Dunia Krisis Aluminium, China Datang Jadi Pahlawan Sekaligus Juragan
Finance

Dunia Krisis Aluminium, China Datang Jadi Pahlawan Sekaligus Juragan

Share
Dunia Krisis Aluminium, China Datang Jadi Pahlawan Sekaligus Juragan
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – China kini membantu meredam guncangan pasokan aluminium global setelah perang Iran mengganggu produksi di kawasan Teluk.

Namun, di balik tambahan pasokan tersebut, muncul perubahan yang berpotensi menguntungkan China dalam jangka panjang sekaligus membuat industri Barat semakin bergantung pada Negeri Tirai Bambu.

Sebagai produsen aluminium terbesar dunia, China memiliki ruang untuk meningkatkan ekspor. Produksi domestik tetap tinggi ketika permintaan dalam negeri justru melemah.


Pada paruh pertama 2026, ekspor aluminium alloy China hampir dua kali lipat menjadi 238.500 ton. Sementara itu, ekspor produk aluminium setengah jadi (semi-finished products) naik 18% menjadi 3,2 juta ton. Bahkan pada Juni, pengiriman produk setengah jadi mencapai rekor bulanan 695.000 ton.

Lonjakan ekspor tersebut membantu menutup sebagian kekurangan pasokan setelah produksi aluminium di kawasan Teluk terganggu akibat perang. Namun, perubahan yang terjadi bukan sekadar soal meningkatnya volume ekspor.




Ekspor aluminium ChinaEkspor aluminium China Foto: Reuters

Bukan Sekadar Mengganti Pasokan yang Hilang

China tidak serta-merta menggantikan aluminium primer yang hilang dari kawasan Teluk. Produk seperti alloy, batang, kawat, dan tabung justru memungkinkan konsumen membeli aluminium yang sudah melalui proses lebih lanjut.

Artinya, kebutuhan terhadap aluminium mentah di negara lain ikut berkurang. Pada saat yang sama, semakin banyak proses pengolahan aluminium yang berpotensi bergeser ke China.

Kondisi ini menjadi penting karena industri Barat selama bertahun-tahun berusaha mengurangi ketergantungannya terhadap produk aluminium China. Sejumlah negara bahkan telah mengenakan tarif antidumping terhadap berbagai produk turunannya.

Ada Celah dari Sistem Pajak China

Komposisi ekspor aluminium China juga dipengaruhi struktur perpajakannya.

Aluminium primer dikenai pajak ekspor 30%, sementara aluminium alloy dan produk setengah jadi dapat diekspor dengan tarif nol. Struktur tersebut membuat ekspor produk aluminium yang telah diproses menjadi jauh lebih menarik.

Beijing sebenarnya sebelumnya berupaya mengerem arus ekspor tersebut. Pada Desember 2024, China menghapus rabat pajak pertambahan nilai 13% untuk ekspor produk aluminium. Setelah kebijakan itu, ekspor produk setengah jadi turun 18% menjadi sekitar 890.000 ton pada 2025.

Namun, perang Iran kembali mengubah situasi. Ketika pasokan dari negara-negara Barat terganggu dan permintaan domestik China melemah, pasar ekspor kembali terbuka.

Permintaan aluminium domestik China nyaris tidak tumbuh pada paruh pertama 2026.

Menurut analis Citi, indeks permintaan berdasarkan sektor pengguna akhir bahkan turun 0,4% secara tahunan, terutama akibat lemahnya sektor konstruksi.

Di sisi lain, produksi aluminium primer China justru naik 2,2% pada periode yang sama, menurut International Aluminium Institute.

Kombinasi produksi tinggi, permintaan domestik yang lemah, dan kapasitas ekspor yang masih tersedia membuat China mampu menjadi penyangga bagi pasar aluminium global.

Harga Aluminium Ikut Mereda

Tambahan pasokan dari China turut membantu menenangkan pasar aluminium di London Metal Exchange (LME).

Harga aluminium tiga bulan yang sempat mencapai US$3.787,50 per ton atau sekitar Rp 67,51 juta (US$ 1=Rp 17.825) pada awal Juni 2026 turun menjadi sekitar US$3.270 per ton (Rp 58,29 juta). Level tersebut hanya sekitar US$100 lebih tinggi dibandingkan harga sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Artinya, pasokan yang lebih lancar mampu meredakan tekanan harga meskipun produksi aluminium di kawasan Teluk terganggu.




Harga aluminiumHarga aluminium Foto: Trading economic

Bantuan Jangka Pendek, Ketergantungan Jangka Panjang

Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul.

Semakin lama negara-negara Barat mengandalkan produk aluminium China untuk mengatasi kekurangan pasokan, semakin besar kemungkinan aktivitas pengolahan aluminium ikut bergeser ke China.

Dengan kata lain, China bukan hanya menjual lebih banyak aluminium, tetapi juga berpotensi menguasai porsi lebih besar dari proses yang mengubah aluminium mentah menjadi produk siap digunakan.

Bagi industri Barat, ketergantungan ini dapat menjadi persoalan baru ketika kondisi geopolitik kembali berubah.

Perang Iran mungkin menciptakan kebutuhan mendesak terhadap pasokan aluminium. Namun, solusi tercepat justru berpotensi memperkuat posisi negara yang selama ini ingin dikurangi ketergantungannya.

China membantu dunia mengatasi kekurangan aluminium hari ini. Namun, semakin lama bantuan itu dibutuhkan, semakin besar pula potensi ketergantungan yang harus dihadapi industri Barat di kemudian hari.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *