Jakarta, CNBC Indonesia – Gelombang panas ekstrem di Jepang telah mengubah cara petani bekerja, dari memajukan jam kerja hingga beraktivitas pada malam hari demi melindungi manusia, tanaman, dan ternak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pekerja, produktivitas pertanian, hingga pendapatan nasional.
Dengan mayoritas petani Jepang berusia lanjut dan suhu di atas 35 derajat Celsius semakin sering terjadi, kebutuhan akan teknologi pertanian, perlindungan tenaga kerja, serta pola kerja yang lebih adaptif menjadi semakin mendesak.
Pada akhirnya, para petani kini bukan hanya harus beradaptasi dengan musim, tetapi juga dengan panas ekstrem yang perlahan mengubah wajah pertanian.
Lama setelah matahari terbenam, rumah kaca milik Motoaki Iijima di utara Tokyo masih terang benderang bagaikan lentera. Petani bunga itu memanen gerbera merah muda dan oranye pada malam hari untuk menghindari terik matahari siang yang cukup ekstrem hingga dapat membahayakan nyawa.
Gelombang panas yang semakin intens membuat musim panas di Jepang menjadi tantangan untuk bertahan hidup. Para petani, mulai dari petani bunga dan asparagus hingga produsen telur, kini harus mengubah jam kerja mereka.
Jam-jam siang yang sebelumnya menjadi waktu sibuk kini dihindari karena panas ekstrem dapat mengancam nyawa. Sebagai gantinya, pekerjaan dilakukan setelah matahari terbenam untuk melindungi tanaman, ternak, dan keselamatan para petani itu sendiri.
Iijima, 36 tahun, mengubah lahan pertanian padi milik keluarganya yang telah diwariskan selama berabad-abad di kota Nikko menjadi perkebunan bunga sekitar satu dekade lalu.
Tiga musim panas lalu, seorang pekerja paruh waktu mengalami serangan panas (heatstroke) ketika memetik bunga matahari di rumah kacanya. Kejadian tersebut mendorong Iijima mengubah pola kerjanya secara drastis.
An employee at the Nikko Engei flower farm harvests asters during the early morning in Nikko, Tochigi Prefecture, Japan, August 9, 2026. REUTERS/Issei Kato SEARCH “KATO JAPAN FARMERS” FOR THIS STORY. SEARCH “WIDER IMAGE” FOR ALL STORIES. Foto: REUTERS/Issei Kato
|
Suhu di luar ruangan yang melampaui 35 derajat Celsius, kondisi yang semakin sering terjadi di wilayah tersebut, dapat membuat suhu di dalam rumah kaca menembus 40 derajat Celsius. Kini, Iijima bekerja sepanjang malam dan baru berhenti ketika matahari pagi kembali terasa menyengat.
“Waktu menjelang matahari terbenam sangatlah berharga. Saat itulah kami bisa berada di luar,” ujarnya kepada Reuters, sambil menyeka keringat di dahinya di bawah deretan lampu halogen. “Perlahan-lahan kami menjadi nokturnal. Ini tentang melindungi tubuh kami, dan pada akhirnya, nyawa kami.”
Mulai dari petani padi di Vietnam hingga pekerja kebun anggur di Spanyol, para petani di berbagai belahan dunia mulai menggeser jam kerja ke malam atau dini hari yang lebih sejuk untuk menghadapi gelombang panas yang semakin sering dan intens.
Data menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Jepang menghadapi risiko yang cukup tinggi. Sekitar 70% petaninya berusia 65 tahun ke atas, kelompok yang lebih rentan terhadap tekanan panas. Tingkat kelembapan yang tinggi juga semakin memperbesar risiko tersebut.
Dampak Panas Ekstrem terhadap Petani Lansia
Pada 2024, sebanyak 59 pekerja sektor pertanian di Jepang meninggal akibat panas ekstrem, angka tertinggi yang pernah tercatat dan lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021.
Survei dari Japan Weather Association tahun lalu menunjukkan sekitar 60% petani berusia 20-50-an tahun pernah mengalami heatstroke atau mengenal seseorang yang mengalaminya. Hampir 60% petani juga mulai menggeser jam kerja menjadi lebih pagi atau lebih sore.
Dampaknya juga terasa terhadap produktivitas. Sepanjang 2024, paparan panas membuat sektor pertanian Jepang kehilangan 926 juta jam kerja, yakni waktu ketika pekerja tidak dapat bekerja dengan aman di ladang, menurut Lancet Countdown, kolaborasi riset yang memantau dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
Petani Tadashi Sakamoto memanen ubi jalar di Kagoshima, Jepang, 14 September 2016. Abu vulkanik di areal merupakan ide untuk menanam sayuran menurut petani. Foto: Lars Nicolaysen/dpa | penggunaan di seluruh dunia. (File Foto – Lars Nicolaysen/picture alliance via Getty Images) Foto: Petani Tadashi Sakamoto memanen ubi jalar di Kagoshima, Jepang, 14 September 2016. Abu vulkanik di areal merupakan ide untuk menanam sayuran menurut petani. Foto: Lars Nicolaysen/dpa | penggunaan di seluruh dunia. (File Foto – picture alliance via Getty Image/picture alliance)
|
Jika dihitung di seluruh sektor, jam kerja yang hilang akibat panas hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata pada 1990-an. Kerugian pendapatan diperkirakan mencapai sekitar US$46 miliar atau sekitar Rp820,64 triliun (US$1 = Rp17.840). Ini setara 1% dari produk domestik bruto (PDB) Jepang.
Untuk beradaptasi, para pekerja di perkebunan Iijima kini memulai aktivitas hingga dua jam lebih awal. Salah satunya Miyoko Asada, pekerja berusia 68 tahun yang tiba di perkebunan tak lama setelah matahari terbit.
“Kami harus balapan dengan waktu,” ujarnya sambil bergegas memotong bunga aster ungu bersama delapan pekerja lainnya di hamparan ladang yang luas, sebelum suhu naik melewati batas aman.
Beberapa kota dari lokasi tersebut, peternak unggas Tetsuya Usuba menghadapi persoalan yang berbeda.
Rutinitas Tengah Malam Peternak Ayam
Enam musim panas lalu, Usuba kehilangan lebih dari 500 ayam petelur akibat serangan panas setelah suhu ekstrem melanda selama tiga hari berturut-turut. Pengalaman itu masih membekas. Ia dan ayahnya bahkan harus menggunakan alat angkut forklift yang dilengkapi bak besar untuk mengangkut ayam-ayam yang mati dari kandang.
Kini, Usuba memiliki rutinitas khusus setiap tengah malam. Lampu di dua kandangnya otomatis menyala pada pukul 02.30 pagi, membangunkan 4.400 ayam di dalam kandang agar mereka makan sebelum suhu panas menurunkan nafsu makan mereka.
Ia juga memasang kipas tambahan, menyemprotkan air ke atap kandang yang terbuat dari logam, serta menambahkan asam sitrat ke dalam air minum ayam. Namun, berbagai upaya itu belum sepenuhnya mampu mengatasi dampak panas ekstrem. Ketika suhu tiba-tiba melonjak hingga lebih dari 35 derajat Celsius bulan lalu, sebanyak 130 ayam mati.
“Musim panas kini menjadi ancaman baru bagi produsen seperti kami, sama menakutkannya dengan wabah flu burung,” kata Usuba, 48 tahun. Saat memeriksa ternaknya pada suatu sore, termometer menunjukkan suhu 33 derajat Celsius. Banyak ayam terlihat terengah-engah dengan paruh terbuka.
Pemerintah Jepang mulai mengambil langkah untuk mengatasi kondisi tersebut.
Aturan ketenagakerjaan baru yang diberlakukan pada 2025 mewajibkan perusahaan memiliki prosedur pelaporan kasus serangan panas dan rencana penanganan darurat. Jepang juga mendorong teknologi pertanian pintar (smart-farming), seperti penggunaan drone dan robot, untuk mengurangi paparan panas terhadap pekerja.
Namun, di perkebunan Iijima, adaptasi terhadap panas masih banyak mengandalkan tenaga manusia. Pada pagi hari, para pekerja bergegas memeriksa bunga yang telah dipanen untuk memastikan tidak ada daun yang layu sebelum memasukkannya ke truk. Waktu belum menunjukkan pukul 08.00 dan suhu pagi masih cukup nyaman.
“Lihat, daun-daunnya sudah mulai layu,” ujar salah seorang pekerja. Iijima berhenti sejenak dan menatap langit yang mendung. Tak lama lagi, panas akan kembali.
(Salma Laiqa/slm)


Leave a comment